Aksi Sepetak di BPN Ricuh, Saling Pukul dengan Polisi

KARAWANG, KarawangNews.com - Unjuk rasa puluhan petani yang tergabung dalam Serikat Petani Karawang (Sepetak) dan sejumlah buruh, Selasa (1/3/2016) siang berakhir ricuh, aksi saling dorong dan saling pukul antara petani dan polisi terjadi saat pengunjuk rasa memaksa masuk dan menjebol pintu gerbang Badan Pertanahan Negara (BPN) di Jalan Ahmad Yani, Karawang.

Polisi menghadang dan menahan pengunjuk rasa, hingga terjadi rusuh. Petani dibantu oleh sejumlah buruh dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mendatangi kantor Pemda Karawang dan BPN untuk mengadukan nasib mereka, karena tanah mereka diserobot pihak Perhutani, sehingga petank tidak bisa bercocok tanam.

Selain mendobrak gerbang kantor BPN, petani juga memblokade jalan utama Karawang dan menyebabkan kemacetan. Hingga akhirnya kericuhan dan blokade jalan berakhir saat para pengunjuk rasa diizinkan masuk oleh polisi dan melakukan perundingan di kantor BPN. Aksi petani diakhiri dengan cap jempol darah para petani.

Sekjen Sepetak, Engkos Koswara menegaskan, dari sekitar 2,1 juta penduduk di Karawang, separuhnya dinyatakan masuk kategori miskin. Separuh dari angka tersebut ialah masyarakat yang bertempat tinggal di desa-desa. Mereka merupakan kaum tani yang hidup sebagai buruh tani dan penggarap lebih dari 90% dari total penduduk suatu desa.

Minimnya akses terhadap tanah yang menjadi alat produksi, penyebab tunggal dari kemiskinan masyarakat desa, sebagaimana tercermin dari kondisi ketimpangan struktur agraria. Sehingga di desa-desa tak ada lagi kedaulatan terhadap proses produksi pertanian khususnya pangan.

Sedangkan, kebijakan pemerintah yang meliberalkan kepemilikan tanah berikut membudaknya penguasa politik negeri ini terhadap kekuatan asing seperti World Trade Organization (WTO) termasuk Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) turut memperparah keadaan nasib kaum tani yang nyaris tak memiliki segi-segi hari depan.

"Keadaan demikian telah memupuk subur konflik tanah antara petani dengan pemilik modal di kabupaten seribu masalah ini. Seperti halnya konflik petani dengan Agung Podomoro Land dan petani dengan Perhutani yang belum kunjung usai," kata Engkos.

Dia menyebutkan, Sepetak mengorganisir massa tani yang dirampas tanahnya oleh Perhutani, diantaranya sebanyak 280 warga Ddesa Medalsari, 432 warga Desa Mulyasejati dan 361 warga Desa Kutamekar, termasuk 30 warga Desa Margamulya yang dirampas tanahnya oleh APL.

"Aksi massa ini menuntut legalisasi tanah sebagai bentuk pengakuan hak atas tanah," jelasnya. (spn)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -