Cinta Tak Sampai

Karya Tulis
Oleh: Eliya Nurpadilah
Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Singaperbangsa Karawang
Ditulis: Sabtu (12/3/2016).

Aku adalah seorang gadis yang berambut hitam panjang, kulitku kuning langsat, kedua buah bola mataku sipit, bibirku mungil kecil dan kemerahan dan aku baru saja lulus dari SMP. Usiaku baru 14 tahun aku tinggal di sebuah desa terpencil di Kabupaten Subang. Hobiku bernyanyi dan menari, semua bakat itu aku miliki dari ibuku. 

Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara, aku mampunyai kakak perempuan yang bernama Arni, adik laki-lakiku bernama Maulana dan adik bungsuku bernama Mutiara. Aku tak akan lupa jika aku mempunyai orang tua yang sangat aku sayangi, ibuku bernama Rahmawati dan ayahku bernama Settiaji dan aku sendiri bernama Aliya Nuraliah. Kami hidup dalam keluarga sederhana,  kami sangat bahagia dengan keluarga kecil ini.

Setelah aku lulus aku masih punya keinginan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, aku memutuskan untuk sekolah di SMA 1 Jayaraya, kemudian aku mendaftarkan diriku sebagai calon siswa di sekolah itu tanpa sepengetahuan kedua orang tua ku. Hari demi hari ku lewati menunggu kabar, kapankah pengumuman penerimaan itu tiba. Menunggu, menunggu dan menunggu dengan banyak pertanyaan, orang tua ku selalu bertanya, "Dimana kamu akan melanjutkan sekolah nak?" sahut ibuku."Sabar ya bu, aku masih mencari dimana sekolah yang terbaik dan dekat jaraknya dengan  rumah kita," jawabku.

Tepat pada suatu ketika pengumuman kelulusan itu pun tiba, dengan perasaan yang gelisah aku membuka amplop putih yang diberikan oleh kepala sekolah ku dan hasilnya "horeeeeeeeeee....aku lolos seleksi masuk SMA favoritku" itulah ucapanku setelah aku membuka hasil pengumuman seleksi.

Pada suatu ketika aku memberanikan diri untuk membicarakan hal ini kepada ibu ku terlebih dahulu, tampaknya ibu ku sangat senang dengan kabar gembira ini, tetapi ia juga kaget kenapa aku mendaftarkan sekolah sendirian. Hari dimana para orang tua murid harus berkumpul di SMA 1 Jayaraya untuk mendaftar ualng anaknya yang lolos seleksi. Kemudian aku pun memberitahukan ibuku dan menceritakan bahwa besok ada perkumpulan para orang tua di SMA tersebut. 

"Bu besok ada perkumpulan para orang tua di SMA. kita harus daftar ulang agar aku mendapatkan tempat duduk dan ruang kelas, apakah ibu bersedia mendaftarkan ku dan mengantarku ke sekolat tersebut?" ujarku kepada ibu. "Ya sudah mau bagaimana lagi ibu harus mengantarkan mu kesana," dengan nada yang rendah ibuku menjawab pertanyaanku. Walapun ku tahu sepertinya ibu ku masih ragu-ragu menyekolahkan ku di SMA 1 jayaraya. 

Keesokan harinya kami pun berangkat ke SMA 1 Jayaraya dengan menggunakan sepeda bermotor, aku memboncengkan ibu ku dengan penuh rasa hati-hati dan penuh rasa kegembiraan akan hadirnya aku di sekolah tersebut. Detik demi detik menit demi menit kulewati bersama ibuku menuju sekolah baruku, rasa senang rasa bahagia menyelimuti hatiku. Sesampainya aku disana ibuku langsung memasuki ruangan rapat para orang tua dan aku menunggunya di halaman depan kelas. 

Waktu terus berlalu dan keluarlah ibu ku dari ruangan rapat tersebut dan aku langsung menghampirinya menanyakan hasil rapat itu kepada ibu, "Ibu bagaimana hasil rapatnya, apakah aku sudah terdaftar di sekolah ini bu, apakah ibu sudah mendaftarkan ku bu?" tanyaku."Sudah nak, hanya ibu belum bisa membayar uang bangunan dan SPP di bulan pertama ini," "Kenapa bu?" tanyaku heran, dengan nada agak sedikit tinggi."Ibu masih belum yakin nak akan menyekolahkan mu di sin," jawab ibu. "Tapi kenapa bu, apa alasan ibu tidak menyeolahkanku disini,? tanyaku.Tiba-tiba ibu terdiam dan tidak menjawab, justru menyuruhku untuk pulang ke rumah. 

Pada saat di jalan hati ku terus bertanya-tanya mengapa ibu seperti ini, mengapa ibu masih ragu menyekolahkan aku.
Sesampainya di rumah tiba-tiba ibuku menghampiriku. "Al, sebetulnya ibu ingin sekali kamu bersekolah di SMA favoritmu, tapi setelah ibu fikir-fikir lagi dan ibu sudah berdiskusi dengan ayah dan kakakmu, kami sepakat tidak mengijinkan kamu bersekolah di tempat itu," ucap ibuku.

"Lalu apa alasan ibu tidak mengijinkan aku bersekolah di sana bu?" tanyaku dengan nada yang sedikit marah.
"Sekolah itu terlalu jauh untukmu nak, seandainya kamu nge-kos di sana, siapa yang membantu ibu mengajarkan kedua adikmu, lalu apabila kamu pulang pergi dari rumah ke sekolah tiap hari apa itu tidak menyusahkanmu? Jarak yang terlalu jauh, apalagi kalau sedang musim hujan, kamu akan kerepotan nak, ibu tidak tega kalau seandainya kamu seperti itu," kata ibuku.

"Tapi bu, ini semua aku lakukan sendirian aku mendaftarkan diriku dengan susah payah ke sekolah itu, belum lagi persaingan yang begitu ketat bu, itu semua sudah kulalui berkat do'a dan berusaha, tapi apa hasilnya? ibu dan semuanya tidak mengijinkan aku?!"
"Lihat nak, bapak mu sudah tua, kakak mu di Jakarta sedang bekerja, apakah kamu tega juga sama ibu nak tidak mau menuruti perintah ibu? Ibu harap kamu sudah dewasa untuk mengambil keputusan ini," ucap ibu dengan perasaan haru.

Aku hanya terdiam membisu, dalam pikiran ku tidak tahu arah harus bagaimana, kemudian aku pergi kekamar meninggalkan ibu bersama ayah. Setiap detik aku berpikir bagaimana aku harus ikhlas dengan semua kenyataan ini, kenyataan pahit yang tidak bisa aku terima begitu saja, semua usaha ku sia-sia untuk bersekolah di SMA favorit ku, pada suatu ketika ibu menghampiriku yang sedang berada didalam kamar.

"Ibu dan ayah bahkan kakakmu sudah sepakat bahwa kamu melanjutkan sekoah di SMA 1 Harapan, kenapa? karena kakak kelasmu yang tinggal satu kampung bersama kita itu kebanyakan bersekolah di sana jadi kamu tidak akan sendirian, banyak kakak kelasmu di sana yang kamu kenali," ucap ibuku sambil mengelus-elus rambut panjangku.

Dengan berat hati aku pun mengiyakan akan hal ini, demi kedua orangtua ku yang sangat ku sayangi. "Baik bu, aku akan mendaftarkan diri ke sekolah tersebut, akan tetapi sudah tidak bisa lagi mendaftarkan diri dengan jalur rapor kecuali dengan jalur tes tulis bu," ucapku."Mau jalur manapun ibu akan mendo'akan yang terbaik untuk mu nak," kata ibu.

Suatu hari aku mendaftarkan diri ke SMA 1 Harapan,  diantar bersama guru SMP ku. Hari menghitung hari dimana saatnya aku mengikuti tes tulis di sana duduk sendirian tidak kenal satu sama lain, ketegangan begitu terasa dengan perasaan yang penuh rasa percaya diri, aku mulai mengikuti ujian tulis tersebut.
Kemudian, menunggu seminggu untuk hasil pengumuman test masuk, tidak lupa aku selalu berdo'a di setiap sujudku, berharap kelulusan itu berpihak kepadaku agar aku tidak mengecewakan orang-orang yang sangat aku cintai.

Hari dimana hasil keputusan siswa yang diterima atau tidaknya pun datang, perasaan ku campur aduk ditambah ketegangan, penuh berharap dan cemas apabila aku tidak lolos seleksi di sekolah itu. Kemudian aku pun pergi menuju sekolah tersebut menggunakan sepeda motor. 

Setibanya di sana, aku melihat kertas berisi nama-nama yang lulus dan tidak lulus seleksi, pengumuman itu terpampang jelas di mading sekolah. Dengan perasaan cemas aku mulai menelusuri namaku dari absen paling bawah, terus dan terus aku menelusurinya dan akhirnya nama ku tertulis jelas di kertas itu 'Aliya Nuraliyah dinyatakan lolos' dan nilainya memenuhi kriteria. Perasaan ku campur aduk, aku sangat senang dan bangga dengan hasil ini, ya walau pun baru setengah hati ku relakan untuk bersekolah di sini, sebab mau bersekolah dimana pun toh sama saja belajar-belajar juga intinya.

Sepulang dari sekolah itu aku langsung memberitahukan kabar gembira ini kepada ibu dan ayahku.
"Bu, pa alhamdulillah hasil tes seleksi kemarin membuahkan hasil, aku lolos masuk ke SMA 1 Harapan dengan nilai yang baik," ucapku kepada ibu dengan rasa gembira.
"Alhamdulillah nak kamu lolos juga, ibu dan ayah sangat senang mendengarnya, bahkan kakak mu yang di Jakarta pun akan senang mendengar kabar gembira ini," jawab ibuku.
"Oh ya bu, mulai bulan Juli aku sudah bisa bersekolah di SMA itu, tetapi seperti biasanya ibu harus mendaftar ulang ya bu, nanti lusa kita ke sana sambil membawa uang untuk biaya administrasi," ucapku kepada ibu.
"Baik nak, Insya Allah ibu akan siapkan uang untuk biaya sekolahmu," jawabnya.
Hari dimana aku dan ibuku pergi menuju sekolah SMA 1 Harapan untuk daftar ulang. Semua  persyaratan sudah lengkap biaya sekolah sudah di bayarkan tinggal aku menunggu kabar kapan aku dan kawan-kawan yang lainnya akan melaksanakan Masa Orientasi Peserta Didik di sekolah tersebut. Menunggu dan menunggu lagi, itulah hasil kesabaran ku untuk memulai kesuksesan di masa yang akan datang.

Tiba waktunya, kami semua calon siswa SMA 1 Harapan mendatangi sekolah untuk mengikuti Masa Orientasi Peserta Didik yang diselenggarakan oleh guru dan OSIS sekolah tersebut. Hari pertama, aku telat datang, sehingga aku dimarahi oleh para anggota OSIS, aku pun telat masuk ke kelas.
"Permisi kak, nama saya Aliya dari SMP 2 Sukamulya, mohon maaf sekali kak, saya telat dan sekrang saya tidak tahu harus masuk ke kelas yang mana kak?" tanyaku pada salah satu anggota OSIS itu.

"Lain kali jangan telat lagi ya de, di sini semua siswanya harus taat peraturan yang telah disepakati. Sebentar ya de, kakak cari dulu nama kamu," jawab seorang anak Osis itu.

"Oh ya de, kamu masuk kelas anggrek di sebelah sana, nanti kamu akan diantar oleh ka Devi yah," ujar ka Yusuf namanya."Iyah ka, terima kasih atas semuanya," jawabkuKemudian, aku diantar oleh kak Devi menuju kelas anggrek dan setibanya di dalam kelas aku terkejut dengan siswa-siswa lainnya yang sudah duduk rapi dan hanya aku yang telat.
Setelah beberapa lama di kelas, kami semua berbincang-bincang kemudian kakak mentor menyuruh kami semua untuk berbaris di lapangan untuk menyaksikan pembukaan Masa Orientasi Peserta Didik yang dihadiri oleh beberapa guru dan tak terkecuali kepala sekolah SMA 1 Harapan. 

Pembukaannya begitu meriah dengan adanya tarian-tarian tradisinonal dan juga penampilan drum band dengan musik yang begitu meriah. Tidak aku duga aku melihat sosok laki-laki yang begitu tampan yang sedang bermain drum band quarto, alis matanya begitu hitam bahkan sampai menyatu, kulitnya yang putih, tinggi, rambutnya berwarna hitam pekat dengan sedikit jambul, senyumnya yang manis, membuat aku merasa terkagum-kagum kepadanya.

Hari pertama ku lalui dengan rasa gembira, tidak ku sangka aku memikirkan sosok laki-laki yang kulihat di sekolah tadi siang yang bermain drum band itu, aku terbayang wajah tampannya hingga aku memimpikannya. Hari kedua masa orientasi, aku sangat bersemangat untuk menjalankan kegiatanku di hari kedua ini, berharap melihat sosok laki-laki itu kembali. 

Aku melihat nya, ya aku melihatnya dengan rasa bahagia aku terus saja menatapnya bahkan sambil berjalan pun aku terus menatapnya, hingga aku menabrak suatu pohon, semua teman-temanku yang melihatku mentertawakan. Sungguh malu rasanya, tapi aku tetap terus mengagumi sosok laki-laki itu yang tidak ku ketahui namanya itu.

Pada suatu ketika aku mendapatkan teman baru yang bernama Mala, dia teman yang baik dan sangat menyenangkan. Pada saat kami berbincang aku menanyakan sosok laki-laki itu kepada mala."Mal, lihat deh cowo yang ada disana itu namanya siapa yah, aku penasaran deh sama dia," tanyaku kepada Mala."Oh itu, itu sih namanya Rizki," jawab Mala"Loh Mal, kamu kenal sama dia," tanyaku.

"Jelas kenal lah Al, dia kakak kelasku sejak SD, SMP bahkan sekarang SMA,  kami tinggal satu desa loh Al," ucap Mala."Ya ampun Mal, kamu kenal dia sudah lama ternyata, aku ga nyangka Mal dunia sempit banget deh," "Kenapa kamu menanyakan dia Al, kamu suka yah sama dia hayooooo ngaku deh kamu," tanya Mala."Ng...ng..nggak Mal, bukan begitu, aku hanya ingin mengetahui nama dia saja Mal, itu aja cukup kok," jawab ku."Yakin cukup, gak mau info lain nih," ujar Mala.
"Untuk sekarang cukup dulu deh..heheheheheh," jawab ku sambil tertawa. "oh gitu, ya sudah deh," jawab Mala sambil tersenyum.

Waktu istirahat telah usai, waktunya kami memasuki ruangan dan menerima materi dari mentor kami. Sewaktu ketika, mentor kami menyuruh kami untuk membuat sebuah puisi untuk para panitia dan apa yang ada di benakku itu hanya sosok laki-laki yang bernama Rizki itu. Puisi itu akan kutujukan pada sosok laki-laki yang bernama Rizki,  ya aku akan membuatkannya puisi.

Malam hari di kamar aku membut sebuah puisi untuknya, dengan mudah aku merangkai kata demi kata untuknya, ya betul memang kata-kata ini adalah curahan hati aku untuknya. Walaupun aku belum mengenalnya, tetapi aku yakin bahwa perasaan ini tidak bisa bohong. "Ya Tuhan, maksudnya apa ini, mengapa semakin lama semakin aku mengaguminya," ucapku di dalam kamar.

Hari terakhir di Masa Orientasi Peserta Didik, hasil puisi yang telah kami buat pun dikumpulkan, tak terkecuali harus mencantumkan untuk siapa puisi itu dituju dan juga nama penulisnya."Untuk Aliya maju kedepan dan bacakan hasil karya puisimu di depan kakak Rizki," ucap kakak mentorku."Apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa," teriaku, menahan rasa kaget dan malu.
"Sebentar Aliya kak Rizki sedang di panggil," ucap kakak mentorku.
"Yang benar saja kakak aku harus membacakan puisi di depan kak Rizki," tanyaku sambil menahan malu dan sedikit senang, karena akan dipertemukan dengan kak Rizki."Iya Aliya, sekarang kak Rizki sudah datang dan segera lah kamu maju kedepan dan bacakan hasil karya kamu itu," ucap kakak mentor ku.Ya Tuhan, dengan kucuran keringat, wajah memerah menahan malu, kaki yang gemetar tubuh yang sudah tidak bisa lagi diajak kompromi ini terpaksa harus melakukan hal itu.

Teng teng, aku sudah berada di hadapan teman-teman ku dan juga di hadapan kak Rizki, laki-laki yang selama ini aku kagumkan dan sekarang tepat berada di hadapanku. Apa ini adalah mimpi ya Tuhan, aku sama sekali tidak percaya bisa berada di hadapannya. Apakah aku ini sedang bermimpi ya Tuhan, rasanya itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ditambah lagi dengan ejekan-ejekan teman-temanku membuat aku semakin salah tingkah di hadapannya.

"Aliya cepat kamu bacakan puisi itu, kak Rizki nanti keburu pergi, biasa dia adalah seorang yang super sibuk," ujar kakak mentorku, dangan nada yang sedikit meledekku.Tak berpikir panjang, aku membacakan puisiku di depan Rizki dan semua teman kelas yang cekikikan menertawakanku.

Aku adalah seorang perempuan.Ya memang perempuan yang 
tiada arti.Apa dayaku ya Tuhan, dia, dia dan hanya dia.Yang membuat ku merasakan hal ini.Mersakan hal-hal aneh semenjak ku melihatnya.Melihat sosok laki-laki yang begitu sempurna bagiku.Apakah dia tahu akan hal ini, apa dia tahu ya Tuhan?

Semenjak pertama ku melihatnya, tak ada satu hal pun yang menghalangiku untuk melihatnya.Dia sosok laki-laki yang mengikat hatiku ya Tuhan.Aku tidak bisa mempungkirinya lagi.

Seandainya aku diijinkan oleh Tuhan untuk berkata jujur.Aku akan bilang "Aku menyukaimu dalam diamku."
Puisi yang kubacakan untuk kak Rizki ini tidak bisa menahan air mataku, begitu saja jatuh, tetapi aku tetap dalam keadaan tersenyum melihat teman-temanku bertepuk tangan sambil bersorak-sorak. Semenjak kejadian itu, semakin lama semakin terus aku mencari data pribadi kak Rizki. Tidak ku duga bahwa kak Rizki sudah mempunyai kekasih, perasaanku seketika hancur semenjak aku tahu bahwa dia sudah mempunyai kekasih, aku mulai menjauhinya, dengan kata lain aku tidak lagi ingin mengetahui tentang dirinya lagi.

Akan tetapi, semakin aku ingin melupakannya semakin aku merasakan jatuh cinta kepada dia. Ya tuhan ada apa dengan ku, semakin aku ingin melupakannya semakin ku merasakan kalau dia ada di hatiku. Hari demi hari kulalui di sekolah baruku, kejadian yang tak ingin ku lihat akhirnya terlihat juga. Hampir di setiap hari ku melihat kak Rizki bersama kekasihnya bersama-sama berboncengan bersama, berjalan bersama, dikantin bersama, hal itulah yang sangat sering kulihat dan membuat hatiku hancur.

Seharusnya aku melupaknnya, tapi tidak bisa, semakin ingin melupakannya semakin erat perasaan itu menyatu dalam hatiku. Ya tuhan bantu aku harus dengan cara apa lagi untuk melupakan dia dalam hidupku. Sudah hampir enam bulan aku bersekolah di SMA 1 Harapan dan aku mengikuti banyak kegiatan, diantaranya OSIS dan drum band, kedua kegiatan tersebut adalah salah satu anggotanya juga kak Rizki, mau digimanakan lagi kita tergabung dalam satu organisasi yang sama, yang pada akhirnya memang harus selalu bersama dalam menjalankan kegiatan.

Kita selalu bertemu dalam organisasi tersebut yang entah mengapa aku tidak bisa menatap wajahnya, ketika aku harus berbincang dengannya aku sama sekali tidak bisa menatap wajahnya apalagi kedua buah bola matanya. Tidak terkecuali aku mengikuti drum band yang setiap hari Senin pada saat upacara bendera harus diiring dengan drum band. Setiap hari Jum'at dan Sabtu kita berlatih dan yang melatih kami adalah kak Rizki ini. Bagaimana tidak, dia adalah koordinator drum band, mau tidak mau kita dilatih oleh kak Rizki.

Terkadang aku berpikir seandainya aku tidak bersekolah di sini aku tidak akan menemukan sosok seperti kak rizki, aku sangat bersyukur akan hal ini. Walau pun aku tidak bisa memiliki kak Rizki seutuhnya tapi aku masih bisa melihat dirinya bahagia dengan orang yang ia sayang. Terkadang cinta itu tak harus memiliki, apabila kita mencintai seseorang kita harus rela orang yang kita cintai mencintai yang lain kenapa? Karena cinta itu tidak bisa di paksakan.

Ada sewaktu ketika pemilihan penari untuk acara perpisahan kelas 12 disitulah aku terpilih untuk menjadi seorang penari. Kegiatan itu pun kak Rizki ikut hampir disemua kegiatan ka Rzki aku mengikutinya ntah kenapa aku juga bingung. "Al, hari Senin, Rabu dan Jum'at jadwal kita latihan ya" ucap ka Rizki kepadaku "baik ka insya allah aku akan latihan" jawabku dengan nada yang begitu senang soalnya itu sapaan pertama yang kak Rizki lontarkan kepadaku.

"Jangan lupa juga untuk latihan drumbandnya yah." Ucap ka Rizki. "baik ka". Aku hanya tersipu malu menjawabnya padahal ka Rizki menanyakannya dengan penuh rasa biasa-biasa saja mungkin hanya aku yang terlalu GR kepadanya. "al, nanti pada saat latihan kamu menggunakan kaos sama celana training saja yah agar lebih nyaman." Ucap kak Rizki"iyah kak aku akan menggunakan training kok, tenang saja." Jawabku sambil bercanda"yasudah kalau begitu kakak pergi dulu yah de". Ucapnya."iya kak hati-hati". Ucapku kepadanya dengan nada yang rendah.

Hari sudah menunjukan sore dan waktunya aku pulang kerumah. Sepulang sekolah biasanya aku latihan menari untuk persiapan pelepasan kelas 12. Bersama teman grup aku dan kita latihan bersama-sama, termasuk kak Rizki. Ya kak Rizki memang ada aku tidak bisa menahan rasa canggung,malu,dek-dekan,gemeteran tetapi aku harus menahan ini semua aku harus bisa aku harus maksimal agar latihan ini tidak sia-sia.
"ayo siap semuanya dalam posisi" ucap pak dadang guru seni ku"baik pak" kami semua berseru"aduh gimana yah nad, aku benar-benar takut salah ni aku gerogi," ucapku.
"tenang Al semua akan baik-baik saja kamu pasti bisa dan kita pasti bisa maksimal kok." Jawab nadia teman penariku."baik nad makasi yah." Jawabku.

Hampir dua jam kita berlatih kebersamaan begitu erat dengan para pemain alat musik tradisional dan juga para penari kita semua jadi saling kenal satu sama lain begitu indahnya kebersamaan. Selama dua tahun ini aku dan kak Rizki bersama selalu dalam organisasi OSIS, Drumband dan juga seni karawitan begitu banyak saat saat bersamanya bekerja sama dengannya bertukar pikiran dan saling bercerita bersama tapi didalam hatiku masih ada rasa tidak enak hati karena aku harus jaga sikapku kepada kak Rizki yang sudah mempunyai kekasih. Hari terus berlalu tiba saatnya pelepasan siswa kelas 12.

Kami pun menampilkan sebuah tarian tradisional dengan penuh percaya diri. Kami akan menampilkan suatu tarian yang maksimal. Hempasan-hempasan selendang ku mainkan dengan indah, tubuh ku tersa melayang-layang diudara, dengan gemulai aku menari-nari dengan alunan musik tradisional. Sampai dimana musik itu berhenti dan tarian pun terhenti dengan begitu pelan dan semua penonton bertepuk tangan dengan meriah dan tatapan tertuju padaku termasuk kak Rizki walaupun aku merasa malu tetapi aku sangat senang akan kehadirannya.

Semenjak aku terpilih menjadi seorang penari di sekolah banyak undangan-undangan dari luar yang memanggil grup kami, dan disitu lah mulai kedekatan kami walau pun aku sadar bahwa kak Rizki bukan siapa-siapa aku. Aku pun terkadang sadar bahwa kak Rizki sudah mempunyai kekasih, terkadang harapan itu muncul disaat aku melihatnya, disaat kita bertemu, disaat kita berbincang-bincang. Disaat tatpan matanya tertuju kepada kedua buah bola mataku harapan itu memang benar-benar muncul. Didepan ruang Osis kita semua selaku anggota biasanyan berkumpul, ya walaupun tidak ada rapat kami semua menyempatkan untuk berkumpul di ruang Osis.

Tidak terkecuali kak Rizki pun ada tapi sayang dia berada dengan kekasihnya membuat hati ku panas terasa terbakar."al jangan lupa yah setelah pulang sekolah kamu dan teman-teman yang lainnya latihan drumband untuk upacara senin besok" ucap kak Rizki di depan ruang Osis."baik ka nanti aku kondisikan sama teman-teman yang lainnya. Oh ya ka apakah kakak bisa hadir pada saat kita latihan?" jawabku dengan wajah yang merunduk."untuk hal itu kakak tidak bisa janji karena jam 4 sore kakak ada urusan."ucap nya

"mmmmmmmmmmmm yasudah kak tidak apa-apa kalau begitu, aku duluan yah kak mau pulang dulu soalnya sudah sore, teman-teman aku duluan yah!!!!ucapku terhadap kak Rizki dan teman-teman kuDan pada saatnya aku pulang dengan perasaan cemburu berat melihatnya bersama kekasihnya. Satu tahun sudah berlalu aku bersekolah di SMA 1 Harapan, tidak terasa kak Rizki pun sudah menginjak kelas 12, aku memang terkadang suka berharap ia cepat-cepat pergi dari sekolah ini karena apa karena aku sudah tidak tahan lagi melihat wajahnya apa lagi kalau melihat dia dengan kekasihnya.

Hampir satu tahun lebih aku memendam perasaan ini terhadapnya dan sampai detik ini pun aku tidak tahu ia mengetahui atau tidak akan perasaan ku terhadapnya. Bahkan aku dengar-dengar dari teman ku teman satu bangkunya kak Rizki menyukai ku, ya Tuhan apalagi ini aku mnyukai kak Rizki bukan teman sebangkunya."al, dapet salam tuh dari Luis." Ucap hanida teman ku"salam?dari Luis? Luis siapa han?".jawabku.

"Luis,Luis yang anak 12 IPA 1 yang suka sama kak Rizki, dimana ada kak Rizki disitu pasti ada Luis Al, masa kamu gak tahu sih." Ucap Hanida sambil meminum es teh manis dikantin"mmmmmmmmmm dia toh yang namanya luis aku tahu dia hanya aku tidak tahu namanya siapa han." Jawab ku sambil memakan sebuah gorengan hangat"jadi gimana ni Al?" ucap Hanida"gimana apanya han? Jawab ku"ya gimanaaaa jawabannya mau titip salam balik lagi gak nih biar sekalian aku sampaikan kepada orangnya Al."ucap Hanida

"duhhhh gimana yah han perasaan ku jadi tidak karuan seperti ini."jawab ku sambil garu-garuk kepala."yaudah sih Al tinggal jawab iya atau tidak gitu aja kok repot." Ucap Hanida"yaudah deh terserah kamu aja aku mau kembali ke kelas duluan yah dahhhh." Jawab ku sambil melambaikan tangan ku kepada Hanida."yeh tuh anak dasar." Ucap Hanida sambil kebingungan.

Sekali lagi aku berharap kak Rizki cepat-cepat lulus dari sekolah ini agar aku lupa dengannya dan berharap dengan tidak lagi melihat kak Rizki perasaan ini pun pudar. Dan pada akhirnya pelepasan kelas 12 angkatannya kak Rizki pun sudah lewat itu menandakan bahwa kak Rizki sudah tidak lagi bersekolah disini. Dengar-dengar sih katanya kak Rizki melanjutkan sekolahnya di salah satu Universitas swasta dibandung.

Dan lagi-lagi sampai ia berkuliah pun bersama kekasihnya, artinya ia berkuliah satu gedung bersama kekasihnya itu."ya tuhan mereka sampai kuliah pun bersama, kemana-kemana bersama apakah mereka memang benar-benar berjodoh ya tuhan. Lalu bagaimana dengan aku ya Tuhan apa bila memang kak Rizki jodohku tolong dekatkan lah aku dengannya namun apabila memang ia bukan jodohku jauhkan lah dia dariku dan dekatkan lah ia bersama orang yang ia cintai." Ucapku termenung sendiri di dalam kamar dengan perasaan yang sungguh-sungguh tidak menentu.

Pada akhirnya 2 tahun berlalu, aku sudah melupakannya ya walaupun terkadang sedikit merindukan senyumnya. Sampai saat ini aku sudah duduk di bangku kuliah dan aku masih memilih untuk sendiri, kenapa? karena aku masih tidak mampu membuka hati ini untuk orang lain, tapi aku berharap ada orang lain yang mampu meluluhkan hati ini. Mengisi kekosongan hati ini sudah bertahun-tahun lubang di hati ini tidak ada yang menutup, karena cinta yang baru membutuhkan waktu. (**)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -