![]() |
| H. Acam. |
KarawangNews.com – Keluarga almarhum Abah Onyo hingga kini masih menanti kejelasan kompensasi atas tanah milik mereka yang digunakan sebagai lokasi SDN Citarik III di Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Tanah tersebut telah dipakai sejak tahun 1971 tanpa adanya perjanjian tertulis dengan pemerintah.
Pihak keluarga menyebut, lahan seluas kurang lebih 346 meter persegi telah dibangun tiga ruang kelas, dengan satu ruang difungsikan sebagai ruang guru.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pembayaran atau kompensasi resmi dari pemerintah kepada pihak keluarga.
Hal ini disampaikan H. Acam (48), mengaku prihatin melihat kondisi sekolah yang saat ini menampung 146 siswa dengan delapan tenaga pendidik, namun masih jauh dari kata layak.
“Proses belajar mengajar dilakukan di lima ruang, terdiri dari empat ruang kelas untuk empat rombongan belajar dan satu ruang kantor. Sebagian bangunan berdiri di atas tanah warga, sebagian lainnya merupakan aset pemerintah daerah,” ujar Acam, Kamis siang (5/2/2026).
Ia mengungkapkan, kondisi fisik sekolah sangat memprihatinkan. Pagar sekolah masih berbahan bambu, halaman upacara berupa tanah merah, dan tidak tersedia fasilitas toilet baik untuk siswa maupun guru.
“Sekitar tiga ruang kelas dan satu bangunan tua masih berdiri di atas tanah milik warga. Bangunan itu merupakan peninggalan program Inpres sekitar tahun 1971,” katanya.
Ia menegaskan, hingga kini keluarga ahli waris belum pernah menerima kompensasi apa pun, meski tanah tersebut telah digunakan untuk fasilitas pendidikan selama lebih dari lima dekade.
Untuk sistem pembelajaran dibagi 2 waktu pengajaran. Jadwal pagi siswa kelas I belajar mulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, sementara jadwal siang, kelas II hingga kelas VI melanjutkan kegiatan belajar hingga pukul 12.00 WIB.
Menurutnya, selain persoalan kompensasi tanah, SDN Citarik III juga membutuhkan perhatian serius terkait sarana dan prasarana, agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman dan nyaman bagi peserta didik.
Sementara itu, kepala sekolah dan guru SDN Citarik III membenarkan kondisi tersebut. Namun, mereka enggan memberikan komentar lebih jauh terkait penggunaan sebagian lahan milik pribadi untuk aktivitas sekolah. [Sky]




