Bulog Karawang Klarifikasi Beras Raskin Palsu


KARAWANG, KarawangNews.com - Bulog Karawang mengumpulkan para kepala desa dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) se-Kabupaten Karawang, Selasa (26/5/2015) siang di Aula Husni Hamid, Pemda Karawang. Bulog bersama peneliti pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengklarifikasi beras raskin yang beredar di desa-desa tidak terindikasi beras palsu, melainkan beras forti, yaitu beras hasil rekayasa Bulog yang mengandung vitamin dan mineral untuk kesehatan warga miskin.

Pertemuan ini dilakukan Bulog Karawang setelah warga di beberapa desa berusaha mengembalikan beras miskin yang disuplai dari Bulog. Seperti di Desa Pancakarya, Kecamatan Tempuran, sebanyak 4,1 ton beras miskin dikembalikan kepada Bulog, sebab warga dan aparat desa menganggap beras tersebut tercampur beras palsu berbahan plastik, seperti yang heboh di media massa saat ini.

Padahal, beras yang dianggap palsu itu merupakan beras premix, yaitu beras dari menir yang dicampur dengan berbagai macam vitamin, mineral, kalsium, B1 dan B2, sehingga bentuknya berbeda sendiri dari beras umumnya. Wajar saja dianggap beras palsu, sebab aparat desa dan warga tidak menerima sosialisasi soal ini, sehingga timbul kekhawatiran raskin yang disalurkan merupakan beras palsu berbahan plastik.

Kepala Bulog Karawang, Moh Alexander menjelaskan, pihaknya ditugaskan oleh Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) untuk mencampur dan menyalurkan beras forti, perbandinganya setiap 1 kg beras forti dicampur dengan 100 kg beras raskin. Hingga akhir Mei 2015 ini, Bulog Karawang sudah menyalurkan sebanyak 421 ton untuk 50 dari 309 desa se-Kabupaten Karawang.

"Kita pilih 50 desa yang kemiskinannya tinggi," kata Moh Alexander.

Dijelaskannya, pencampuran beras raskin dengan beras forti itu tujuannya untuk mengurangi penyakit anemia yang banyak diderita masyarakat miskin, dia berharap beras forti ini bisa meningkatkan kesehatan bagi masyarakat miskin yang mengkonsumsi raskin.

Diakuinya, beras forti ini telah disosialisasikan kepada Pemda Karawang melalui PPL, tetapi akibat rotasi PPL dengan tugas berbeda, menyebabkan sosialisasi tersebut tidak sampai ke masyarakat, sehingga terjadi kekhawatiran warga miskin yang tidak mengetahui tentang beras forti. Selama ini warga menduga Bulog ceroboh, karena memberi beras palsu kepada mereka.

"Pemda sudah ditugaskan menunjuk PPL untuk mensosialisasikan (beras forti, red), tetapi akibat ada rotasi PPL dengan tugas yang berbeda, beras forti tidak tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat," kata dia.

Di tempat sama, Dosen Peneliti Fortifikasi Pangan IPB, Drajat Martianto yang menjadi pembicara di acara pertemuan ini memaparkan, tujuan fortifikasi raskin yaitu untuk meningkatkan kadar zat gizi raskin, juga untuk meningkatkan asupan zat besi, zinc, asam folat, thiamin, niasin, dan Vitamin B 12 pada Rumah Tangga Miskin (RTS). Kemudian meningkatkan status gizi dan menurunkan prevalensi Anemia Gizi Besi (AGB) dan dalam jangka panjang membantu meningkatkan produktivitas kerja juga mengentaskan kemiskinan.

"Kadar beras forti ini mengandung zat besi 80 Mg, zinc 30 Mg, thiamin 6.4 Mg, asam folat 130 Ug, vitamin B12 10 Ug dan niasin 60 Mg. Penambahan zat gizi pada raskin ini untuk menanggulangi dan mencegah Anemia Gizi Besi (AGB)," kata Drajat.

Di akhir pertemuan ini, Asda II Pemkab Karawang, Hadis Herdiana menyatakan, kini masyarakat Karawang tidak perlu risau dengan raskin yang dibagikan Bulog, sebab beras yang semula diduga beras plastik itu ternyata beras forti berbahan beras asli yang dicampur dengan mineral dan vitamin.

"Mulai hari ini, tidak perlu khawatir lagi tentang beras plastik, sebab yang diduga beras plastik pada raskin itu nyatanya adalah beras forti. Dengan ini saya nyatakan, Karawang bebas beras palsu atau beras plastik," kata Hadis, di hadapan puluhan para kepala desa dan PPL. (spn)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -