Drama Realis Sunda, Durjana, Dipadati 1.500 Penonton

KARAWANG, KarawangNews.com - Komunitas Seniman Muda (Kosim) Karawang secara memikat sukses memainkan drama realis 'Durjana' karya Abah Sarjang, saduran dari 'Malam Jahanam' karya Motinggo Busye. Drama satu babak berbahasa Sunda pesisir ini dimainkan secara apik oleh tujuh aktor dari berbagai kalangan. Pertunjukan dilakukan dua kali di hotel Swiss Belinn, Sabtu (20/6/2016) pukul 15.00 WIB dan pukul 19.00 WIB.

Sutradara pertunjukan, Dicky Purnama Gumelar menuturkan, pentas drama Durjana ditonton oleh 1.500 orang. Suatu pencapaian yang luar biasa di dunia teater Karawang. Garapan Durjana memakan waktu sampai tiga bulan. Proses itu dimulai dari casting aktor, analisa naskah, bedah artistik, penggarapan musik dan pemanggungan.

Kata dia, naskah ini digarao dengan para pemain potensial dari bebagai kalangan, mulai dari pengusaha, dosen, mahasiswa, wartawan dan pelajar. Diakuinya, tidak ada kesulitan dalam proses ini, karena semua tim dari mulai aktor, artistik, dan musik adalah warga asli Karawang.

"Aktor juga cepat menyerap naskah, karena memang naskah ini dekat dengan keseharian mereka di Karawang," tambah Dicky.

Pentas Durjana dibuka dengan apik oleh musik tarling khas masyarakat pesisir. Derry, penata musik dalam pertunjukan ini, membawa tabuhan-tabuhan khas Topeng Banjet Daya Asmara di bagian opening.

Meski bermain di dimensi realis, musik pada bagian opening mengajak penonton untuk bergoyang dan saweran. Dicky seolah sengaja mengundang interaksi penonton demi menghadirkan efek tarlingan.

Penata panggung dan artistik, Jak Harris Bonandar membuat dua rumah yang berhadap-hadapan. Rumah sebelah kiri, diisi seorang bujangan bernama Leman, dimainkan oleh Mansyur Srisudarso, Dosen di FKIP Unsika. Rumah sebelah kanan, ditempati oleh pasangan suami istri. 

Mat Kontan, yang dimainkan oleh seorang Ebed Sahroni, seorang pengusaha dan Ijah, yang dimainkan oleh Imas Masitoh, pelajar di SMAN 1 Karawang.

Utay, yang diperankan oleh Faizol Yuhri, wartawan di salah satu media lokal Karawang, mengembalikan penonton ke dimensi realis, saat ia masuk ke dalam panggung dari bangku penonton.
banyak penyesuaian-penyesuaian dalam naskah saduran ini. Dicky menyerahkan peran tukang urut ke Sri, siswi SMKN 2 Karawang. Peran tukang urut dalam naskah aslinya, adalah seorang tuna netra. Namun, peran tukang urut yang dibawakan Sri tidak tuna netra.

Ditambahkan Dicky, dua peran masing-masing diisi oleh Faisal Ahmad, mahasiswa Unsika yang memerankan teman Leman 1 dan Dhita Fatmawati, mahasiswi Unsika yang memerankan teman Leman 2. Secara keseluruhan, pementasan drama Durjana patut diacungi jempol.

Selain sebagai pementasan teater pertama dan satu-satunya yang dilakukan di hotel, drama Durjana juga patut dipuji karena menawarkan sesuatu yang baru dalam teater. Selama ini memang, kata Dicky, naskah Malam Jahanam adalah salah satu favorit dan sering dibawakan oleh banyak kelompok teater di Indonesia.

Konsekuensi sebagai naskah favorit adalah, kelompok teater harus menawarkan kebaruan dalam naskah ini, sehingga garapannya tidak sama dengan kelompok teater lain. Pertunjukan ini berhasil melakukan itu, Abah Sarjang dan Dicky berhasil membawa lokalitas khas masyarakat pesisir Karawang, beserta gimmick-gimmick mereka ke atas panggung.

Dicky berpesan agar ke depan, pementasan yang digarap Kosim bisa lebih baik lagi. Ia juga berharap agar pimpinan Karawang, dalam hal ini Cellica dan Jimmy, dapat segera merespon atas peristiwa pengembangan seni budaya Karawang saat ini. (rls)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -