Masih Ada Penjajah yang Menyamar

Opini
Oleh: Afifudin
Mahasiswa UIN SGD Bandung
Aktivis Keluarga Mahasiswa Pelajar Karawang (KEMPAKA) Bandung Raya

Tinggal menghitung hari rakyat Indonesia akan merayakan peringatan HUT bangsa Indonesia yang ke-71 dimana kita akan disuguhkan dengan pernak-pernik serba merah dan putih di hampir seluruh pelosok negeri, merupakan sesuatu yang sangat wajar untuk kita selaku anak bangsa untuk mengenang momen bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Momen dimana bangsa Indonesia lepas dari cengkraman penjajah dan pada tanggal 17 Agustus lah Indonesia yang dimotori Ir. Soekarno mendeklarasikan diri kepada seluruh dunia bahwa bangsa Indonesa sudah merdeka. Semua elemen masyarakat ikut gembira menyambut momen ini, para kaum yang lemah pun demikian atau dalam istilah Islam dikenal dengan sebutan kaum mustadh'afin.

Kalau kita lihat jauh kebelakang, konon pada tahun 1887 perbudakan pernah berlangsung di bumi nusantara. Di wilayah Sumatera Barat misalnya apabila raja wafat, maka 100 budak harus dibunuh agar di alam baka raja tersebut mempunyai pengiring, pelayan dan pekerja lainnnya.

Di Baree Toraja, Sulawesi Tengah, kepala suku memiliki budak yang digunakan untuk mengerjakan sawah dan ladang (Lihat: Dr. Agusmidah, S.H, Hukum Ketenagakerjaan, hlm. 18) kita juga masih ingat ketika kolonial Belanda dan Jepang mempekerjakan secara paksa (kerja rodi: red) menguras keringat kakek-nenek kita dulu, bedanya hanya sedikit, kemasan kerja rodi ditujukan untuk kepentingan umum, seperti pembangunan jalan, jembatan dan lain-lain, walaupun tetap yang menjadi korbannya para kaum mustadh'afin.

Maraknya perbudakan dikarenakan pada waktu itu hal tersebut memang mendapat legalisasi, sesuatu yang memang hanya menjadi catatan sejarah saja, karena hari ini seluruh dunia dan bangsa Indonesia dengan lantang meneriakan penghapusan sistem perbudakan. Apakah kita beruntung tidak hidup di zaman itu? Pada satu sisi iya, namun disisi lain tidak. Loh ko bisa?

Pada satu sisi kita beruntung karena kita bisa menikmati hasil jihad para pendahulu kita untuk mengusir para penjajah, tidak ada lagi perbudakan, tidak ada lagi kerja paksa dan kita bisa dengan bebas mengatakan bahwa bangsa ini sudah merdeka. Tapi apakah benar kita sudah benar-benar merdeka?

Saya kutip tulisan Farid Gaban yang menggambarkan seolah-olah ia sedang mengeluh kepada ibu Pertiwi "kenapa Bunda bersikap tidak adil? Kenapa Bunda persulit kami yang lahir jauh setelah tahun 1945? Benar mereka memang pembela bangsa, dengan hanya bersenjatakan bambu runcing, mereka serbu Belanda dan Jepang, mereka dengan gampangnya membedakan mana yang Bunda sukai dan mana yang Bunda musuhi." (Lihat: Farid Gaban, Belajar Tidak Bicara, hlm. 36)

Sepertinya kegelisahan Farid Gaban dirasakan juga oleh saya, dan kita semua mungkin, kita yang lahir jauh setelah tahun 1945 dan merasa bangsa ini belum sepenuhnya merdeka merasa sangat sulit menentukan mana musuh yang masih mencengkram bangsa ini dan kepada siapa bambu runcing ini kita pamerkan kesaktiannya, apakah mesti kita tancapkan tajamnya bambu runcing ini kepada orang asing yang berkebangsaan Belanda ketika berlibur ke Indonesia?

Saya rasa tidak mungkin, yang ada saya akan terjerat Hukum Hak Asasi Manusia yang dibuat PBB untuk melindungi segenap bangsa, walaupun toh mereka pula yang melanggarnya.

Lalu kalaupun memang tidak ada musuh yang menjajah, berarti kita sudah benar-benar merdeka? Tapi mengapa masih banyak anak bangsa yang masih sulit mencari kerja dan sulit mencari sesuap nasi di negeri yang katanya terkenal dengan kesuburan alamnya yang kaya raya? Siapa yang merasakan bangsa ini belum benar-benar merdeka? Lagi-lagi kaum mustadh'afin.

Para wakil rakyat rupanya mencoba menjawab itu semua, kata mereka tantangan kebangsaan dikelompokan menjadi dua, Internal dan Eksternal (Lihat: TAP MPR No. VI Tahun 2001) Internal: masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama serta meunculnya pemahaman ajaran yang keliru dan sempit,  fanatisme kedaerahan.

Kurangnya pemahaman terhadap nilai kebinekaan. Kurangnya keteladanan pemimpin dan tidak berjalannya penegak hukum secara optimal. Sedangkan tantangan eksternalnya, pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin meluas dan persaigan antar bangsa yang semakin tajam dan kapitalisme yang semakin kuat dalam menekan kebijakan nasional.

Pemahaman tantangan kebangsaan yang para wakil rakyat kita utarakan tersebut rasanya belum bisa menjadi ibarat kunci untuk membuka pintu permasalahan yang kita hadapi saat ini. Kenapa? karena umur kemerdekaan yang sudah ke-71 ini rasanya bukan waktu yang sebentar, pertanyaan baru muncul, tidak adakah yang berani memegang kunci dan membuka pintu tersebut?

Peringatan HUT bangsa Indonesia kerap kali diisi oleh perlombaan-perlombaan yang menghibur masyarakat, sikap bahu membahu menjadi kunci untuk menjadi pemenang perlombaan dan mendapat hadiah yang sudah disediakan.

Merdeka ibarat hadiah bagi mereka yang mau bahu membahu saling membantu untuk menang, di dalam Fiqh kita kenal konsep Saad adz-dzari'ah, seperti kata al-Qarafi, sadd adz-dzari'ah adalah memotong jalan kerusakan (mafsadah) sebagai cara untuk menghindari kerusakan tersebut.

Meski suatu perbuatan bebas dari unsur kerusakan (mafsadah), namun  jika perbuatan itu merupakan jalan atau sarana terjadi suatu kerusakan(mafsadah), maka kita harus mencegah perbuatan tersebut.

Menutup jalan yang menyebabkan bangsa ini seolah-olah dijajah kembali merupakan sebuah keharusan, menyambut hari kemerdekaan boleh dengan hanya memeriahkan dan mengadakan perlombaan, tetapi menyambut hari kemerdekaan akan lebih berarti lagi apabila dibarengi dengan sikap patriot menutup lubang-lubang (Saad adz-dzari'ah ) yang berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangsa ini.

Penjajah hari ini tidak terlihat secara dzahir, akan tetapi samar-samar. Oleh karenanya kita harus jernih menentukan apa dan siapa musuh kita sebenarnya dan mungkin sudah saatnya kita menyambut HUT bangsa ini dengan semangat patriot melawan penjajah yang menyamar sebagai wakil rakyat, penjajah yang menyamar sebagai penegak hukum, penjajah yang menyamar sebagai publik figur yang memberitakan berita-berita bohong yang memecah belah masyarakat.

Dan yang terpenting kita harus siap melawan kebodohan dan kemiskinan, karena yang paling berbahaya bagi saya adalah dimiskinkan dan dibodohi oleh bangsa sendiri yang membuat kita dilemahkan dan terus-terusan menjadi kaum yang lemah (mustadh'afin).

Memperjuangkan bangsa Indonesia seperti ungkapan yang sering kita dengar adalah penting tetapi sulit, walaupun sulit tetapi perlu. Akhirnya saya akhiri dengan ucapkan selamat HUT bangsa Indonesia yang ke-71 semoga Indonesia selalu jaya, merdeka !
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -