Monumen Leuit Seperti Kandang Burung

OPINI
Oleh: Asep R Sundapura
September 2017

PRIHATIN, heran, bingung. Begitulah perasaan yang saya dan mungkin ribuan warga Karawang lainnya rasakan manakala lewat bundaran Jalan Tuparev dekat perlintasan KA, dan menengok sekepal taman kota berhias sekotak bangunan aneh dari bambu yang konon bernama leuit. 

Saya pikir, tidak selayaknya ada hiasan seperti itu di pusat kota. Bangunan itu lebih menyerupai kandang burung. Jauh dari tataundagi Sunda. Lemah dalam menampilkan khazanah kebesaran Karawang sebagai kota lumbung padi.


Bicara soal pertanian Indonesia, kita tidak bisa mengabaikan Karawang. Sejarah dan khazanah agraris Negara Indonesia begitu kental dengan Karawang. Bukan hanya karena produksi pertaniannya serta luasnya lahan persawahan di Karawang yang membuatnya didaulat sebagai Kota Lumbung Padi, tapi juga karena dimensi historis agraris Karawang begitu kuat mewarnai sejarah bangsa.

Kita mundur sejenak pada masa ribuan tahun silam. Alkisah, kerajaan Tarumanagara berdiri di Karawang Utara. Peninggalan Wangsa Salankaya itu selain sejumlah prasasti, adalah kompleks peribadatan yang sekarang dikenal dengan sebutan Percandian Batujaya.  

Itu pelajaran sejarah yang bagus bagi kita karena selama puluhan tahun masyarakat Jawa Barat seolah mengalami kekososngan sejarah. 

Yang menarik, hasil penelitian menunjukkan bahwa Tarumanagara diprediksi memiliki kehidupan agraris yang kokoh dan maju. Prasasti Tarumanagara banyak menulis tentang pembuatan saluran air yang salah satu fungsinya adalah untuk pengairan persawahan. Dan tinggalan agraris Tarumanagara tersebut kemudian dibuktikan dengan penemuan materi sekam atau kulit padi hasil pembakaran dalam batu bata penyusun bangunan candi. 

Dengan jumlah candi sebanyak lima puluh lebih maka bisa dibayangkan besarnya suplay sekam untuk campuran pembuatan materialnya. Dengan demikian dapat dijatakan bahwa akar agraris dalam masyarakat Karawang terentang jauh sampai ke awal Masehi.

Pada kilasan sejarah di abad 16 kita juga mendapat informasi bagaimana Sultan Agung dari Mataram menjadikan Karawang sebagai salah satu pangkalan logistik dan kawasan pertanian. 

Istilah Nagara Agung yang disematkan Sultan Agung kepada Karawang sebagaimana tercantum dalam piagam pengangkatan wedana Singaperbangsa dan Wirasaba, adalah sebuah tata konsep perumusan Karawang menjadi daerah penyuplai logistik bagi Mataram. 

Ribuan orang dari Galuh dan Wirasaba ditambah lagi penduduk Mataram lainnya dikirim ke Karawang untuk membuat lahan pertanian.

Sedikit maju ke masa kolonial, kita menyaksikan pembangunan monumental bangsa Belanda berupa pembuatan bendungan raksasa di Walahar tahun 1915 - 1925 yang memiliki fungsi utama menyokong kebutuhan air pertanian di wilayah utara. 

Belanda tahu, potensi pertanian Karawang sangat tak terbatas. Oleh sebab itu mereka mengakselerasinya dengan membelokkan aliran sungai kuno Citarum.

Bergerak maju ke era paska kemerdekaan masyarakat Karawang juga diingatkan dengan gagasan Presiden Soekarno yang mendeklarasikan Karawang sebagai Lumbung Beras Nasional pada tahun 1960-an. 

Semua itu adalah keniscayaan sejarah bahwa Karawang tidak bisa dilepaskan dari kosmologi purbanya sebagai masyarakat agraris, meskipun sekarang pembangunan industri dan perekonomian berkembang sangat cepat.

Dalam sejarah ribuan tahun Karawang, salah satu kreasi budaya agrarisnya adalah lahirnya bangunan leuit atau lumbung. Bangunan ini banyak di jumpai di berbagai pelosok wilayah Jawa Barat, meskipun keberadaannya semakin langka dan ditinggalkan. 

Sebagai kota dengan sejarah agraris yang sangat kental, Karawang tidak bisa diputuskan dengan arsitektur leuit. Bisa dibilang, leuit adalah bangunan suci bagi masyarakat agraris Karawang. Oleh sebab itu setiap komponen dan bentuk bangunan leuit memiliki arti yang sangat dalam. 

Meskipun sekarang di Karawang leuit sudah kehilangan fungsi dan urgensinya, tetapi akar sejarahnya akan abadi melekat dengan Karawang. Terlebih lagi leuit(lumbung) kemudian menjadi slogan kota : Karawang Lumbung Padi. 

Leuit memiliki fungsi strategis dan teknis yang sangat berbobot : membangun ketahanan pangan masyarakat Karawang pada masa dulu. Keberadaannya bukan hanya sejadar bangunan biasa, tapi sebuah refleksi kosmologi strategis tentang hidup dan kehidupan. Banyak dimensi spiritual yang melekat pada keberadaan sebuah leuit.

Tapi apa yang kita saksikan di Taman Mungil pusat kota jelas mematik keprihatinan kita semua. Pemanfaatan taman tersebut dengan adanya hiasan seperti itu sangat mendegradasi marwah Karawang sebagai Kota Lumbung Padi. 

Ada akar sejarah yang terkoyak dengan tampilan leuit seperti itu. Keberadaannya juga seakan mengolok-olok tingkat selera estetika masyarakat Karawang karena bangunan tersebut sama sekali tidak ada nilai keindahan, kemegahan ataupun nilai edukasinya. 

Jika leuit itu ditempatkan di perempatan jalan kampung mungkin kita bisa mengerti. Tapi leuit itu malah bertengger di pusat kota, menohok langsung jantung aktifitas Karawang. 

Bayangkan, Karawang yang dikenal sebagai puseur seni budaya dan melahirkan banyak seniman bertalenta dengan hasil kreasi seni mengagumkan, ternyata tak kuasa mentransformasikan akar sejarah agungnya. 

Bila pemerintah daerah membiarkan terus keberadaan leuit tersebut dan menihilkan upaya mempercantik wajah kota sekaligus membangkitkan marwah historisnya, lalu  berlindung dibalik klausul pasal perjanjian dengan pihak swasta, maka hal itu hanya menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak punya visi mengenai estetika tata ruang. 

Kasihan, leuit itu begitu merana. (**)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -