80 Persen Sungai di Jawa Barat Rusak

KARAWANG, KarawangNews.com - Sebanyak 300 orang aktivis lingkungan se-Jawa Barat satu kan visi dan misi bahas permasalahan dan solusi untuk perbaikan lingkungan hidup dan sungai dalam sebuah Kongres Sungai ke-1 Jawa Barat.

Kongres yang berjalan selama dua hari sejak tanggal 6  hingga 7 Agustus 2016 tersebut menghasilkan Maklumat Revolusi Sungai Jawa Barat yang berisi lima poin. Maklumat tersebut pun ditanda tangani oleh perwakilan aktivis di lima sungai diantaranya perwakilan aktivis di sungai Citarum, Cisadane, Ciliwung, Citanduy dan Cimanuk-Cisanggarung.

"Kongres sungai ini merupakan upaya dari orang-orang yang peduli dengan peradaban melalui persatuan pergerakan, memetakan masalah dan mencarikan solusi dalam memperbaiki permasalahan di sungainya," ungkap Ketua Pelaksana Kongres Sungai Jawa Barat, Hendro Wibowo kepada wartawan, di sela acara, Sabtu (6/8/2016).

Ada pun isi maklumat tersebut diantaranya pengelolaan sungai berbasis adat istiadat dan budaya setempat. Selain itu,  pengelolaan sungai harus berbasis karakteristik, geografis dan ekosistem yang disesuai dengan keadaan masyarakat.

Selanjutnya adalah pengelolaan sumber daya air harus dilakukan melalui lembaga nasional yang mempunyai otoritas secara terpadu, sistematis dan berkelanjutan.

Dalam maklumat juga disebutkan bahwa dalam pengelolaan sumber daya air harus berfdasarkan nasionalisme dan kemandirian bangsa. Juga penegakan hukum lingkungan harus dilakukan secara tegas, lugas dan berkeadilan.

Hendro menyebutkan 80 persen sungai di Jawa Barat saat ini telah rusak. Dimana kerusakan tersebut hampir 80 persen diakibatkan oleh manusia dan 20 persen karena alam.

"Tanggung jawab untuk melakukan perbaikan terhadap sungai bukan hanya perusahaan atau pemerintah, akan tetapi komunitas. Akan tetapi, pergerakan masyarakat atau komunitas ini pun harus dipengaruhi dengan kebijakan dan tindakan yang nyata, " ujarnya.

Hendro menganggap sejauh ini banyaknya lembaga di pemerintahan yang mengurusi sungai sering terjadi tumpang tindih kebijakan dan tidak terjadi kesepahaman gotong royong antar lembaga untuk mewujudkan lingkungan yang baik.

Menurut dia, urusan sungai bukan hanya berbicara pada badan sungainya saja, melainkan berbicara dari kualitasnya, daerah resapanya dan budaya masyarakatnya.

"Bahkan pengrusakan sungai bukan hanya pada pencemarannya, melainkan pembabatan hutan dan pertambangan liar," ucapnya.

Sementara itu Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar mengakui lemahnya koordinasi antar lembaga yang mengurusi sungai.

"Jadi memang penting koordinasi antar lembaga, ini yang menjadi masalah kita selama ini, kita selalu lemah berkoordinasi. Masing - masing instansi yang sifatnya vertikal tidak berkoordinasi dengan baik. Mereka harus bekerja sama untuk memperbaiki sungai," ungkapnya.

Deddy juga berharap dalam kongres sungai Jawa Barat, persatuan gotong royong antar komunitas mampu menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah untuk mewujudkan masyarakat cinta sungai.

Selain menghasilkan maklumat revolusi sungai Jawa Barat, dalam kongres sungai pun dibentuk koalisi melawan tambang. (ck)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -