GMBI Bantu Sepetak Advokasi Konflik Tanah Tiga Desa

KARAWANG, KarawangNews.com – Selasa (17/3/2015) siang, Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (LSM GMBI) menyatakan sikap membantu advokasi gerakan Serikat Petani Karawang (Sepetak) untuk membantu perjuangan warga Desa Wanasari, Margamulya dan Wanakerta, Kecamatan Telukjambe Barat yang masih berusaha menyelesaikan konflik sengketa tanah dengan PT Agung Podomoro Land (APL).

“Saya siap dengan segala risiko mendampingi masyarakat di tiga desa ini, saya berharap lembaga lain pun terpanggil dengan sikap saya ini untuk berjuang bersama membantu masyarakat bawah yang tertindas. Kita berdosa ketika membiarkan kedzoliman ini terus terjadi. Saya berdoa, dengan bergabungnya saya dengan Sepetak ini bisa kendapatkan keadilan bagi warga di tiga desa itu,” kata Ketua LSM GMBI Karawang, Muhammad Sayegi yang akrab disapa Dewa, di Markas GMBI Karawang, Jln. Bogor No. 5, Kelurahan Karangpawitan, Karawang Barat.

Dia yakin, secara perlahan masyarakat Karawang ini akan bersatu untuk mengusir pengusaha yang berkonspirasi dengan penguasa. Setelah pernyataan sikap mendukung ini, GMBI akan melakukan pergerakan dengan kekuatan penuh, diantaranya menuntut Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Karawang untuk menyelesaikan sengketa, antara masyarakat di tiga desa itu dengan APL.

“Saya pikir ini persoalan yang sederhana dan bisa diselesaikan dalam waktu dekat, tetapi kenyataannya sampai hari ini belum selesai, apalagi korbannya masyarakat bawah yang tidak punya kekuatan dibanding pemangku kebijakan dan hukum. Sehingga, saya terketuk hati untuk menyelesaikan hal ini. Kami bergabung dengan Sepetak untuk membantu advokasi,” tandasnya.

Diakuinya, selama ini Muspida tutup mata melihat kondisi sengketa lahan tersebut, bahkan masyarakat pun tidak mengetahui jelas apa yang sebenarnya terjadi di belakang semua ini. Namun begitu, GMBI berjanji akan membuka tabir itu dan merebut kembali kemerdekaan rakyat Karawang.

“Saya takut Muspida lupa, untuk siapa mereka bekerja, karena yang memberi gaji mereka adalah rakyat, bukan APL. Memang terlihat jelas Muspida selama ini cenderung membela pengusaha dibanding rakyatnya yang tertindas. Saya akan membantu pergerakan ini, semua akan terselesaikan jika perjuangan dilakukan dengan ikhlas. Bagi saya, kemerdekaan rakyat kecil tidak bisa diukur oleh materi,” ujarnya.

Kata Dewa, sebelum GMBI Karawang menyatakan sikap ini, dia sudah melakukan komunikasi dengan GMBI di semua daerah, sehingga ketika Karawang tidak mampu menghadapi APL, maka GMBI se-Indonesia akan turun membantu perjuangan masyarakat tiga desa di Telukjambe Barat itu.

“Sesuai khitoh kita, rebut kemerdekaan rakyat Karawang,” tandas dia.

Di tempat sama, warga Desa Margamulya, Udam menjelaskan, pada tanggal 24 Juni 2014 lalu itu bukan eksekusi tanah, tetapi perampasan tanah yang dilakukan oleh Brimob.

“Kami sudah lelah, sampai saat ini belum ada realisasi untuk menyelesaikan tututan masyarakat, hukum jadi tumpul ke atas dan tajam ke bawah,” kata dia.

Ketua Umum Sepetak, Hilal Tamami menyambut gembira pernyataan Muhammad Sayegi yang secara tegas siap bergerak bersama Sepetak apabila kejahatan ini terus dibiarkan pemerintah.

Kata dia, Sepetak perlu memiliki front persatuan perjuangan masyarakat Karawang dalam mengusir penjajah perampas tanah di bumi Karawang tercinta ini. Hilal pun berjanji akan mengerahkan seluruh massanya bersama dengan GMBI apabila dalam sepekan kedepan Muspida tidak menindak APL.

“Bagi Sepetak, persoalan tanah petani yang dirampas APL bukan semata-mata isu eksklusif Sepetak sebagai sebuah serikat tani, tapi ini isu bersama masyarakat Karawang dan nasional,” kata Hilal. (spn)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -