Sri Rahayu: Masyarakat Sudah Tak Lagi Bias Gender

KARAWANG, KarawangNews.com - Hasil dari 246 Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia telah menempatkan sedikitnya 30 perempuan menjadi pimpinan daerah, jadi bupati maupun wakilnya.

Hal itu dikatakan Ketua Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kabupaten Karawang, Sri Rahayu Agustina, dalam pidatonya di acara Pelatihan kepemimpinan dan pelantikan pengurus Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kabupaten Karawang periode 2015-2019, Kamis (17/12/2015) siang di resto Indo Alamsari, Karawang Barat.

"Meningkatnya keterpilihan perempuan tersebut menjadi nilai positif, karena masyarakat saat ini sudah mulai berpikir rasional, tak lagi bias gender. Mereka tak lagi membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan dalam urusan publik," ujarnya.

Termasuk di Karawang, Cellica Nurrachadiana mampu meraih dukungan hingga 51 persen suara. Malah ada yang menarik lagi, di Klaten Jawa Tengah, pasangan calon terpilih keduanya perempuan, ini menjadi pasangan perempuan pertama yang menjadi pemimpin daerah di Indonesia.

"Bisa jadi, Pilkada lima tahun kedepa pun, tak menutup kemungkinan di Karawang pasangannya nanti keduanya perempuan," ucapnya.

Namun, di sisi lain, ada tantangan yang cukup serius, terkait karakter perempuan yang lebih perasa, lebih sensitif perasaannya dibanding nalar dan logikanya. Sehingga, dalam memimpin, perempuan harus bisa menyeimbangkan antara rasa dan logika. Dalam konteks penegakan aturan dan regulasi, tentunya perempuan harus mengedepankan nalar dan logika dibanding perasaan.

Sementara dalam dimensi sosial kemanusiaan, empati kita harus lebih dikedepankan, keseimbangan antara keduanya inilah yang mampu berkontribusi terhadap pencapaian prestasi dalam kepemimpinan.

"Kita sebagai insan politisi, tentunya harus memberikan masukan dan saran bagi pengambil kebijakan di partai politik. Sebab, perempuan bukan hanya sekedar pelengkap," kata Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Karawang ini.

Menurut Sri, perempuan dimana-mana menjadi 'inspiring women' bagi anak-anaknya, karena di tengah keluarga, ibu tetap tokoh sentral yang menentukan kondisi dalam keluarganya. Sehingga, penting bagi seorang ibu bergening position yang kuat, ada kesetaraan gender, mitra bagi suami dengan cara mengasah dan meningkatkan potensi yang dimiliki.

"Perempuan Indonesia mempunyai potensi yang luar biasa, tetapi hingga kini belum terakomodir 30% di ranah eksekutif dan legislatif," imbuhnya.

Diakuinya, di Indonesia kiprah kaum perempuan sudah mengalami kemajuan yang luar biasa, hampir di seluruh bidang sudah ada perempuannya. Dia mencontohkan, banyak kaum perempuan yang menjadi kepala desa, camat, bupati, walikota, gubernur, hakim, polisi, pilot, politikus, pelaku bisnis hingga presiden.

"Sayang sekali, perempuan yang mempunyai kesempatan berkiprah di bidang masing-masing jumlahnya terbatas," ucapnya.

Diakuinya, betapa perempuan berperan penting menjadi khalifah dan pemimpin bagi dirinya, keluarga maupun di masyarakat sekitar. Sebagai warga negara, perempuan Indonesia harus mampu membangun kualitas diri sebaik-baiknya, agar secara simultan ia mampu mengajak keluarga dan masyarakat ke arah yang positif.

Kata Sri, orang bijak mengatakan, wanita adalah tiangnya negara, tetapi wanita pun tiangnya keluarga, penyangga yang sangat kuat, sekaligus perhiasan pertama bagi kehidupan laki-laki, bahkan dia perhiasan yang terbaik dalam kehidupan ini.

"Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, dunia ini perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita solehah," paparnya.

Melalui eksistensinya, perempuan yang berkualitas tinggi dan sukses mampu mewujudkan sebuah keluarga harmonis. Perempuan boleh berkarir dan sukses menempatkan dirinya di masyarakat, tetapi begitu ia di rumah, harus tahu peran dan eksistensi fitrahnya sebagai seorang istri, yaitu sebagai sahabat, kekasih dan mitra yang menyenangkan bagi suaminya.
Ini sangat penting, karena surganya wanita ada pada ketaatan dan kepatuhan kepada suami. Sehingga, keluarga adalah cerminan jati diri wanita itu sendiri.

Kata Sri, sebagai Kartini di era modern, perempuan Indonesia harus menjadi 'a agent of change', melakukan perubahan positif di lingkungan sosialnya, agar kelak bisa menggaung hingga ke lingkup yang lebih luas. Jika mayoritas perempuan Indonesia telah memiliki 'mindset' ini, maka hidup akan lebih bermakna.

Sebagai seorang perempuan, harus bisa menjawab tantangan di era globalisasi dengan karya yang nyata, untuk mensejahterakan masyarakat di sekitar kita. Memang tidak mudah, tetapi kalau bisa bekerja sama dengan semua pihak, berinovasi, maka ini bisa membangun kondisi yang kondusif.

Di Kabupaten Karawang, Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilkada tahun 2015 ini, jumlah pemilih perempuan sebanyak 778.750 orang, sedangkan laki-laki sebanyak 791.327 orang, tetapi partisipasinya jauh lebih tinggi perempuan sebanyak 536.966 orang atau 68,95% dibanding laki-laki sebanyak 506.853 orang atau 64,05%.

"Untuk itu, kami berharap Cellica (bupati terpilih, red) bersama-sama dengan KPPI terus berkarya dan berperan di berbagai lini kehidupan masyarakat," kata Sri, kepada Plt. Bupati Karawang, Cellica yang hadir di acara tersebut. (spn)


















Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -