Mengantisipasi Ganasnya Sungai Citarum di Kecamatan Batujaya

Warga mengarug tanggul Citarum, antisipasi air sungai ini meluap.
Warga Menulis
Oleh: Afifudin
Mahasiswa Jurusan Hukum Pidana Islam UIN SGD Bandung
Aktivis Organisasi daerah Keluarga Mahasiswa Pelajar Karawang (KEMPAKA)
Ditulis: Minggu (24/4/2016)

SUNGAI CITARUM yang sarat akan sejarah di Jawa Barat, sudah sangat akrab di telinga kita umumnya untuk masyarakat Jawa Barat. Citarum berasal dari dua kata Ci dan Tarum, Ci yang dalam bahasa Sunda Cai yaitu air, dan Tarum adalah sejenis tanaman yang berwarna ungu. Dalam sejarahnya Sungai Citarum mempunyai peranan penting dalam memenuhi kebutuhan air untuk masyarakat Jawa Barat, tak terkecuali di ujung utara Karawang.

Namun pada masa kini, peranan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat ini bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari masyarakat Jawa Barat, karena dalam kenyataannya hasil penelitiian pada tahun 2007 menyimpulkan Sungai Citarum adalah Sungai dengan ketercematran tertinggi di dunia.

Semua ini merupakan akibat dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dari masyarakat yang menjadikan sungai ini menjadi opsi tempat pembuangan sampah rumahan, sampai limbah yang dibuang dari pabrik-pabrik yang berdiri di sekitar Sungai Citarum.

Belum ada solusi yang tepat dari pemerintah mengenai permasalahan pencemaran air Sungai Citarum, permasalahan lain kini muncul, yaitu kekhawatiran jebolnya tanggul penahan aliran air Sungai Citarum yang sering dialami masyarakat Karawang Utara, seperti yang terjadi di Kecamatan Batujaya.

Pernah mengalami beberapa kali bencana alam jebolnya tanggul Sungai Citarum seperti pada tahun 2009 dan tahun 2013, membuat masyarakat Kecamatan Batujaya selalu diliputi rasa cemas dan kekhawatiran setiap kali debit air di Sungai Citarum naik, pada hari ini 24 April 2016, air Sungai Citarum masih tinggi dan belum terlihat adanya penurunan.

Apabila debit air terus meninggi yang tinggal sekitar satu setengah meter lagi sampai kepada puncak tanggul, ini dikhawatirkan akan mengakibatkan tanggul penahan akan jebol karena tidak kuat menahan tingginya air.

Seperti  yang dialami masyarakat desa Teluk bango kecamatan Batujaya, tanggul di desa ini sudah mulai terlihat adanya sedikit keretakan, yang menyebabkan air disekitar tanggul 'rembes' membasahi perumahan warga sekitar.

Masyarakat yang cemas melihat keadaan ini langsung berinisiatif menutup tanggul yang jebol dengan karung-karung yang diisi tanah yang diambil tidak jauh dari sekitar tanggul.
Masyarakat sekitar Desa Teluk bango berharap adanya respon cepat dari pemerintah, karena dengan menutup retakan tanggul dengan karung yang diisi tanah saja belum cukup apabila turun hujan atau air dari Waduk Jatiluhur terus dibuka.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Karawang segera berkoordinasi dengan pihak yang yang mengelola Waduk Jatiluhur, untuk mengurangi debit air yang dibuka dan mengarah ke utara Karawang, karena khawatir akan terjadi jebolnya tanggul penahan.

Mengingat, masa panen di daerah utara Karawang hanya tinggal menghitung hari, yakni sekitar 20 hari kedepan masyarakat di utara Karawang khususnya di kecamatan Batujaya para petani akan memanen padi miliknya.

Apabila terjadi lagi bencana jebolnya tanggul Citarum, para Petani akan sangat dirugikan karena khawatir gagal panen. Semoga saja tidak terjadi bencana alam yang terjadi akibat jebolnya tanggul Citarum khususnya di sekitar Kecamatan Batujaya dan umumnya di Jawa Barat. (**)
Bagikan berita ini :
Comments
1 Comments

+ komentar + 1 komentar

7 Mei 2016 17.04

citarum memang ganas

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -