Pasar Rengasdengklok Dibiarkan Rusak

KARAWANG, KarawangNews.com – Pemerintah Kabupaten Karawang tak pernah punya solusi mengatasi kesemerawutan Pasar Rengasdengklok. Pasar yang ada sejak zaman penjajahan Belanda ini tak mengalami perkembangan yang signifikan hingga kini, malah kondisinya semakin rusak.

Pantauan penulis, ribuan pedagang berjejal di tiap trotoar jalan dan sudut kota, hingga di gang sempit. Jalan raya pun rusak berlubang dan jadi kubangan air di musim hujan, ditambah bau busuk sampah sayuran yang menyengat. Kondisi ini bukan rahasia umum, semua pejabat hingga bupati dan gubernur pun mengetahuinya, tetapi mereka tak pernah memberi solusi untuk memperbaikinya.

Secara ekonomi, kondisi pasar kumuh di Rengasdengklok ini tidak mempengaruhi keuntungan para pedagang, bahkan harga jual pun tetap mengikuti harga pasar nasional, semisal harga cabe merah yang naik di Hari Raya Lebaran dan harga sembako lainnya yang kerap mengikuti langkah harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Namun begitu, pasar yang tidak nyaman pun jelas membuat pedagang sendiri gelisah, apalagi bau sampah menyengat yang menusuk hidung mereka setiap hari selama jualan di pasar. Selain itu, minimnya ruang lapak sering memaksa pedagang menggelar tikar di tengah jalan, sehingga badan jalan 6 meter hanya tersisa 3 meter oleh pedagang. Sehingga, ini jualan yang dipaksakan, memaksa orang lain untuk mengalah. Alasan pedagang melakukan ini karena urusan perut.

Angga (kiri), Uday dan Pancahadi.
Menanggapi hal ini, Wakil Sekretaris LSM Gibas Karawang, Angga didampingi Biro I LSM Gibas Karawang, Uday Sudar angkat bicara, pemuda Rengasdengklok ini setuju jika lahan seluas 5 hektar milik PT Kaliwangi dilanjutkan untuk dibangun pasar, supaya Jalan Raya Rengasdengklok tidak macet dan pemerintah pun bisa menata kota dengan fasilitas umum, termasuk menciptakan ruang terbuka hijau.

“Baiknya rencana pasar harus diteruskan, untuk mengatasi kemacetan pasar. Sebab, Rengasdengklok harusnya diprioritaskan pembangunannya, mengingat Rengasdengklok adalah kota sejarah kemerdekaan,” kata Angga, saat ditemui Selasa (10/2/2015).

Maket Pasar Rengasdengklok yang akan
dibangun oleh PT Kaliwangi.
Dia menjelaskan, lahan 5 hektar itu akan dibangun pasar di masa pemerintahan Bupati Ahmad Dadang, tetapi terhenti setelah Ahmad Dadang kalah di Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Karawang tahun 2005. Pasar pun tidak dilanjutkan bupati terpilih Dadang S. Muchtar saat itu, akibat lokasi pasar dianggap tidak sesuai tata ruang.

Akhirnya, hingga awal tahun 2015 ini isu relokasi Pasar Rengasdengklok itu pudar, seiring dengan rusaknya fasilitas Pasar Rengasdengklok yang kini semakin terlihat kumuh. Alih-alih bakal ada yang meneruskan proyek PT Kaliwangi, tetapi lagi-lagi terbentur kepentingan politik, sehingga para pedagang pun masih berjualan di trotoar dan lahan parkir pertokoan, bahkan jumlahnya semakin bertambah banyak.

Selain kepentingan politik, gagalnya PT Kaliwangi membangun pasar di lahan sawah antara Kecamatan Rengasdengklok dan Kecamatan Kutawaluya ini pun disebabkan penolakan para pedagang, sebagian pedagang enggan direlokasi, alasannya lokasi pasar baru yang kurang strategis.

“Ini tugas untuk pemerintah agar melakukan persuasive dengan pedagang di Pasar Rengasdengklok, karena mereka pun mau jika direlokasi (ke tempat yang lebih nyaman, red), pemerintah harus mendekati Ormas dan tokoh masyarakat, supaya tidak ada gejolak saat merencanakan kembali relokasi pasar,” jelasnya.

Penolakan relokasi pasar saat itu, sambung Angga, tidak semuanya disuarakan pedagang, penolakan hanya dilakukan sekelompok orang yang berkepentingan, misalnya soal uang pungut pedagang tiap hari oleh paguyubang pedagang setempat. Sebab, jika seluruh pedagang direlokasi, pungutan harian yang dilakukan oleh paguyuban pedagang itu akan hilang.

“Para pedagang siap dipindahkan dan infrastruktur akses menuju pasar itu harus dibenahi, karena sampai kapan pun Pasar Rengasdengklok saat ini tidak bisa dibangun (permanen, red), sebab lahan pasar yang berada di seberang kantor kecamatan lama adalah tanah milik PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Sehingga pasar harus direlokasi,” paparnya.

Upaya relokasi pasar ini, kata Angga, bukan menyingkirkan pedagang, tetapi banyak hal lain yang harus diperhatikan, diantaranya kemacetan yang kerap terjadi di Jalan Raya Rengasdengklok akibat padatnya pedagang di sepanjang bahu jalan, ditambah tukang becak yang parkir seenaknya di median jalan raya.

Di tempat sama, Humas LSM Laskar Merah Putih (LMP) Pancahadi Al Panji mengungkapkan, di masa peralihan kepemimpinan bupati tahun 2015 ini sudah tentu tidak ada satu calon bupati pun yang mau lantang bicara relokasi Pasar Rengasdengklok, sebab akan mempengaruhi suara mereka di Pilkada mendatang.

“Apalagi menjelang Pilkada ini, kepala daerah (Plt. bupati, red) saat ini lebih mementingkan tidak mau menciptakan konflik, karena khawatir kehilangan suara,” tandasnya. (spn)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -