Resume DNA Politik Seorang Jimmy

OPINI
Oleh: Asep R. Sundapura
Senin (27/7/2015)

Cukup menarik mencermati pergerakan politik Ahmad Zamaksyari (Jimmy) dalam pilkada tahun ini. Saya melihatnya sebagai seorang politisi berjiwa fighter, speed thinking atau cepat mengambil keputusan dan tegas. Dengan kualitas seperti itu dirinya mampu terus bermain dalam sengitnya pencalonan, tanpa harus kehilangan momentum, meski dinamika politik yang berkembang masih belum memberinya pilihan pasti.

Dibandingkan yang lain, Jimmy sebenarnya memiliki persiapan yang lebih baik. Dia melakukan sosialisasi pencalonannya dari jauh-jauh hari dan pergerakannyapun cukup massif. Kita tentu masih ingat dengan program Ngadu Bakonya serta differensiasi spanduknya dimana saat semua orang ramai dengan pencalonan pileg, dia sendirian mendeklarasikan rencana pencalonna bupati. Kesiapan Jimmy juga ditunjang dengan ketersediaan kendaraan politik yang jelas dengan PKBnya, serta elemen-elemen NU yang punya keberpihakan kepadanya.

Untuk perkara lainnya seperti finansial dan pengalaman politik dia juga tak perlu diragukan. Sementara jaringan pemilih yang sudah terbentuk di dapilnya cukup terukur dengan keberhasilannya dalam pileg. Jimmy juga punya popularitas yang lumayan tinggi. Ditambah lagi dia merupakan putra daerah, yang meskipun isyu primordial tersebut tidak terlampau tinggi dalam mengerek elektabilitas, tapi menjadi point tersendiri bagi sebagian warga Karawang.

Dari kacamata politik an sich, Jimmy merupakan seorang politisi sejati. Dia mampu bermain sesuai situasi. Kadang ceroboh. Terbuka. Gaya politiknya cenderung vulgar dan mudah terbaca lawan. Tetapi kecenderungannya dalam menerapkan prinsip dasar dunia politik yang menafikan adanya kawan dan lawan abadi, membuatnya selalu berada dalam pusaran dinamika pilkada sekarang ini.

Kita memang masih belum tahu apakah Jimmy akhirnya bisa ikut bertarung dalam Pilkada nanti atau tidak. Dan jika pada akhirnya Jimmy bersanding dengan Cellica seperti yang ramai diberitakan belakangan ini, tentunya hal ini akan menjadi sesuatu yang cukup menarik. Utamanya dalam menilai karakter dan gaya politik antara Jimmy dan Cellica yang sangat berbeda. Jimmy cenderung dominan, cepat, blak-blakan dan pragmatis.

Sedangkan Celica, seperti yang kita kenal selama ini, adalah sosok yang memiliki pendekatan normativ, peragu, dan punya kecenderungan akomodatif yang kuat. Ada kemungkinan jika pasangan ini akhirnya terbentuk dan terpilih, maka Jimmy bakal lebih mendominasi kepemimpinan di Gedung Singaperbangsa. Tetapi jika Cellica ingin lebih mengamankan tiket menjadi bupati Karawang selanjutnya, maka menjadikan Jimmy sebagai Cawabup sepertinya memang terlihat lebih menjanjikan dibandingkan dengan stok Cawabup lainnya yang Cellica punya.

Jika pasangan Cellica-Jimmy terbentuk dan koalisi akhirnya terdiri dari Demokrat, PKS, PAN, PKB dan PPP tentu akan membuat bandul politik lebih bergeser lagi pada Cellica.

Hal ini bukan semata-mata bergabungnya kekuatan nasionalis religius di tubuh Demokrat dengan Islam moderat-tradisionalis di kubu parpol pendukungnya – isu demokrasi yang jelas-jelas tidak berlaku di Karawang -  tetapi karena popularitas Cellica yang akan lebih terdongkrak dengan sokongan kongkret Jaringan Jimmy yang sudah terbentuk lama, apalagi jika Jimmy berhasil melakukan penetrasi lebih riil di tubuh masa NU Karawang, dan menggerakan potensi jaringannya yang merata termasuk konstituen PKB kemarin. Sesuatu yang belum bisa diberikan Cawabup partai pendukung lainnya untuk memuaskan kalkulasi politik Cellica.

Jika melihat hasil pileg kemarin, maka total raihan suara yang berkisar di angka 33 % dari parpol koalisi memang menyiratkan belum amannya posisi pasangan ini. Terlebih lagi gabungan koalisi dibawah Saan Mustofa yang raihannya lebih besar (37%) serta pengalaman politik Golkar yang sudah sangat teruji dan konsistensi jaringannya.

Tetapi karena loyalitas partai terbilang rendah dalam konstelasi politik pilkada maka pasangan Cellica-Jimmy boleh sedikit senang dengan unggulnya popularitas Cellica yang melebihi ketokohan seniornya, Saan Mustofa. Hanya saja jika popularitas itu tidak dikemas dengan baik maka jangan berharap punya dampak pada elektabilitas. Terlebih lagi jika militansi dari PKS tidak teroptimalisasi.

Sementara itu pasangan HAM-Miing juga memiliki sokongan massa militant PDI-P, dan pastinya sambil berharap ada kemurahan Dewi Portuna, bahwa popularitas seorang Miing bisa mempengaruhi persepsi massa. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -