Jaipong, Tarian Masyarakat Sunda

KARAWANG, KarawangNews.com – Kesenian yang paling popular di tahun 1974, Jaipong, kini tak lagi berjaya, kecuali hanya sebatas nama kesenian daerah dan penarinya disebut-sebut sebagai penari panggung hajatan di kampung-kampung. Dilihat, generasi kesenian Jaipong ini minim, lebih popular seni modern yang semakin mengikis jati diri daerah, khususnya di Karawang.

Oleh: Didi Ruhiyat

Namun begitu, di Kecamatan Tegalwaru yang identik dengan daerah pegunungan, Jaipong masih terasa kental, sebagai kesenian daerah Sunda yang masih melekat dan diakui sebagai kesenian asli daerah Karawang.

Pada Sabtu (28/3/2015) siang, hingar bingar suara kendang tarian Jaipong menggema di kediaman sesepuh setempat, H. Oding (53), kebetulan dia sedang memeriahkan resepsi pernikahan anaknya dan tarian Jaipong yang dipilih sebagai hiburan pesta keluarganya itu.

“Selain memeriahkan resepsi pernikahan, ini juga untuk memperkenalkan seni daerah kepada anak muda sekarang,” kata dia, kepada penulis.

Diakuinya, seni Jaipongan tidak akan punah, selama pemuda saat ini sudah kenal dengan kesenian tersebut. Sehingga, ini adalah tugas sesepuh daerah untuk terus menggelar kesenian ini dalam setiap event acara pemerintahan maupun pernikahan, agar lebih dikenal lebih dekat oleh masyarakat.

Di tempat sama, Andi menuturkan, Jaipong merupakan salah satu seni tari Sunda yang terkenal, tak hanya di Jawa Barat, tetapi sudah tingkat nasional, bahkan banyak wisatawan asing yang senang dengan tarian ini.

“Tatar Sunda yang terkenal dengan budaya dan seni, juga keramahan masyarakatnya menjadikan wibawa bagi kita sebagai orang Sunda. Untuk itu, kenapa harus malu Jaipong dipentaskan dalam resepsi pernikahan,” jelasnya.

Diketahui, awalnya tari jaipong lebih sering ditampilkan dalam konsep hiburan rakyat, artinya posisi para penari sejajar dengan penonton dan pemain kendang. Kategori ini disebut ‘tarian acak’ atau ‘ibing saka’.

Bahkan para penonton pun bisa ikut terlibat dalam tarian bersama sang penari, seperti pada seni tari Tayub atau Ronggeng. Versi lainnya dibawakan dalam format panggung dan disebut ‘tarian berpola’ atau ‘ibing pola’. Konsepnya diatur dalam seni koreografi yang dipentaskan di atas panggung dengan mengatur jarak antara penari dan para penonton.

Di masa pemerintahan orde baru, pertunjukan tari Jaipong sempat diakui secara Internasional di tahun 1974. Waktu itu penciptanya, Gugum Gumbira bersama beberapa rekan mendapatkan kehormatan untuk mementaskan para penari Jaipong dalam ajang Festival Hongkong Arts.

Berawal dari sebuah kreativitas untuk menandingi budaya Barat, saat itulah seni Jaipongan menempatkan diri sebagai salah satu bentuk kebudayaan yang membanggakan Indonesia. Kemudian berkembang sebagai satu bentuk seni tari dari Sunda yang menjadi identitas khas di Jawa Barat. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -