TKW Asal Tirtajaya Tewas Kecelakaan di Negara Oman

KARAWANG, KarawangNews.com - Rabu (16/9/2015) malam, calon bupati Karawang, juga pendiri Yayasan Saan Mustopa Center (SMC), Saan Mutopa, M.Si, mengikuti proses pemakaman jenazah Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang meninggal akibat kecelakaan tabrak lari di Negara Oman pada 6 Agustus 2015 lalu.

Korban bernama Karsih Binti Mardan Tamid (28), warga Kampung Ardai, Desa Sabajaya, Kecamatan Tirtajaya, jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya, Rabu malam, 3 jam setelah tiba di rumah duka. Pada kecelakaan itu, Karsih mengalami luka serius di pelipis kepala dan tulang kaki remuk.

Sebelumnya, orang tua Karsih meminta bantuan SMC untuk memulangkan jenazah Karsih, hanya dalam waktu sebulan, TKW nahas ini bisa dipulangkan dari Negara Oman.

Dijelaskan Divisi TKI (Tenaga Kerja Indonesia) SMC, Subarna Hendrawan yang mendampingi keluarga korban, menurut info dari negara tersebut, Karsih tewas di tempat setelah tertabrak mobil saat menyeberang jalan, usai belanja, pelaku yang menabrak kabur dan kini dalam pengejaran polisi setempat.

Akibat perceraian, janda yang baru punya satu anak usia 3 tahun ini nekad menjadi TKW. Bahkan, dia sudah dua kali berangkat sebagai TKW, setelah habis kontrak dua tahun lalu, Karsih kembali mengadu nasib di negeri orang. Namun nahas, terhitung 10 bulan di Negara Oman, Karsih kecelakaan dan meninggal dunia.

"Hanya 1 bulan Karsih bekerja di majikan pertama, kemudian dia kabur ke agency, alasannya di majikan pertama Karsih mendapat perlakuan buruk, malah hampir di perkosa. Selama beberapa bulan pekerjaan Karsih serabutan, sambil menunggu agency mempekerjakannya lagi di majikan kedua," kata Subarna.

Untuk mendapatkan hak bagi keluarga Karsih, Yayasan SMC berupaya mengambil asuransi yang nilainya mencapai Rp 80 juta dari PT Aji Ayah Bunda Sejati yang memberangkatkan Karsih. Bahkan, jika hasil penyelidikan kecelakaan Karsih tidak bersalah, maka keluarga Karsih berhak mendapat asuransi dari Negara Oman sekitar Rp 400 juta.

"Perusahaan jasa tenaga kerja ini kooperatif dengan kita dan keluarga korban, dia berusaha mengeluarkan hak-hak Karsih, perusahaan seperti ini jarang, biasanya selalu berbelit," ucapnya.

Di tempat sama, orang tua Karsih, Mardan Tamid menceritakan, pihak keluarga sudah melarang anak keduanya ini agar jangan jadi TKW, tetapi tidak ada yang bisa mencegah Karsih, sebab Karsih menyadari perlu penghasilan besar untuk merawat anak dan kedua orang tuanya yang tinggal di rumah gubuk, pinggir sawah desa tersebut.

"Suaminya tidak menafkahi Karsih dan anaknya, untuk makan pun bergantung kepada orang tua, sehingga Karsih nekad ke luar negeri, meski sudah kita larang," kata Mardan, menceritakan sulitnya Karsih mencari pekerjaan di Karawang, sehingga harus jadi TKW.

Sementara itu, Saan Mustopa yang mendampingi Mardan menyatakan, pihaknya komitmen membantu TKW bermasalah. Hingga kini, pihaknya sudah menangani seratus lebih TKW bermasalah, ada sekitar 35 kasus lagi yang masih proses penanganan SMC.

Yayasan SMC yang juga menangani kasus TKW ini murni dibiayai dari penghasilan Saan di DPR RI yang disisihkannya. Divisi TKI ini sengaja dibentuk karena di Pemda Karawang masih lemah menangani kasus-kasus TKW bermasalah, sehingga pihaknya terlibat membantu.

"Kedepan, Kabupaten Karawang harus punya lembaga yang menangani TKW, sebab jumlah TKW asal Karawang terbanyak di Jawa Barat," ujarnya. (spn)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -