Media Sosial dan Toleransi

Opini
Oleh: Ujang Bey S.IP., M.IP. 
Alumni Pascasarjana Ilmu Politik UI

JIKA DULU ada ungkapan "mulutmu harimaumu", karena seringkali perselisihan berawal dari kalimat-kalimat tak elok yang terucap dari mulut, di jaman dunia media sosial (medsos) berkembang pesat seakan ungkapan tersebut berubah menjadi "jarimu harimaumu". 

Ibarat pabrik ketika memproduksi suatu produk, tentunya akan melewati proses quality control (QC) ketat guna menghasilkan barang berkualitas. Begitu halnya, media sosial membutuhkan nalar sehat dan sikap bijak ketika menggunakannya agar tidak terjerumus dalam lembah malapetaka. Seperti kejadian yang menimpa dua tokoh Karawang (Aking Saputra dan Hitler Nababan) baru-baru ini.

Akhir-akhir ini persinggungan diantara pengguna media sosial memang cukup tinggi, akibat keterbukaan arus informasi tak terkontrol dengan baik memunculkan informasi-informasi yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan (hoax). 

Ditambah tahun ini merupakan tahun politik, tak ayal baik itu politisi, aktivis sosial, pejabat publik, maupun masyarakat umum kerap terjerembab ke dalam dinamika informasi tidak sehat, bahkan dapat memantik munculnya isu-isu berbau Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA).

Secara kasuistik yang terjadi pada Aking Saputra dan Hitler Nababan hampir mengalami kemiripan, gejalanya sama cenderung mengarah kepada unsur berbau SARA. 

Sementara persoalan yang menimpa bangsa kita saat ini jika diperhatikan, sangat rentan terhadap politisasi SARA dan dampaknya seakan sudah menjalar ke daerah-daerah penjuru negeri. Jika kondisi semacam ini tidak dicermati dengan baik, bisa memunculkan kegaduhan-kegaduhan dan menyulut konflik horizontal.

Dalam sebuah gerakan politik, politisasi SARA merupakan gerakan manjur dan efektif dalam membangkitkan semangat ego golongan maupun kelompok, sehingga memancing rasa simpati yang kuat pada diri seseorang dalam kelompok atau golongan tertentu. 

Jika hal tersebut tidak dikontrol secara baik, akan menjadi bola liar menggelinding ke sana ke mari dan suatu saat bisa menyulut pertikaian atau konflik.

Setiap pihak maupun kelompok sudah seharusnya mampu menahan diri dan tidak mudah terprovokasi oleh hasutan-hasutan politisasi SARA yang begitu mudah menjalar di dunia medsos. Jika memang ada hal-hal yang menyinggung perasaan suatu golongan atau kelompok tertentu, alangkah baiknya diselesaikan lewat jalur mediasi (kekeluargaan) ataupun ranah hukum tanpa melakukan kekerasan.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan medsos, pertama, jadikan medsos sebagai wadah penguat toleransi dalam diri penggunanya. Di tengah kehidupan masyarakat kita yang heterogen terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, agama, dan golongan. 

Sudah sepatutnya, benih-benih toleransi disemai dengan baik karena dapat menghindarkan sikap provokatif diri terhadap suatu perbedaan pandangan. Apa lagi seorang pejabat publik atau publik figur harus bisa memberikan pendidikan politik yang baik bukan sebaliknya.

Kedua, medsos sebagai sarana tukar informasi positif. Seringkali pengguna medsos memberikan informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya (hoax). Informasi-informasi yang beredar terkadang berisi nada provokasi bahkan menyudutkan seseorang atau kelompok tertentu. 

Informasi semacam ini tidak memberikan efek positif melainkan negatif, menciptakan pertentangan atau sikap pro kontra diantara pengguna medsos yang mengarah pada terganggunya kondusifitas dan menuai gejolak dalam masyarakat. Tidak menutup kemungkinan dapat mengangkat konflik sosial ke permukaan, sehingga merugikan semuanya.

Ketiga, medsos bisa dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa. Hiruk pikuk berita-berita politik maupun sosial pada media sosial kerap menimbulkan interpretasi berbeda-beda pada pembacanya, apa lagi ditahun politik saat ini tidak heran memicu tanggapan-tanggapan warganet yang berbeda-beda bahkan menciptakan situasi publik seakan-akan terbelah karena beda pandangan atau dukungan. 

Jika tidak dicermati, situasi demikian dapat menciptakan fanatisme terhadap diri seseorang seakan-akan yang didukungnya merasa selalu benar. Kalau hal itu sudah terjadi dapat mengakibatkan ketegangan dalam dunia medsos, seolah garis retakan dalam bangsa ini sedang terukir dan mengancam persatuan bangsa.

Marilah di bulan Ramadan ini, kita sama-sama menjaga kekhusyuan ibadah puasa kita dengan saling menanamkan sikap saling menghormati satu sama lain demi terciptanya kerukunan dan Karawang yang damai. 

Selain itu, semoga pemerintah daerah Karawang berserta jajaran muspida mampu memberikan teladan positif terhadap warganya dengan menggunakan medsos dengan baik dan bijak. (**)

Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -