![]() |
| Di tempat kerja, Susi Indriani (34) saat dimintai keterangan oleh anggota TNI-Polri dari Koramil 0406/Cikampek dan Polsek Cikampek, Polres Karawang, Polda Jawa Barat di wilayah Kecamatan Tirtamulya, Karawang. (foto:Sky) |
KarawangNews.com – Di balik riuh kawasan industri Karawang, Jawa Barat, terselip kisah pilu seorang perempuan yang bertahan hidup dengan sisa-sisa harapan.
Susi Indriani (34), ibu hamil delapan bulan asal Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, menjalani hari-harinya sebagai pembantu rumah tangga di Karawang. Jauh dari sanak keluarga, tanpa sandaran hidup, ia berjuang menyambung hari demi hari dengan kondisi kehamilan yang kian menua.
Kisah Susi terungkap saat penelusuran media ini berdasarkan informasi warga terkait dugaan praktik penyaluran tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri secara ilegal. Lokasi tersebut diduga menjadi tempat penampungan sejumlah perempuan, termasuk ibu hamil.
Penelusuran dilakukan bersama aparatur desa setempat, Babinsa Desa dari Koramil 0406/Cikampek Sugondo, serta Bhabinkamtibmas Desa dari Polsek Cikampek Barja, di wilayah Kecamatan Tirtamulya, Minggu sore (1/2/2026).
Dengan perut yang semakin membesar, Susi tetap bekerja serabutan demi bertahan hidup. Ia mengaku terpaksa merantau setelah suaminya meninggal dunia, meninggalkan beban ekonomi yang harus ia pikul seorang diri.
"Suami saya sudah meninggal. Orang tua juga tidak mampu membantu. Ibu bekerja sebagai ART, bapak serabutan di parkiran," ucap Susi lirih.
Tanpa penghasilan tetap dan minim dukungan keluarga, Susi memilih mengadu nasib ke Karawang. Harapannya sederhana, bisa makan, memiliki tempat berteduh, dan selamat hingga proses persalinan tiba.
"Yang penting ada tempat tinggal sampai anak saya lahir," katanya sambil mengusap perutnya.
Saat ini, Susi telah bekerja sebagai pembantu rumah tangga selama sekitar tiga minggu dan tinggal sementara di lokasi tersebut. Ia menyebut persalinannya akan dilakukan di rumah sakit dengan biaya yang ditanggung oleh pihak yang mempekerjakannya.
"Saya tinggal di sini sampai melahirkan. Katanya nanti melahirkan di rumah sakit dan dibiayai," jelasnya.
Susi mengaku awalnya bertemu dengan seorang perempuan di tempat penyalur ART di Bekasi, sebelum akhirnya diajak bekerja ke Karawang sambil menunggu waktu melahirkan.
"Awalnya ketemu di tempat penyalur ART di Bekasi, lalu ikut kerja ke sini sambil nunggu lahiran," tuturnya.
Ia juga mengungkapkan saat ini tinggal bersama beberapa ibu hamil lainnya yang tidak terlalu dikenalnya. Terkait rencana bekerja ke luar negeri, Susi mengaku belum mengetahui kejelasannya.
"Saya tidak tahu ke depan bagaimana. Yang pasti sekarang ingin bekerja, menunggu persalinan, lalu pulang," ujarnya.
Kisah Susi menjadi potret nyata kerentanan perempuan, khususnya ibu hamil, di tengah himpitan ekonomi dan dugaan praktik penyaluran tenaga kerja ilegal yang kini tengah diselidiki Aparat Penegak Hukum (APH) Polres Karawang.
Di saat sebagian perempuan menanti kelahiran dengan penuh suka cita, Susi justru bergulat dengan ketidakpastian antara harapan, ketakutan, dan doa agar esok hari masih berpihak padanya. [Sky]




