Bukan Lagi Celoteh, Ace Sopian Serius Mencalonkan Bupati Karawang

KARAWANG, KarawangNews.com - Celoteh ingin jadi bupati Karawang sering dikatakan Ace Sopian Mustari pada saat dia menjabat anggota DPRD Karawang periode 2009-2014 lalu, dulu ungkapannya ini dianggap gurauan. Kini hal itu bukan lagi celoteh, tetapi keseriusan dia setelah mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati Karawang tahun 2020 di PDI-Perjuangan.

"Dalam politik tidak ada kata bercanda, terlepas tercapai atau tidaknya dalam pencalonan bupati, ini politik, sebab 'finishing' politik yaitu meraih kekuasaan," kata Ace, Selasa (10/9/2019) siang.

Diakuinya, sebagai kader PDI-Perjuangan dia merasa terpanggil untuk ikut berkompetisi menuju kursi bupati. Sebagai warga Karawang, dia pun punya motivasi ingin mengabdikan diri di tanah kelahirannya.

"Dulu saya tidak mencalonkan, sebab menunggu momen yang tepat, apalagi pada Pemilihan Bupati (Pilbup) tahun 2005 kita mengusung ketua partai jadi bupati, kemudian tahun 2010 pun mengusung non kader yang didukung partai sendiri jadi bupati," ungkapnya.

Pria kelahiran asal Kecamatan Pangkalan, Karawang 15 Februari 1973 ini punya misi membangun Karawang dari tiga aspek, yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Jika tiga hal ini fokus jadi perhatian pemerintahan, maka kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Karawang akan tercapai.

"Jadi ini yang paling mendasar kalau saya ada nasib jadi bupati, cukup menyusun tiga program itu saja yang paling penting, karena ketiganya saling berkaitan," jelasnya.

Ketiga faktor itu merupakan indikator daerah yang berpengaruh pada Indeks Prestasi Manusia (IPM), kemampuan daya beli masyarakat dan hidup sehat. Diakui Ace, pemerintahan sekarang cukup baik dari berbagai sektor, tiga hal itu telah dilaksanakan sejak pemerintahan sebelumnya.

"Jika ditakdirkan saya mendapat mandat dari masyarakat untuk jadi bupati, saya berupaya akan lebih baik lagi," tandasnya.

Diceritakan Ace, dia terpilih menjadi anggota DPRD tahun 2009 lalu merupakan kecelakaan politik, saat itu dia tercatat di nomor urut paling buncit, niatnya mengisi kuota suara yang akan diberikan ke nomor satu. Namun, tiga bulan sebelum hari pencoblosan, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan anggota dewan terpilih adalah yang paling banyak suaranya, bukan berdasar nomor urut.

"Punya suara terbanyak, akhirnya saya yang duduk di DPRD, padahal awalnya mau menyumbang suara untuk ketua partai di nomor urut 1," ungkapnya.

Namun, ketika mencoba mencalonkan diri sebagai anggota DPRD incumbent di tahun 2014, Ace Sopian tidak terpilih. Menurutnya, Pemilu di tahun 2014 politik uang begitu masif, sehingga dia kalah dana dan tidak lagi terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Karawang.

"Meski tidak di DPRD, masih aktif di politik, sambil usaha, termasuk menjadi konsultan politik di Cianjur," paparnya. (spn)

Advertisement
BERIKAN KOMENTAR ()