Kekerasan dan Upah Minim Masih Dialami Perempuan

Opini
Oleh: Hilal Tamami
Serikat Petani Karawang (Sepetak)

Sepetak menuntut dihentikannya segala bentuk kekerasan terhadap perempuan pada peringatan hari perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret.Hari perempuan internasional merupakan hasil dari Konferensi Perempuan Internasional yang dilaksanakan lebih dari 100 tahun lalu.

Hal yang pokok dari hari perempuan internasional adalah perjuangan dan kekuatan terorganisir perempuan untuk mendapatkan hak atas upah layak dan jam kerja, hak untuk memilih dan mengakhiri diskriminasi. Hari ini, kita semua harus mengingat semangat dari 8 Maret untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh perempuan dan rakyat.

Menurut Sepetak, perempuan kerap menjadi korban kekerasan disebabkan berbagai peraturan dan kebiasaan yang berlaku. Monopoli tanah dan perampasan tanah merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan yang paling fundamental.

Kasus-kasus perampasan tanah contohnya adalah kasus perampasan tanah yang dilakukan oleh PT SAMP atau PT Agung Podomoro Land di Telukjambe, Karawang terhadap tanah tanah milik warga seluas 350 Ha dan juga tanah tanah milik warga di Desa Mulyasejati,  Kecamatan Ciampel juga Desa Medalsari, Kecamatan Pangkalan oleh Perhutani.

Perampasan tanah telah mengakibatkan perempuan kehilangan peran pentingnya dalam pertanian (pembibitan) dan kehilangan sumber makanan. Selain itu mereka pun harus rela bekerja pada tuan tanah dengan upah yang lebih rendah dibanding laki-laki.

Banyak yang kemudian terpaksa untuk melakukan migrasi, bekerja ke kota atau ke luar negeri. Bahkan, setiap tahun pemerintah mengirim dua juta buruh migrant, sebanyak 90 persennya adalah perempuan. Kemiskinan ini merupakan hasil langsung dari monopoli dan perampasan tanah.

Sepetak pun menemukan penggunaan pestisida pada pertanian menjadi bentuk kekerasan lainnya. Penggunaan pestisida ini terbukti telah mendatangkan banyak penyakit terhadap petani, hingga mengakibatkan kematian.

Bagi perempuan, alat reproduksi merekamenjadi sangat rentan. Merebaknya penyakit kanker payudara di pedesaan merupakan salah satu kontribusi penggunaan pestisida. Buruknya akses terhadap air bersih di pelosok desa tersebut, tidak adanya jaminan terhadap kesehatan merupakan bentuk kekerasan lainnya.

Sepetak memperhatikan angka kematian ibu dan bayi masih sangat tinggi, utamanya di pedesaan. Paling khas menurut Sepetak adalah kekerasan berbasiskan gender yang ada di Karawang. Kasus-kasus pemerkosaan, perdagangan perempuan dan anak, prostitusi, perbudakan putih, juga poligami merupakan kasus-kasus yang hampir terdengar setiap hari.

Bahkan, pejabat pemerintahan pun berkontribusi besar untuk jenis kekerasan ini. Perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh perempuan pun kerap bertemu dengan berbagai hambatan dan rintangan. Selain tindakan kekerasan intimidasi dan teror yang harus mereka hadapi secara langsung, serta kriminalisasi yang saat ini marak terjadi dilakukan oleh para tuan tanah dan pengusaha.

Dengan demikian, Sepetak menyatakan sikap bahwa segala bentuk kekerasan terhadap perempuan harus dihentikan, sehingga perempuan mendapatkan kesetaraan gender dan sejahtera.

Selain itu, Sepetak dengan tegas menyatakan bahwa rezim Cellica Nurrachadiana telah gagal dalam mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Karawang khususnya perempuan. Salah satu bukti, Karawang salah satu kabupaten di Indonesia yang paling banyak mengirimkan tenaga kerja non formal terbesar keluar negeri dan di Kecamatan Pakisjaya lebih dari 2.000 warganya bermigrasi ke Bantar Gebang, Bekasi hanya untuk menjadi pemulung di sana.

Untuk itu, dalam pernyataan sikap ini, kami Sepetak menegaskan, Cellica Nurrachadiana sudah tidak layak lagi memimpin Karawang hari ini dan masa yang akan datang. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -