Menapaki Jejak Pangkal Perjuangan

Opini
Oleh: Jaelani Husni
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN SGD Bandung Asal Karawang
Selasa (23/8/2016)

EUFORIA DIRGAHAYU memang telah berlalu, namun di sebagian daerah di Indonesia masih saja terasa atmosfer perayaannya. Tentu hal ini dapat dimaklumi mengingat bagaimana perjuangan selama 350 tahun lebih terjajah akhirnya bisa berbuah kemerdekaan yang seutuhnya.

Bagi masyarakat Karawang sendiri, proklamasi kemerdekaan memiliki makna yang sangat mendalam. Peristiwa Rengasdengklok yang terjadi satu hari menjelang kemerdekaan tentu tidak bisa dilepaskan dari pertautan sejarah Bangsa Indonesia. Ia merupakan rangkaian proses lahirnya kemerdekaan bagi bumi pertiwi.

Andil besar itu tercatat kala sebagian kelompok pemuda revolusioner yang dipimpin Wikana cs berhasil mengamankan Bung Karno, Bung Hatta, Fatmawati dan Guntur ke suatu daerah yang relatif aman dari gangguan maupun intervensi penjajah Jepang. Dipilihlah Rengasdengklok, sebuah kota di Karawang bagian utara yang ternyata merupakan salah satu basis bagi Pembela Tanah Air (PETA).

Peristiwa Rengasdengklok

Dalam buku Sejarah Karawang, pada tanggal 15 agustus 1945 disebutkan bahwa desas-desus penyerahan Jepang kepada Sekutu telah diketahui oleh para pejuang bawah tanah seperti Wikana, Chair Saleh, Sukarni dan lain-lain (Nina Lubis, dkk, 2011: 193). Oleh karena itu, pada tanggal 16 agustus 1945, tepat pukul 03.00 wib, Bung Karno beserta rombong dibawa ke sebuah rumah milik seorang China bernama Djaw Kie Song.

Di sana, terjadi perdebatan alot antara kaum tua yang diwakili oleh Bung Karno sendiri dengan Ahmad Subardjo dari golongan muda yang keukeuh menginginkan proklamasi kemerdekaan harus segera dikumandangkan tanpa harus terikat oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang syarat akan buatan Jepang. Awalnya Bung Karno menolak keinginan itu karena belum begitu jelas kabar menyerahnya Jepang kepada Sekutu.

Selain itu, ia masih terikat sebagai ketua PPKI yang tidak boleh dikhianatinya. Akhirnya pembicaraan itu berakhir pada diputuskannya proklamasi kemerdekaan yang akan dibacakan keesokan harinya. Sejak saat itu pulalah, menjelang tengah malam pukul 22.00 wib, Bung Karno kembali berpulang ke Jakarta dengan dikawal ketat oleh para pejuang.

Terlepas dari keadaan apa yang sebenarnya terjadi, nyatanya Peristiwa Rengasdengklok menyadarkan kita bahwa kemauan untuk segera merdeka sudah begitu didamba oleh para pemuda pada waktu itu. Lalu, terbersitkah sebuah pertanyaan kepada kita bahwa andaikata tidak terjadi peristiwa tersebut, mungkinkah proklamasi kemerdekaan akan tetap dikumandangkan pada tanggal 17 agustus 1945?

Bagaimanapun, bukan bermaksud membesarkan hati oleh karena terjadinya Peristiwa Rengasdengklok. Namun, ia merupakan hukum dalam alur sejarah Bangsa Indonesia yang tidak boleh diingkari keberadaannya. Peristiwa yang terjadi cukup singkat itu ternyata mengubah peta politik yang ada. Bung Karno beserta tokoh lainnya menyatakan sikap untuk menentukan sendiri nasib bangsanya, yakni merdeka.

Maka dari itu, di Jl. Pegangsaan Timur, Jakarta, sehari setelah Peristiwa Rengasdengklok terjadi, Bung Karno dihadapan sebagian kecil masyarakat memproklamirkan butir-butir pesan kemerdekaan yang tertuang dalam teks proklamasi.
Sejak mengikrarkan diri sebagai negara bangsa, Rengasdengklok, dalam hal ini Kabupaten Karawang dijuluki Kota Pangkal Perjuangan. Sebuah kota yang tentu akan terus diingat dan dikenang dalam setiap pembelajaran sejarah dibangku sekolah manapun di Indonesia.

Bung Karno, para pemuda revolusioner yang tergabung dalam Peta dan tentu didalamnya terdiri dari para pejuang asal Karawang merupakan aktor sejarah dari peristiwa yang tidak boleh dilupakan jasanya.

Demi mewujudkan hal tersebut, peran Pemerintah Kabupaten Karawang yang mengemban amanat Pangkal Perjuangan adalah orang yang harus berada di garda paling depan dalam melestarikan dan menjaga sejarah Peristiwa Rengasdengklok. Ia harus terus mensosialisasikan dan membuka setiap lembaran sejarah yang membanggakan itu kepada generasi sekarang dan seterusnya.

Di tengah krisis akan sejarah dan identitas seperti sekarang ini, memberikan pendidikan sejarah baik secara formal dan non-formal terhadap Peristiwa Rengasdengklok dan julukan Pangkal Perjuangan kepada kaum muda Indonesia, khususnya generasi muda Karawang adalah tugas sekaligus kewajiban bagi pemerintah daerah bersangkutan sebagai wujud diimplementasikannya amanat bangsa, yakni membawa nama Indonesia setinggi-tingginya ditangan para pemuda pejuang yang selalu belajar pada sejarah bangsanya sendiri.

Bukankah dengan begitu turut pula telah direalisasikannya upaya melestarikan sejarah dan kearifan lokal sebagai salah satu jargon yang selalu diusung Pemerintah Kabupaten Karawang? (**)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -