Sudahkah Kita Menjadi Kupu-kupu Cantik?

Warga Menulis
Oleh: Mukhlis Herwin Mualif
Penulis Jalanan, Karawang Barat
Ditulis: Selasa (4/7/2015)

Setelah kita berpuasa Ramadhan, tiba saatnya kita mencapai hari kemenangan yaitu Hari Raya Idul Fitri. Dari kita yang semula ibaratnya seperti seekor ulat, kemudian selama sebulan kita ditempa dengan berpuasa, ibaratnya seperti bertapa menjadi kepompong. Saat idul Fitri, kita semua berharap dapat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik nan rupawan, dengan sebelumnya disucikan dengan zakat fitrah pada sebelum lebaran.

Saat menjadi ulat tentunya takada yang menyentuh, hal ini dikarenakan lahir batin kita yang masih kotor, penuh dengan segala dosa, baik itu dosa kepada Allah SWT, maupun dosa kepada sesama makhluknya. Tibalah kita di bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat, bulannya umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang sebelumnya didahului dengan bulan rajab, yaitu bulannya Allah SWT dan bulan sya’ban yaitu bulannya Nabi SAW.

Pada bulan Ramadhan, masa menjadi kepompong, kita mengisinya dengan menahan lapar dahaga, menahan hawa nafsu, sholat tarawih, tadarus Al Quran, sholat tahajud, shodaqoh, serta amalan-amalan lainnya. Memang semua itu dirasa berat, akan tetapi bagi seorang ‘abid atau ahli ibadah, tentunya akan begitu menikmatinya dan tak mensia-siakan sejengkal waktu pun, karena semua amal ibadah akan dilipatgandakan pada bulan tersebut, bahkan tidurnya orang berpuasa dianggap sebagai amal ibadah yang berpahala. Imam Junaid, sang Sufi terkemuka dari Baghdad berkata, “Sebaiknya salah seorang diantara kalian menahan perutnya dalam keadaan lapar jika ingin menikmati lezatnya bermunajat kepada Allah SWT,”.

Indonesia adalah negara besar dengan beragam suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan beragam agama, Islam, Hindhu, Budha, Kristen Protestan, Kristen Katholik dan Konghuchu. Tentunya hal ini akan mempengaruhi secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya yang ada di Indonesia. Hal ini merupakan anugerah yang besar dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang saat ini persatuan antar sesamanya masih terjaga sampai saat ini. Sebaliknya, hal ini jika tidak terurus secara sempurna akan menimbulkan konflik antar sesama. Indonesia adalah negara dengan muslim terbesar sedunia di abad ini.

Berdasarkan hasil sensus tahun 2010 bahwa 87,18% 237.641.326 penduduk Indonesia adalah pemeluk islam. Negara Indonesia adalah negara yangberdasarkan Pancasila dengan menghormati perbedaan agama, yang tercantum dalam pasal 29 ayat 2 dengan bunyi, “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu,”.
 Dari sini dijelaskan bahwa setiap warga negara memiliki agama dan kepercayaannya sendiri tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun. Dan tidak ada yang bisa melarang orang untuk memilih agama yang diyakininya. Dalam konsep islam kita mengenal dengan ayat Alquran yang berbunyi, “Laa ikroha fiddiin, yang artinya tidak ada paksaan dalam memeluk agama”.

Masing-masing agama mempunyai proses dan cara beribadah sendiri-sendiri sesuai dengan ajarannya. Sehingga tidak seorangpun warga negara Indonesia diperkenankan untuk melarang pemeluk suatu agama untuk beribadah. Supaya tidak terjadi konflik-konflik yang tidak diinginkan apalagi konflik agama, padahal Agama mengajarkan kasih sayang dan perdamaian.

Saat pelaksanaan ibadah sholat syawal 2015 di Tolikara, terjadi kerusuhan pelarangan sholat idul Fitri dengan pembakaran mushola oleh sekelompok pemuda di ujung timur Indonesia. Jika kita melihat dari bingkai kacamata UUD 1945 jelas hal ini melanggar aturan tentang kebebasan beragama sesuai ajaran masing-masing. Di jaman modern yang serba cepat menangkap informasi ini, kasus ini secara cepat tersebar ke berbagai penjuru dunia, bahkan informasi ini belum jelas adanya, dan diperlukan penelusuran yang lebih lanjut.

Sehingga ada sebagian umat islam yang ingin membantu dengan berjihad membantu muslim di Tolikaradan ada juga yang ingin membalasnya meski disana ada aparat pemerintah seperti TNI dan POLRI. Sehingga riuhlah di media-media berita tentang kejadian ini pada awal syawal lalu. Untungnya perkara ini cepat diselesaikan dengan tokoh agama setempat dan juga pemerintah, Sehingga konflik tidak berkelanjutan secara terus-menerus. Menurut detik.com, Perdamaian sudah digelar diwakili Pemimpin umat GIDI yang diwakili Pdt Yunus Wenda dan Ustadz H. Ali Muktar mewakili umat muslim bersalaman.

“Kami minta maaf telah menyakiti hati saudara-saudara kami umat muslim. Ini karena kekhilafan untuk itu mohon permasalahn ini cukup disini saja. Kita harus bersatu kembali seperti yang lalu,” Kata Pdt Yunus Wenda.  Ucapan ini disambut baik ustadz Ali Muktar, dia juga minta maaf atas apa yang sudah terjadi, dan dia berharap kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi di Tolikara ini.

Bisa jadi kejadian ini merupakan ujian dari Allah SWT. bagi umat Indonesia setelah Ramadhan. Hikmah dari kejadian ini adalah janganlah kita menodai kesucian kita yang telah menjadi kupu-kupu cantik setelah melalui tahapan bertapa menjadi kepompong, sehingga kita menjadi ulat lagi. Dimana pada saat bulan puasa kita dilatih bersikap sabar, menahan hawa nafsu, menjaga amarah, menjaga ucapan dusta. Kemudian datanglah cobaan Tolikara, lantas kita berteriak-teriak dengan cacian dan makian, kemudian ingin membalas dengan yang serupa.

Kemanakah sikap sabar kita yang dilatih selama Ramadhan? Sudahkah kita menjadi kupu-kupu yang cantik? Apakah kita akan kembali menjadi ulat lagi?

Sebagai kupu-kupu cantik sudah cukuplah ucapan maaf dan mari kita bangun perdamaian bersama.Sayyidiina Umar bin Khotob berkata, “Aku memikirkan tentang segala bentuk rezeki, namun tidak kutemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar,”

Semoga hal ini dapat dijadikan pelajaran, Walhasil sekarang kerukunan antar umat beragama di Tolikara sekarang semakin baik, saling berangkulan antar umat beragama, terbukti dengan dihibahkannya tanah umat Kristen tolikara untuk mushola (cnnindonesia.com). Dan juga bantuan dana dari umat muslim dimanapun berada untuk memperbaiki mushola yang terbakar.

Di sisi lain kedua ormas terbesar Indonesia pada awal bulan Agustus 2015 ini mengadakan Muktamar ke-33 untuk Nahdhotul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur dan Muktamar ke-47 di Makassar, Sulawesi Selatan untuk Muhammadiyah. Kedua lembaga tersebut merupakan salah satu tempat berlabuh bagi kupu-kupu yang cantik. NU dan Muhammadiyah bisa dibilang lembaga islam yang ngemong Bangsa Indonesia ini dan berkharakter moderat. Walaupun isu-su atau fitnah bertebaran dimana-mana tentang muktamar ini, semoga kupu-kupu cantik tetap menjadi cantik.

Misalkan di NU sempat terjadi kegaduhan selama Muktamar, Alhamdulillah bisa diredam dengan tangisan Gus Mus dan walaupun di Makassar sempat terjadi bom akan tetapi tidak sedikitpun mengganggu jalannya Muktamar. Selamat bermuktamar semoga menghasilkan pemimpin yang menjadi kupu-kupu cantik. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -