Benarkah Golkar Bermain Politik Dua Kaki?

Warga Menulis
Oleh: Ega Nugraha Susanto
Karyawan Swasta
Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Purwakarta
Ditulis: Senin (26/10/2015)

Sebenarnya saya malas menulis tentang politik, karena kegaduhan yang terjadi selama ini tidak lebih dari sebuah sandiwara politik dengan pemeran utamanya tak lain adalah hanya para elit yang justru mengorbankan masyarakat.

Dari hasil obrolan saya di warung kaki lima, pojokan terminal, emperan rumah sakit atau nguping pembicaraan orang di dalam bis, atau bahkan yang lagi trend saat ini media soaial, sebagian rakyat  sebenarnya sudah muak dengan kekisruhan antar elite. Rakyat lebih senang apabila mereka ribut membuat program untuk kemajuan bangsa ini dibanding mencari sensasi yang ujung-ujungnya kekuasaan.

Kegaduhan politik ternyata bukan hanya terjadi di tingkat pusat, tak terkecuali di tanah lumbung padi Karawang. Maklum, tak lama lagi, kabupaten yang dikenal dengan goyang Karawang ini akan menggelar hajat lima tahunan, memilih bupati dan wakil bupati, tepatnya 9 Desember 2015 nanti.

Ibarat akan menggelar hajatan pernikahan, semua orang mulai sibuk mempersiapkan sajian makanan untuk dihidangkan pada saatnya nanti. Begitu pun menjelang Pilkada, sejak jauh-jauh hari, sandiwara politik mulai diperlihatkan para elit yang punya kepentingan menjadi penguasa di kabupaten ini. Kisruh koalisi beberapa partai juga sempat terjadi sejak dimulainya tahapan Pilkada beberapa bulan lalu.

Sebut saja DPD PKS Karawang, yang awalnya tegas tidak akan mendukung calon petahana Cellica Nurrachadiana jika calon wakilnya dari partai lain, tetapi akhirnya tetap saja memberikan dukungan meski kursi calon wakil diduduki Akhmad Zamaksyari (Jimmy). Hal serupa juga terjadi di partai lainnya Gerindra. Partai yang awalnya tegas akan mengusung ketua DPC Royke, diujung penetapan akhirnya mereka resmi mengusung calon dari kader partai lain, yaitu Saan Mustopa.

Nah, tentu jika harus ditulis sedetail mungkin mengenai gejolak partai politik di Karawang menjelang Pilkada, tidak akan cukup dalam satu atau dua lembar tulisan. Untuk itu, kali ini saya hanya akan mencoba menganalisa yang terjadi di tubuh Partai Golongan Karya (Golkar) yang dipimpin oleh Dadang S. Muchtar (DSM).

Sejak tahapan Pilkada dimulai, satu-satunya partai di Karawang yang masih sulit ditebak akan memberikan kemana arah dukungannya adalah partai berlambang beringin ini. Maklum, sebagian kader memang masih menganggap sosok DSM adalah tokoh Golkar yang sebenarnya, yang masih pantas memimpin Karawang lima tahun kedepan.

Namun di sisi lain, DSM terganjal aturan dimana ia sudah tidak bisa mencalonkan diri menjadi calon bupati, karena sebelumnya sudah beberapa kali menjabat. Bahkan kini ia tercatat sebagai Anggota DPR RI dari Partai Golkar.

Tak lama kemudian, akhirnya rasa penasaran publik terjawab ketika DSM selaku pucuk pimpinan partai memutuskan untuk mengusung Saan Mustopa yang tak lain adalah kader Partai Demokrat, bahkan tercatat sebagai Anggota DPR RI dari partai berlambang bintang mercy tersebut, berpasangan dengan Iman Sumantri, mantan Sekda Karawang.

Pertanyaan yang muncul, kok bisa DSM memutuskan untuk memilih Saan, apakah di tubuh Partai Golkar sudah tidak ada kader lain yang pantas untuk diusung. Apakah iya, pengusungan Saan sebagai calon bupati oleh Golkar sudah direstui oleh semua kader Golkar di Karawang. Tentu hingga saat ini semua pertanyaan tersebut masih misteri khusunya di kalangan masyarakat Karawang.

Rasa penasaran masyarakat tentang keputusan itu akhirnya sedikit demi sedikit mulai terbuka. Beberapa waktu lalu, salah satu kader senior Golkar yang juga tercatat sebagai Bendahara DPD Golkar Karawang H. Enan Supriatna secara resmi membelot dan balik arah mendukung calon dari partai lain, yaitu Cellica-Jimmy yang diusung oleh Demokrat, PKB,PKS dan PPP.

Kembali menjadi pertanyaan adalah, apakah benar Enan yang merupakan politisi Golkar memutuskan untuk mendukung Cellica karena kecewa oleh DSM. Pertanyaan lain, seberani itukah Enan melawan kebijakan DSM yang selama ini dikenal sebagai sosok yang paling disegani dan ditakuti oleh kalangan elit Karawang.

Ataukah partai berlambang pohon beringin ini ingin berpolitik dua kaki, alias mengamankan diri jika jagoannya kalah dalam Pilkada.

Sekali lagi, tentu jawabannya hanya akan menjadi rahasia dua tokoh senior Karawang tersebut, karena pada dasarnya dalam politik semua hal bisa terjadi termasuk 'membunuh' teman sendiri. Untuk itu, kita tunggu siapa yang akan terpilih pada Pemilukada akhir tahun 2015 ini, dari enam pasangan calon yang ada saat ini.

Demikian tulisan ini saya tulis sama sekali tidak ada maksud untuk menyudutkan siapa pun di dalamnya. Saya adalah warga asli Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta. Namun sejak dua tahun terakhir ini saya bekerja di Karawang dan saya sudah mulai jatuh cinta terhadap Karawang.

Karawang yang kita ketahui luas kota jauh berlipat dari Purwakarta, saya kira sangat membutuhkan sosok pemimpin yang tegas, berani, jujur, inovatif dan bisa memanfaatkan potensi daerah untuk kesejahteraan masyarakat Karawang. Terpenting, kedepan Karawang jangan menjadi kota dengan segudang cerita tentang kekayaannya, tetapi masih kurang berinovasi. Majulah Karawang!














Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -