Olahraga Tradisional Tidak Boleh Mati

OPINI 
Oleh: Prihantika Novitasari 
Mahasiswa Ilmu Komunikasi President University 
Ditulis: 22 April 2017


TUMBUH KEMBANG generasi millenial 20 tahun mendatang masih menjadi pertanyaan, sekalipun banyak peneliti yang sedang memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Bagaimanapun juga, era digital semakin berlari kencang dan setiap generasi tidak dapat mengelak dari perubahan jaman ini. 

Perubahan jaman telah menggerus karakter bangsa dan generasi muda menjadi satu-satunya investasi agen kearifan lokal Indonesia. Menurunnya aktivitas olahraga tradisional di kalangan masyarakat menjadi contoh keprihatinan bangsa, jika saja orang mulai menyadari bahwa kecanggihan teknologi telah menggerus esensi hidup bersosial di masa kini. 

Budaya merupakan karakter bangsa yang wajib dipegang teguh oleh setiap warga Indonesia, sehingga konteks ini jelas bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Sebagai orang tua yang berada pada dua jaman, sepatutnya mulai berpikir kritis dalam mendidik anak-anak mereka dengan melibatkan budaya tradisional dalam kehidupan yang serba canggih ini. Pemerintah pusat pun sudah siap menjadi fasilitator untuk menggalakkan daerah-daerah sebagai agen kearifan lokal. 

Dalam hal ini, salah satu upaya pemerintah adalah mendirikan Formi (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia) yang mulai menghasilkan Komunitas Olahraga Tradisional (KOTI) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Adapun daerah yang sedang merintis komunitas olahraga tradisional ini adalah Kabupaten Karawang, dengan sebutan KOTI Karawang. 

Berdasarkan hasil wawancara kami dengan Syarif Nurdin selaku Humas KOTI Karawang, menyebutkan bahwa olahraga tradisional dapat menjadi alternatif para orang tua untuk membantu tumbuh kembang anak dengan peralatan yang sangat sederhana. 

Contohnya olahraga tradisional sumpitan yang sedang disosialisasikan oleh KOTI Karawang, olahraga sumpitan ini cukup menggunakan media bambu yang dilengkapi alat sederhana lainnya seperti kawat dan gabus. Ia pun menegaskan kembali bahwa dengan modal yang sedikit, manfaat yang didapatkan dari olahraga tradisional lebih banyak dibanding menghabiskan waktu berjam-jam dengan gadget. 

Merangkap sebagai guru olahraga di Sekolah Dasar, Nurdin merasakan olahraga tradisional sangat praktis dan membantunya dalam melatih kecerdasan motorik, kecerdasan emosional, sportifitas, kerjasama, sekaligus anak-anak belajar bersosialisasi tanpa gadget. Ia mengharapkan masyarakat juga mulai tergerak untuk berpartisipasi dan mengiramakan kembali olahraga tradisional di tengah arus era digital.

Mengajarkan budi pekerti melalui lisan saja nampaknya sudah tidak relevan dengan jaman modern, akhirnya melek teknologi juga sebaiknya dibarengi dengan melek budaya. Olahraga tradisional dapat menjadi instrumen orang tua untuk mengajarkan budi pekerti yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apapun itu. 

Membiarkan anak-anak berjam-jam di depan layar laptop bukanlah pola asuh yang seimbang bagi tumbuh kembang anak. Saatnya orang tua, guru, dan masyarakat dewasa menurunkan keseruan pengalaman masa kecilnya saat bermain hadang (istilah jawa: gobag sodor) bersama teman-teman sebaya, jangan sampai kenikmatan masa kanak-kanak itu berhenti digenerasi 90-an.  

Berdasarkan sebuah sumber artikel dari Merdeka.com disampaikan penelitian yang dilakukan oleh Profesor psikologi asal Universitas California, Patricia Greenfield, dengan sampel sekitar 100 siswa SD berumur 11 sampai 12 tahun diundang untuk mengikuti sebuah perkemahan. Selama di perkemahan mereka dilarang untuk menggunakan gadget. Tidak sedikit dari mereka yang merasa tidak nyaman di hari-hari pertama diterapkannya peraturan tersebut. 

Namun, perubahan positif mulai terlihat di hari kelima. Siswa-siswa yang sama sekali tidak bersentuhan dengan gadget dan alat elektronik lain mampu mengerjakan tes mengenali ekspresi wajah lebih baik dari mereka yang masih bersinggungan dengan gadget. 

Rata-rata mereka salah menebak ekspresi yang ditampilkan pada suatu gambar hingga 14 kali sebelum perkemahan. Jumlah kesalahan tersebut menurun menjadi 9 kali saja setelah perkemahan berakhir. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan anak-anak tidak bisa mempelajari perasaan dan ekspresi seseorang hanya dengan melihatnya dari sebuah layar gadget. Interaksi langsung sangat dibutuhkan agar anak tidak kehilangan kemampuan bersosialisasi yang sangat dibutuhkan ketika mereka beranjak dewasa.

Penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kondisi anak seperti semula adalah dengan menjauhkan mereka dari segala jenis gadget. Bahkan, laptop dan TV digital pun masuk dalam kriteria perangkat elektronik yang harus dijauhkan dari anak-anak. 

Pertanyaan terbesar adalah, apakah mungkin? Menyimpang dari harapan penelitian ini, narasumber kami Syarif Nurdin menyampaikan bahwa tidak mudah melawan era digital, sehingga upaya ditempuh adalah kolaborasi antara era jaman dulu (tradisional) dengan era jaman sekarang, khususnya dalam megedukasi olahraga tradisional ini. Ia menambahkan diperlukan langkah yang kreatif sehingga sosialisasi olah raga tradisional ini dapat mengikuti irama era informasi dan digitalisasi. (**)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -