Rengasdengklok, Ceritamu Kini

OPINI
Oleh: Ujang Bey S.IP., M.IP.
Alumni Pascasarjana Ilmu Politik UI
April 2017

BUNG HATTA dalam Mimbar Indonesia mengatakan "…….kalau ada satu tempat di Indonesia dimana betul-betul ada perampasan kekuasaan, tempat itu ialah Rengasdengklok". Pernyataan Bung Hatta tersebut tidak lepas dari peristiwa sejarah 16 Agustus 1945 atau lebih dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok. 

Dimana, sekelompok pemuda yang dimotori Soekarni dan PETA mengasingkan pendiri bangsa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, guna menghindari pengaruh-pengaruh yang berbau Jepang di tengah kekalahan Jepang atas sekutu. Sehingga, sampailah Bung Karno beserta Ibu Fatmawati dan Bung Hatta dirumah Djiauw Kie Siong (kini dikenal dengan Rumah Sejarah Rengasdengklok).

Peristiwa sejarah di atas memberikan arti tersendiri bagi Rengasdengklok sebagai salah satu daerah kecil di Karawang. Bahkan, mantan Wakil Presiden Umar Wirahadikusuma menyatakan, bahwa keputusan proklamasi yang dikumandangkan Dwitunggal Soekarno – Hatta atas nama Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta, khususnya di depan kediaman Soekarno waktu itu, bukanlah terjadi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Keputusan itu dan pertimbangan-pertimbangan serta perhitungan-perhitungan yang disertai dengan luapan semangat juang justru terjadi di desa kecil yang pada waktu itu tidak banyak dikenal khalayak ramai, yaitu Desa Rengasdengklok.

Cerita sejarah tersebut di atas, sangat mempopulerkan Rengasdengklok ketimbang Kabupaten Karawang itu sendiri. Maklum, hampir setiap siswa maupun mahasiswa ketika belajar sejarah tentang kemerdekaan Indonesia di sekolah atau kampus, akan dihadapkan dengan sejarah Rengasdengklok. 

Hal ini saya rasakan ketika, saya kuliah di Semarang maupun di Jakarta. Banyak teman-teman lintas daerah bertanya, "asalnya dari mana?" Ketika, saya menjawab "Karawang", mereka akan menimpali kembali dengan pertanyaan "di mana tuh Karawang?". Namun, berbeda ketika saya menjawab dengan "Rengasdengklok", merekapun menimpali dengan kalimat "ohh, itu tempat Soekarno – Hatta diculik ya".

Sekarang pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kondisi Rengasdengklok saat ini?. Di tengah popularitas Rengasdengklok sebagai salah satu tempat bersejarah, tumbuh rasa keprihatinan. Mungkin dalam benak masyarakat luar daerah akan berpikir, Rengasdengklok merupakan tempat yang maju dan penuh dengan cita rasa sejarah. 

Tenyata lain hal, apa yang dirasakan oleh sebagian orang yang pernah berkunjung ke Rengasdengklok, tidak sedikit diantara mereka akan 'mengernyitkan dahi' karena Rengasdengklok sebagai daerah bersejarah, berada diluar jangkauan ekspektasinya. Itulah, yang saya lihat ketika mengajak teman dari luar daerah berkunjung ke kampung halaman.

Keprihatinan masyarakat luas terhadap kondisi Rengasdengklok, ternyata tidak berbanding lurus dengan kesigapan Pemerintah Daerah Karawang dalam menjadikan Rengasdengklok sebagai daerah nyaman dan penuh cita rasa sejarah. Coba kita tengok, sebelum kita masuk menuju Tugu Kebulatan Tekad (Tugu Bojong) dan Rumah Sejarah Rengasdengklok. Jalanan yang rusak dan berlubang seakan siap menyambut tamu berkunjung, sekaligus sebagai pertanda pengunjung telah sampai gerbang Rengasdengklok. 

Sesampainya pengunjung di Tugu Kebulatan Tekad dan Monumen Rengasdengklok, akan disuguhkan oleh pemandangan gersang, semrawut, dan penuh sampah berserakan. Sebagai salah satu tempat hiburan rakyat, lapangan Monumen Rengasdengklok setiap akhir pekan kerap dipenuhi oleh PKL yang tidak tertata rapi. 

Menjelang sore tiba sampai malam hari, lokasi tersebut kerap di jadikan tempat muda-mudi 'mojok'. Fenomena sosial tersebut bisa memantik timbulnya masalah sosial baru dikalangan muda-mudi. Sebagai warisan sejarah bangsa, Rumah Sejarah Rengasdengklok kerap luput dari perhatian Pemda Karawang, hal ini ditunjukan oleh minimnya perhatian Pemda dalam menjaga warisan sejarah bangsa. 

Sudah seharusnya Pemda Karawang membebaskan lahan Rumah Sejarah Rengasdengklok, sehingga dalam pengelolaan dan perawatannya bisa dilakukan oleh Pemda Karawang. Karena sejauh ini, Rumah Sejarah Rengasdengklok masih ditinggali oleh anak cucu keturunan pemilik rumah yaitu Djiauw Kie Siong. Di butuhkan keseriusan dan komitmen Pemda Karawang untuk melakukan penataan dan mengintegrasikan kawasan Monumen Rengasdengklok dengan Rumah Sejarah, sehingga bisa menjadi perhatian nasional.

 Jika itu terlaksana dengan baik, tidak menutup kemungkinan Presiden Jokowi yang pernah melakukan kampanye di lokasi tersebut, memberikan perhatian khusus untuk melakukan napak tilas setiap HUT Kemerdekaan RI tiba. 
Rengasdengklok selain sebagai daerah sejarah juga daerah perdagangan, hal ini ditunjukan oleh keberadaan pasar Rengasdengklok sejak dulu. 

Dahulu, wilayah Kewedanan Rengasdengklok meliputi Kecamatan Rengasdengklok, Kecamatan Batujaya, dan Kecamatan Pedes. Tetapi, pada masa pemerintahan darurat Republik Indonesia, dalam musyawarah di Rawagede pada September 1949, menyepakati Rawamerta masuk Kawedanan Rengasdengklok. Dengan membawahi empat kecamatan yang ada, pasar Rengasdengklok sebagai pusat perdagangan melayani perdagangan masyarakat dari ujung Batujaya sampai ujung Rawamerta.

Sebagai pasar yang keberadaannya telah lama ada, kondisi pasar Rengasdengklok saat ini sangat memprihatinkan. Kondisi jalan yang hancur di sekitaran pasar kerap menciptakan genangan air ketika musim penghujan tiba, sampah-sampah yang menumpuk baunya menyengat hidung, dan para pedagang yang meluber hingga mendekati tengah jalan sering menciptakan kemacetan yang parah. 

Sudah empat musim Bupati Karawang berganti, rasanya belum ada perubahan signifikan terhadap pasar Rengasdengklok. Sampai mencapai titik nadir saat inipun, pasar Rengasdengklok belum tersentuh oleh Pemda Karawang, bahkan menyampaikan ide gagasan penertiban pasar saja jarang terdengar.

Rasanya Rengasdengklok tengah dihadapkan oleh beban nama besarnya sebagai cerita lokasi sejarah yang terkenal. Sementara kondisinya yang semrawut, kotor, dan tidak tertata, sedang membayang-bayanginya. jika hal ini dibiarkan terlalu lama, sampai puncak titik nadirnya. Reputasi nama besar Rengasdengklok akan tercemar hanya karena ketidakpedulian Pemda Karawang dalam melakukan penataan. Semoga tulisan ini bisa membukakan sense of crisis (rasa kepedulian) Pemimpin Karawang dalam mewujudkan komitmennya membangun Karawang. (**)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -