Kearifan Lokal Hanya Sebatas Slogan

Warga Menulis
Oleh: Enda
Mahasiswa Sosiologi, Universitas Islam Negeri SGD Bandung
Ditulis: Rabu (27/4/2016)

PESATNYA perkembangan zaman di era modernisasi secara perlahan telah mempengaruhi aspek sosial dan budaya yang bersifat kedaerahan, hal ini terjadi di Karawang. Akar budaya yang telah tumbuh dari zaman nenek moyang kini hanya tinggal kenangan semata, wacana yang diucapkan oleh pemangku kebijakan Kabupaten Karawang hanya slogan tanpa tindakan.

Dalih ingin mengembangkan kearifan lokal, hingga kini minim tindakan nyata. Secara kedaerahan, Kabupaten Karawang mempunyai potensi dari berbagai aspek, tidak hanya dijuluki sebagai "lumbung padi nasional", Karawang juga tercatat dalam tinta sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan masuk dalam sejarah kerajaan Tarumanegara.

Pengembangan kearifan lokal sering kali berbenturan dengan kebijakan pemerintah, kebijakan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi banyak mengabaikan kearifan lokal. Menagih janji Cellica ketika masih menjabat sebagai Plt Bupati yang membuat baliho dengan slogan kearifan lokal hingga kini tanpa ada tindakan efektif ketika dihadapkan pada kearifan lokal.

Upaya yang tak kunjung selesai dalam melestarikan kearifan lokal menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat karawang. Pesatnya pembangunan Industri dan perumahan tidak dibarengi dengan kepedulian pemerintah untuk mengembangkan potensi kedaerahan.

Pesatnya pembangunan fisik telah menggesar aspek kehidupan sosial dan budaya setemapat. Pekerjaan rumah bagi elit yang berkuasa di lumbung padi untuk mengembangkan kembali kearifan lokal yang selama ini menjadi slogan besar yang tak kunjung selesai. Dengan konsep interasih (indah tertib aman bersih) yang menjadi tujuan kota karawang harus memberikan konsepan kabupaten yang sinergi antara pusat pengembangan kota dan pusat pengembangan kearifan lokal.

Karawang kini menjadi kabupaten dalam kategori modern, letak yang strategis dengan ibu kota menjadikan karawang sebagai pusat pengembangan industri dan jasa bagi para investor. Pembangunan fisik kini menjadi daya tarik kota, orang luar daerah karawang akan berbodong-bondong datang untuk mencari pekerjaan dan bertempat tinggal di lumbung.

Semakin banyaknya pedatang, pengaruh terhadap nilai-nilai sosial-budaya lokal mulai terasingkan, daya saing kota pun semakin tinggi terutama untuk masyarakat pribumi. Budaya konsumtif dan perilaku pragmatis pun mulai merangsek masuk dalam pola pikir masyarakat karawang hari ini. Budaya gotong royong yang menjadi cerminan masyarakat tradisional di kabupaten karawang, kini terasingkan oleh modernisasi.

Sistem agraris kini berubah menjadi budaya kapitalis (pemilik modal), ada teknologi baru yang masuk dalam pertanian, ketika panen raya misalnya menggunakan "gebotan" kini beralih menggunakan "sintok (mesin perontok padi)" ada keuntungan bagi buruh tani karena tenaga mereka lebih ringan, disisi lain kesenjangan sosial untuk buruh tani yang suka "ngeprik atau ngasag" penghasilan mereka berkurang.

Selain itu, peran aktif para pemangku kebijakan harus bisa menanamkan kecintaan pada generasi muda dalam upaya mengembangkan nilai-nilai agraris yang berbasis kearifan lokal.
Pengembangan kearifan lokal tidak hanya pada aspek agraris saja, banyak hal yang menarik di lumbung padi untuk dijadikan pusat pendapatan dari pengelolaan kearifan lokal. Tinta sejarah yang tertanam dalam kota perjuangan menjadi destinasi untuk menjadi daya tarik wisatawan luar daerah karawang untuk datang ke tempat-tempat sejarah yang terdapat di Kabupaten Karawang.

Karawang dikenal sebagai kota perjuangan, bukti simbol perjuangan ada di Kecamatan Rengasdengklok. Tugu Proklamasi, Tugu kebulatan tekad dan Rumah bekas persinggahan Soekarno menjadi bukti kuat akan penamaan Karawang sebagai Pangkal Perjuangan. Sayangnya simbol tersebut kurang mendapat perhatian serius dari Pemerintah setempat.

Pembangunan yang dibiarkan terlantar, penataan dan pemeliharaan yang tidak jelas seakan meniadakan simbol perjuangan tersebut. Seharusnya Pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan bekerja sama untuk menata lebih baik simbol perjuangan. Karena pada nantinya dengan penataan yang baik, orang menilai simbol tersebut sebagai obyek wisata menarik.  

Selain itu, Secara historis (sejarah) peninggalan di zaman prasejarah yang terdapat di komplek percandian Batujaya telah memberikan bukti kuat bahwa kota lumbung padi ini menyimpan banyak peninggalan sejarah yang perlu dilestarikan dan dijaga keasliannya. Beberapa candi yang terdapat dalam kompleks percandian menjadi daya tarik para pengunjung dan peneliti.

Di sinilah peran aktif pemerintah selaku pemangku kebijakan harus lebih memperhatikan keberdaan candi, selain akan menjadi corak sejarah secara tidak langsung pengelolaan yang baik akan menambah pendapatan daerah Kabupaten Karawang.

Karawang menyimpan banyak potensi yang bersifat kedaerahan. Potensi lokal yang perlu dikembangkan adalah wilayah pesisir pantai dan tambak ikan, destinasi wisata pantai menjadi daya tarik masyarakat ketika libur panjang. Perhatian pemangku kebijakan dalam pengelolaan pantai harus lebih ditingkatkan sebagai cerminan pemberdayaan kearifan lokal, banyak masyarakat yang menggantukan hidupnya pada wisatawan yang datang ke pesisir pantai utara ini.

Perhatian pemangku kebijakan harus berpusat pada aspek kebersihan dan perbaikan akses jalan menuju pantai. Selain itu, dengan adanya tambak ikan, pemerintah setempat harus membuat  komunitas sebagai pusat pemberdayaan yang juga bertujuan untuk memberdayakan masyarakat pesisir pantai menjadi masyarakat yang mandiri. (**)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -