Solidaritas Bangsa Asia Afrika Melawan Privatisasi Air

Warga Menulis
Oleh: Bandung People Forum

Rabu, 22 April 2015.

Berdasarkan data dari PBB tahun 2014, terdapat sekitar 1,2 miliar orang hidup di daerah langka air dan diperkirakan pada 2025 angka tersebut akan membengkak menjadi 3,5 miliar jiwa atau hampir separuh penduduk dunia akan mengalami kelangkaan air. Berdasarkan proyeksi PBB, pada tahun 2025 sekitar 2,8 miliar penduduk yang tersebar di 48 negara di dunia (40 negara diantaranya ada di Asia dan Afrika) akan mengalaminya. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 748 juta masyarakat dunia masih kekurangan air bersih. Sebanyak 90 persen di antaranya tinggal di daerah sub-sahara Afrika dan Asia. Masih banyak dari mereka yang belum menggunakan air minum yang baik dan bersih.

Saat ini, air kemudian menjadi barang langka dan mahal di tengah sumber air yang melimpah ruang. Vandana Shiva telah menuliskan dengan gamblang bahwa dunia dihadapkan pada perang air' atau 'Water Wars'. Di Indonesia sendiri diperkirakan 80 perusahaan korporasi transnasional (Danone Perancis, Cocacola, lyonesse, Aetra dll) telah menguasai sektor air dan ribuan perusahaan dalam negeri  mengusahakan air dari sumber-sumber mata air, air permukaan dan air bawah permukaan tanah.

Keluarnya Putusan MK yang membatalkan Undang-Undang No 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air merupakan kemenangan bangsa Indonesia dalam melawan imprealisme/penjajahan dan penguasaan  air di bumi Nusantara. Bagi Indonesia, kemenangan  ini dapat menjadi pijakan ke depan dalam memastikan air sebagai hak asasi manusia dan membangun dan menata sistem tata kelola air yang lebih adil dan memihak kepentingan publik/warga sebagaimana mandat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Bagi bangsa Asia dan Afrika, peristiwa ini harus menjadi inspirasi bangsa Asia Afrika melawan penjajahan air oleh negara sehingga patut untuk disebarluaskan ke seluruh dunia.

Bersamaan dengan momentum Hari Bumi dan penyelenggaraan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) tanggal 19-24 April 2015 di Bandung yang akan dihadiri oleh 109 Negara Asia dan Afrika adalah salah satu ruang strategis bagi publik untuk menyuarakan kemenangan rakyat Indonesia ini kepada dunia khususnya negara-negara di Asia dan Afrika. Agar gelora perjuangan bangsa bangsa Asia dan Afrika dalam melawan imprealisme air khususnya dan imprealisme pengelolaan sumber daya alam umumnya kembali hidup.

Dalam Momentum Hari Bumi dan KAA di Bandung Indonesia, maka koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Bandung People Forum menyelenggarakan peringatan Hari Bumi Bangsa Asia Afrika Yang Bertemakan Air Untuk Publik, Membangun Solidaritas Bangsa Asia Afrika Melawan Privatisasi Air di Dunia. Tujuan dari penyelenggaraan hari Bumi Asia Afrika ini adalah
1. Menyuarakan perjuangan rakyat melawan kebijakan dan praktik-praktik privitasi air di Asia dan Afrika
2. Membangun kesadaran bersama dan solidaritas bangsa Asia dan Afrika dalam melawan segala bentuk penjajahan sumber daya alam di dunia, dimana Bangsa Indonesia kembali memimpin dunia
3.   Mempublikasikan esensi Putusan MK tentang pembatalan UU Sumber Daya Air dan sekaligus mengingatkan Pemerintah RI untuk menjalankan putusan MK yang sudah dikeluarkan.
4.   Melakukan konsolidasi masyarakat sipil dalam mengawal kebijakan paska putusan  MK yang telah dikeluarkan.

Kegiatan yang akan dilakukan dalam peringatan Hari Bumi Bumi Asia Afrika diantaranya:
1.   Orasi dan testimoni tokoh dan warga yang akan melibatkan Mang Ihin, Acil Bimbo dan Kang Dedi Mulyadi serta warga Padarincang (kisah mengusir aqua danone), warga Korban privatisasi Palyja (kisah gugatan PTUN), warga Babakan Pari dan Manglayang yang berjuang menyelamatkan sumber-sumber air.
2.    Aksi Budaya: seni instalasi sebagai simbol air publik, melukis 200 kendi oleh Rahmat Jabaril dan Gerbong Bawah Tanah, pembuatan replika kendi berukuran besar,  longser cai dan barongsai dan Seni barong mapag cai
3.   Prosesi kearifal lokal: penyatuan mata air dari 7 mata air yang berbeda sebagai simbol air untuk publik dan perlawanan terhadap privatisasi air, Seren Tahun Jaga Seke dan penyelamatan mata air tatar sunda
4.   Arakan-arakan hari Bumi: Jampana dan Pencak Silat dari Babakan Siliwangi menuju kantor PDAM dan Balaikota Bandung

Bagi bangsa Indonesia, momentum peringatan Konferensi Asia Afrika (KA) dapat digunakan untuk memaksa agar rejim Jokowi JK dan Gubernur serta Bupati dan Walikota Se Indonesia benar benar menjalankan kemandirian ekonomi sebagai salah satu poin dari semangat Trisakti.  Jokowi JK harus menjalankan mandat putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang sudah dikeluarkan. Karena tindakan itu akan mencerminkan implementasi revolusi mental yang sesungguhnya. Merubah mental 'Jongos Imprealis' menjadi mental pemimpin yang memiliki kepribadian seorang revolusioner sejati. (*)

foto: net.
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -