Refleksi Kemerdekaan di Candi Batujaya

Opini
Oleh: Afifudin
Mahasiswa UIN SGD Bandung, Aktivis KEMPAKA Bandung Raya
Jumat, 19 Agustus 2016

Baru saja kita melewati momentum bersejarah bangsa Indonesia, hari kemrdekaan Indonesia yang ke-71, senyum ceria ditunjukan oleh seluruh lapisan masyarakat, memeriahkan HUT Indonesia identik dengan upacara dan kegiatan berbagai macam perlombaan, namun berbeda dengan masyarakat kebanyakan, sekumpulan pemuda/i menyambut HUT Indonesia dengan berdiskusi.

Adalah sekumpulan mahasiswa yang terikat dalam organisasi kemhasiswaan yang bersifat primodial (kedaerahan) Keluarga Mahasiswa Pelajar Karawang (KEMPAKA) Bandung Raya, Keluarga Mahasiswa Islam Karawang (KMIK) Jakarta, Himpunan Mahasiswa Karawang (HIMKA) Bandung, dan Ikatan Mahasiswa Karawang (IMAKA) mengadakan refleksi kemerdekaan dengan berdiskusi santai membicarakan sejarah dan kebudayaan situs bersejarah candi jiwa bersama juru pelihara sekaligus pemandu wisata percandian yanga ada di Batujaya, pak Kaisin atau yang lebih akrab disapa kong Kaisin (79).

Pria kelahiran 1937 silam tersebut merupakan satu dari 23 petugas lain, ia membeberkan ada 23 petugas di area percandian Batujaya ini, 11orang dari pusat termasuk dirinya, 4 orang dari provinsi dan 8 orang dari kabupaten. Dalam pemaparannya, kong Kaisin memaparkan berbicara sejarah percandian di Batujaya, tidak bisa lepas dari masyarakat kecamatan Cibuaya.

Pada tahun 1952, di daerah Cibuaya, ditemukan Arca wisnu ketika masyarakat Cibuaya sedang menggali sumur dan mencangkul, masyarakat pada waktu itu langsung melaporkan temuannya baik ke tingkat Desa, Kecamatan dan laporannya sampai ke tingkat kabupaten.

Pada tahun 1957 diketemukan lagi Arca wisnu masih di daerah Cibuaya, Arca yang merupakan kepunyaan asli Kabupaten karawang, nyatanya malah tidak ada di Karawang. Kenapa? karena Kabupaten Karawang tidak punya gedung penyelamatan atau yang biasa disebut museum.

Arca-arca tersebut  sementara dititipkan di museum pusat di Jakarta Kemudian, para ahli mulai tertarik untuk meneliti ke Cibuaya, dengan adanya temuan barang-barang bersejarah, mereka beranggapan bahwa tempat tersebut merupakan tempat yang bersejarah, pada tahun 1984 ada penelitian yang dilakukan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) Jakarta.

Ketika tim sedang meneliti gundukan-gundukan tanah yang ada di Cibuaya, ada salah satu masyarakat disana pada waktu itu yang memberitahukan kepada tim peneliti, menurutnya di daerah Batujaya terdapat banyak gundukan-gundukan seperti ini, para peneliti langsung meminta diantar ke daerah Batujaya.

Keesokan harinya tim peneliti melakukan survei ke Batujaya, selang waktu satu tahun, barulah dilakukan penelitian di Kecamatan Batujaya yaitu pada tahun 1985. Hasilnya, dari kisaran tahun 1985 s/d sekarang diketemukan 57 titik lokasi, baik yang besar atau yang kecil, namun tidak semuanya berupa Candi, ada juga sumur dan benda-benda bersejarah lain.

Tim peneliti mempunyai kesimpulan area percandian yang ada di Batujaya luasnya mencapai 5 kilometer persegi (KM) Hasil penelitian dari tahun 1985-1995 oleh tim peneliti ke Pemerintah pusat diajukan uji kelayakan, dalam artian mau diapakan temuan-temuan yang ada di kabupaten Karawang tersebut, apakah mau dibiarkan begitu saja, atau mau ditindak lanjuti?

Pemerintah mersepon positif apa yang diajukan oleh tim peneliti, maka pada tahun 1996 dilakukan pemugaran. Itupun belum 100% pemugaran, dari 57 titik lokasi yang ditemukan baru 4 lokasi yang dilakukan pemugaran, diantaranya Candi jiwa, Candi belandongan, Candi serut dan Pendopo sekaligus sumur. Papar kong Kaisin.

Kalau berbicara temuan, hingga saat ini begitu banyak barang yang ditemukan, seperti lempengan emas yang bertuliskan huruf Palawa berbahasa Sangsakerta, kerangka manusia yang diperkirakan lebih awal pemakaman daripada percandian, ditangan kerangka tersebut terdapat gelang emas yang 100% sudah lentur, disamping pinggul ada 4 senjata, setelah dilakukan pengecekan, diperkirakan benda-benda tersebut dibuat pada abad ke-2 M, dan masih banyak lagi, kalau dimuseumkan, kita butuh museum yang berukuran kira-kira ½ Hektar. Paparnya.

Ketika saya dan temen-temen mahasiswa lain menanyakan kepada mbah Marijannya percandian di Batujaya tersebut tentang harapan apah kedepannya agar percandian di Batujaya lebih baik lagi? Ia berharap situs percandian di Batujaya menjadi tempat wisata yang lebih baik lagi agar semakin ramai dikunjungi.

Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi, seperti kurangnya air bersih, MCK yang cukup jauh, belum adanya ruang tunggu untuk tempat berteduh ketika hujan dan penghijauan yang belum maksimal masih menjadi PR dan harus dijawab bersama, agar nantinya ketika wisata bersejarah ini ramai dikunjungi, sedikit banyaknya akan menambah pemasukan kepala rumah tangga disekitar candi, baik dari wisatawan sehari-hari maupun acara-acara besar tahunan seperti Waisak, jawabnya.

Naryono (KMIK) selaku koordinator acara ini menjelaskan acara ini bertujuan sebagai Refleksi sejarah dan kearifan lokal untuk peduli dan berperan aktif menjaga kebudayaan lokal yang ada di Kabupaten Karawang. Acara kemudian dilanjut dengan berjalan mengelilingi candi-candi, berfoto bersama dan memberikan sedikit hadiah kepada Kong Kaisin.

Acara ini juga diharapkan sebagai ajang silaturahmi antar organisasi daerah (Orda) mahasiswa agar lebih solid menjaga kebudayaan dan mengawal pembangunan di Kabupaten Karawang. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -