Bencana, Teguran Tuhan Untuk Manusia

Warga Menulis
Penulis: Reza Fauzi Nazar
Mahasiswa UIN Bandung Fakultas Syariah Hukum
Aktifis PMII Kota Bandung dan Kempaka Bandung Raya
Minggu (31/7/2016)

Semua orang dibuat kaget. Apa yang terjadi? Ada hal mendadak datang tak diundang. Mereka berlarian, menyelamatkan diri, menyelamatkan sanak saudara, buruknya, mereka hanya ingat harta kepunyaannya saja. Di dunia ini, hal yang mengganggu ketentraman orang-orang selain pemimpin yang korup adalah bencana. Tak seorang—pun mampu menerawangnya.

Sekaliber Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) ternyata masih saja sulit mengatasi yang kata orang disebut murka Tuhan. Memang, tugas mereka bukan menanggulangi tapi melihat dan memperhatikan keadaan alam.

"Taklukkanlah Bumi dan Berkuasalah". Itulah pesan dalam Kitab Kejadian 1:28. Pesan Tuhan ini memberi izin kepada Adam dan Hawa berbuat semaunya dengan bumi. Padahal, bencana alam sering dikaitkan dengan murka Tuhan. Murka Tuhan atas perbuatan manusia yang semena-mena dalam mengelola alam. 

Tapi, dari cerita Al-Kitab tentang penciptaan ini—lah para teolog kristiani memandang, cerita-cerita ini yang membuat kemajuan ilmu dan teknologi. Hal itu memang baik, tapi, dampaknya, lingkungan hancur oleh manusia yang merasa kedudukannya jauh ada di atas alam. Lalu datanglah bencana karena krisis lingkungan.

Bagi Arnold Toynbee, krisis lingkungan hidup disebabkan oleh agama-agama monoteis yang telah menghilangkan rasa hormat terhadap alam yang ilahi, sehingga tak ada lagi yang dapat menahan ketamakan manusia. Maka, menurutnya, krisis itu hanya dapat diobati dengan berbalik kembali dari pandangan monoteis ke panteis yang lebih tua dan pernah juga lebih universal.

Bagi Toynbee, krisis lingkungan tak dapat diatasi tanpa perubahan pandangan hidup. Krisis yang berakar dalam pandangan kristen tentang manusia dengan alam. Begitu—pun Islam, yang merupakan agama monoteis selain Kristen dan Yahudi.

Masalah bencana takkan bisa lepas dari pengaruh lingkungan—mau tidak mau—masalah ini merupakan milik kita bersama. Baik lokal, maupun global. Baik kristiani, yahudi, hindu, budha, Islam. Apapun itu. Karawang, tengah mengalami bencana. Abrasi yang terjadi di daerah pesisir pantai.

Terlepas dari penafsiran ayat dari Al-Kitab di atas. Hal ini, hanya membuka cakrawala kita, bahwa dari kalangan kristiani—pun ada yang memandang bahwa disaster (bencana), tak semena-mena dari Tuhan, hal itu terjadi karena adanya krisis lingkungan di Bumi yang sudah tua ini. Yang menurut mereka, itu terambil dari ajaran Al-Kitab sendiri.

Dikalangan Islam, tidak ada ajaran yang mengisyaratkan eksploitasi, namun, ada kelompok yang memandang bahwa itu memang kehendak Tuhan. Pandangan ini disebut determinisme. Sulitnya, ketika orang-orang memandang ini hanya—lah cobaan Tuhan, kehendak Tuhan. Kelak, bencana tidak disadari sebagai ulah tangan manusia, dan mencoba merubah perilaku mereka terhadap alam.

Perkembangan manusia, yang dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat sudah masuk tahap antropsentrisme harus kembali pada tahap holistik. Memandang semua yang ada, termasuk alam, manusia dan Tuhan adalah satu kesatuan.

Malapetaka lingkungan, disebabkan oleh manusia berilmu dan berteknologi yang menempatkan diri manusia sebagai pusat dunia. Dan sebagai tujuan segalanya; inilah antroposentrisme modern. Padahal, menurut Eugene P. Odum, manusia hakikatnya merupakan makhluk lingkungan (homo ecologius).


Jadi, tugas kita hanya merubah pandangan hidup, bahwa bencana selain merupakan cobaan dari Tuhan, juga merupakan teguran bagi manusia. Perilaku yang semena-mena mengelola alam, bahkan teguran bagi para pemimpin yang belum bisa amanah. Budaya khas Nusantara, yang teresap dari ajaran panteisme harus tetap dilestarikan. Hal ini seperti pandangan Toynbee, hanya dalam segi penghormatan kepada alam.

Akhirnya, potensi manusia sebagai khalifah di bumi tergantung kepada manusia masing-masing. Seperti dikatakan dalam Al-Qur'an (2:20), manusia memiliki potensi merusak, tapi ketika keimanan kita kuat dan mengamini adanya hubungan transenden antara Tuhan dan Alam, niscaya bencana tidak datang.

 Memang, alam dan lingkungan tercipta untuk dapat didayagunakan mausia, namun lingkungan bukan mutlak manusia. (**)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -