Jalur Atas Padat Pemudik, Warga Lokal 'Ngolong' Jembatan

Melintasi kolong jembatan wajib merunduk atau kepala terbentur atap.

Masuk kolong jembatan dari arah Bojong.

Masuk kolong jembatan dari arah Tanjungpura.
KARAWANG, KarawangNews.com - Selasa (21/7/2015), hampir setiap tahun, di musim arus musik Lebaran Idul Fitri, kolong jembatan penyeberangan Sungai Citarum penghubung Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat dan Bojong, Kecamatan Cikarang dijadikan jalur alternatif bagi pemotor dari arah Rengasdengklok menuju Karawang kota dan sebaliknya. Sebab, lampu merah dan putaran jalan ditutup tolo-tolo oleh polisi, agar arus kendaraan pemudik tidak tersendat oleh pengguna jalan warga lokal.

Sedangkan, bagi kendaraan roda empat yang dari arah Rengasdengklok tujuan Karawang kota, harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk berputar arah, begitu pun pengendara dari arah Karawang kota tujuan Rengasdengklok, mereka harus menuju perbatasan Karawang-Bekasi untuk bisa berputar arah.

Sementara itu, kolong jembatan Sungai Citarum tersebut hanya ramai dilintasi di hari mudik dan balik mudik lebaran, selama tolo-tolo masih melintang di lampu merah Tanjungpura. Bahkan, kolong jembatan ini memang bukan peruntukan dilintasi kendaraan, mengingat tinggi jembatan yang rendah, sehingga pemotor harus merunduk saat melintasi kolong jembatan beton tersebut, jika tidak kepala akan 'kejedot'.

Selain itu, lintasan tanah di kolong jembatan yang tidak rata ini membuat pemotor harus ekstra hati-hati, sebab jalan yang turun naik bisa membuat kepala terbentur dinding atas kolong jembatan.

Kolong yang rendah dan sempit ini dimanfaatkan warga sekitar untuk mengais rejeki sekaligus membantu pemotor yang melintas, mereka mengatur keluar masuk puluhan motor yang sekali masuk ke kolong jembatan itu.

Warga sekitar bekerja bersama untuk mengatur arus lalu lintas di kolong jembatan itu, satu orang berjaga menadahkan keranjang uang berharap pemotor memberi uang dengan sukarela tanpa tarif khusus, sedangkan beberapa orang lainnya berjaga buka-tutup kolong jembatan, jika kendaraan yang akan melintas terlalu padat.

Diakui sejumlah pemotor, mereka melintasi kolong jembatan ini untuk mempersingkat waktu tempuh, dibanding harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk berputar arah. Namun begitu, selama melintasi kolong jembatan ini pun banyak pemotor yang kurang nyaman, sebab kolong tersebut tidak tinggi, ditambah jalan tanah yang bergelombang.

Memang, kolong jembatan ini bukan untuk dilintasi motor, tetapi hanya digunakan saat darurat seperti di hari lebaran Idul Fitri saja seperti ini. (spn)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -