Nace Permana, Budak Angon Menuju Bupati

KARAWANG, KarawangNews.com – Calon Bupati Karawang, Nace Permana bagian dari salah satu politisi muda diantara sejumlah dereran calon bupati lainnya yang mayoritas mantan pejabat dan memiliki kemampuan financial maksimal. Bagi Nace, meski tidak didukung finansial dan latar pejabat, dia mengaku tidak gentar bersaing, dia memiliki keyakinan dan tekad yang kuat.

“Saatnya yang muda yang berkarya,” kata Nace.

Dia bercerita, pandangan lain yang menjadi dorongannya untuk ikut bursa pencalonan bupati karena merasa prihatin, selama ini banyak masyarakat yang menjadi korban ketidakadilan atas penegakan hukum maupun ketidakadilan atas penyelenggaraan pemerintahan. Ini dilihat dari banyaknya masyarakat yang mengadu ke LSM Lodaya, organisasi yang dipimpin Nace saat ini, maka tidak heran dia banyak berteriak lantang di tengah unjuk rasa, membela hak rakyat.

“Saya mencoba mengajukan diri sebagai calon bupati Karawang, bukan didasarkan kepada kemampuan finansial dan dukungan partai politik, tetapi keinginan yang ikhlas untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Kabupaten Karawang agar lebih sejahtera dan mengoptimalkan potensi yang sudah ada,” ucapnya.

Nace kelahiran pituin Karawang 11 Juni 1976, tepatnya di di Desa Cintalanggeng, Kecamatan Tegalwaru atau daerah kandang sapi, yaitgu daerah permulaan Adipati Singaperbangsa menerima plat kuning kandang sapi gede dari Mataram untuk memimpin Karawang, yang saat ini terendam menjadi danau Jatiluhur Purwakarta.

Nace Permana anak dari seorang buruh tani sederhana yang jauh dari kemewahan. Ketika dia Sekolah Dasar (SD), setiap hari berangkat dari rumah ke sekolah dengan berjalan kaki dan beralaskan sandal jepit, karena baginya sepatu adalah barang langka yang sulit terbeli.

Untuk memenuhi uang jajan, tiap pagi berangkat membawa termos es milik tetangganya, sehingga waktu istirahat dan pulang sekolah dimanfaatkannya untuk berjualan. Setelah berjualan, Nace kecil ini selalu menggembala kambing meski hanya memiliki 1-2 ekor.

Meski serba kekurangan, tetapi semangat belajarnya tidak surut, dengan mengandalkan lampu damar, tiap malam menghafal pelajaran, maka tidak heran di sekolahnya Nace anak berprestasi dan selalu masuk rangking 10 besar. Bahkan, dia sudah aktif berorganisasi sejak sekolah dasar, yaitu dengan mengikuti Pramuka, beladiri dan kegiatan ekstrakulikuler lainnya.

Tekadnya untuk terus sekolah dibuktikan selepas SMP, dia hijrah ke kota, karena memang di sekitar tempat tinggalnya tidak ada SMA. Dia mendaftar di SMAN 4 Karawang, meski kedua orang tuanya sempat menunda melanjutkan sekolah, karena tidak memiliki biaya, tetapi tekad Nace tidak surut. Dengan kesanggupan biaya yang diberikan orang tuanya Nace tetap sekolah.

Diakui Nace, hidup jauh dari orang tua dengan segala keterbatasan tidaklah mudah, dia tinggal di rumah seorang anggota polisi tanpa biaya kost. Sebab, Nace tak sungkan sering mencuci kendaraan dan bersih-bersih rumah pemilik rumah ini.

Setelah lulus SMA dia tidak langsung kuliah, tetapi menjadi buruh tekstil beberapa tahun, bahkan sempat menjadi security di salah satu kawasan industri. Namun, tekad kuliahnya menggebu, sehingga pada tahun 1996 dia nekad kuliah di FISIP UT UPJJ Bandung meski tidak tamat hanya empat semester karena biaya.

Pada tahun 1998 kembali nekad mendaftarkan ke UNSIKA jurusan ekonomi, karena pada saat itu jurusan FISIP belum ada. Dengan modal keaktifan berorganisasi kemahasiswaan, bahkan pernah menjabat Sekjen BEM Universitas. Modal kuliah saat itu tidak jadi halangan, karena mendapat beasiswa, bahkan Nace dikaryakan membuat bulletin kampus, serta menjadi pengawas subsidi pangan raskin di Perum Bulog.

Semakin mengeyam ilmu, dia semakin tertarik di bidang politik dan pemberdayaan masyarakat, maka pada tahun 2005 mendirikan LSM Lodaya. Komitmen mengedepankan potensi muatan lokasl terus digalakan dengan melakukan kegiatan-kegiatan tradisi budaya kesundaan serta melakukan pembinaan kader jejaring Lodaya maupun masyarakat binaan masyarakat desa hutan LMDH, kerjasama dengan Perum Perhutani KPH Purwakarta unit III Jawa Barat yang saat ini memiliki 6000 kepala keluarga untuk Kabupaten Karawang dan total binaan TPM Jawa Barat dan Banten sebanyak 500.000 kepala keluarga. Atas kerja kerasnya melakukan pembinaan terhadap  masyarakat pada tahun 2009, dia mendapatkan kesempatan study banding ke Korea Selatan.

Untuk melengkapi keilmuan di bidang politik, pada tahun 2011 dia kembali kuliah di Universitas Mercubuana Jakarta jurusan Magister Komunikasi Politik dengan mengambil judul penelitian  ‘Komunikasi Politik Kepala Daerah Dalam Merekontruksi Konflik Politik Antara Bupati dan Wakil Bupati’, dengan mengambil studi kasus kepala daerah Kabupaten Karawang hasil Pemilu 2010.

“Keberanian saya mengajukan diri sebagai calon bupati Karawang bukan didasari keinginan berkuasa, tetapi didasari pada niat yang luhur untuk berbakti, merubah aspek-aspek yang dirasa banyak permasalahan, sebab masyarakat kini belum merasakan fungsi keberadaan pemerintahan seutuhnya,” ungkapnya. (rls/spn)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -