Pentingnya Pendidikan Moral Bagi Anak Usia Dini

Warga Menulis
Oleh: Virly Rizkia
Universitas Negeri Singaperbangsa Karawang
Prodi S1 Bahasa Inggris

Selasa (30/12/2014)

Anak merupakan investasi yang sangat penting bagi penyiapan Sumber Daya  Manusia (SDM) di masa depan. Untuk mempersiapkan SDM yang berkualitas untuk masa depan, pendidikan merupakan salah satu hal yang penting untuk diberikan sejak usia dini, juga anak harus dipenuhi kebutuhan lainnya seperti misalnya kebutuhan akan gizi.

Usia dini merupakan masa penting, karena dalam masa ini ada era yang dikenal dengan masa keemasan (golden age). Masa keemasan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia, pada masa ini merupakan masa kritis bagi perkembangan anak. Jika dalam masa ini anak kurang mendapat perhatian dalam hal pendidikan, perawatan, pengasuhan dan layanan kesehatan serta kebutuhan gizinya, dikhawatirkan anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Pentingnya pendidikan anak sejak usia dini juga didasarkan pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14). Berdasarkan hal-hal tersebut, maka jelaslah pendidikan sejak usia dini sangat penting.

Dalam pendidikan anak usian dini, salah satu kawasan yang harus dikembangkan adalah nilai moral, karena dengan diberikannya pendidikan nilai moral sejak usia dini ini  diharapkan pada tahap perkembangan anak selanjutnya akan mampu membedakan baik buruk, benar salah. Sehingga, ia bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, ia akan berpengaruh pada mudah tidaknya anak diterima di masyarakat sekitarnya dalam hal bersosialisai.

Pengembangan nilai-nilai moral anak usia dini ini harus dilakukan dengan tepat, jika hal ini tidak bisa tercapai, maka pesan moral yang akan disampaikan orang tua kepada anak menjadi terhambat. Pengembangan nilai moral untuk anak usia dini bisa dilakukan di dalam tiga 'tri pusat pendidikan' yang ada, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

Pengembangan nilai moral untuk anak usia dini perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Sebab, anak usia dini adalah anak yang sedang dalam tahap perkembangan pra operasional kongkrit seperti yang dikemukakan oleh Piaget, sedangkan nilai-nilai moral merupakan konsep-konsep yang abstrak. Sehingga, dalam hal ini anak belum bisa menerima apa yang diajarkan guru dan orang tua yang sifatnya abstrak secara cepat.

Untuk itulah orang tua harus pandai-pandai dalam memilih dan menentukan metode yang akan digunakan untuk  menanamkan nilai moral kedada anak agar pesan moral yang ingin disampaikan guru dapat benar-benar sampai dan dipahami oleh siswa untuk bekal kehidupannya di masa depan.

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sehingga, orang tua tidak boleh menganggap pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah. Pendidikan merupakan suatu usaha manusia untuk membina kepribadiannya agar sesuai denga norma-norma atau aturan di dalam masyarakat. Setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidik merupakan suatu perbuatan sosial yang mendasar untuk pertumbuhan atau perkembangan anak didik menjadi manusia yang mampu berfikir dewasa dan bijak.

Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya di sinilah dimulai suatu proses pendidikan.
Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak didalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Hasbullah (1997) keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak dan mendidik anak dirumah.

Dalam perkembangan moral, anak di didik dirangsang oleh lingkungan dengan usaha-usaha yang aktif untuk merangsang nilai moralnya. Nilai-nilai yang dimiliki seorang anak lebih merupakan sesuatu yang diperoleh anak dari luar. Anak belajar dan diajar oleh lingkungannya mengenai bagaimana ia harus bertingkah laku yang baik dan tingkah laku yang bagaimana dikatakan salah atau tidak baik.

Salah satu lingkungan anak didik tersebut adalah lingkungan sekolah, dimana guru atau pendidik merupakan sentralnya. Guru yang digugu dan ditiru diharapkan dapat memberi dorongan, arahan dan bimbingan kepada anak didik untuk bertingkah laku sesuai denagn nilai-nilai moral. Anak didik sebagai manusia yang mudah dipengaruhi, yang sifatnya dibentuk dan dituntut olehnya untuk mengenal peraturan moral yang dianut oleh masyarakat (Ratna Indri Oktaviani, 2011: 16)

Guru dan sekolah pun dapat melakukan berbagai cara dalam mengembangkan moral yang baik bagi anak. Beberapa caranya adalah, hargai dan tekankan konsiderasi kebutuhan orang lain, ini akan mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam aktifitas membantu orang lain. Jadilah contoh perilaku prososial, sebab siswa meniru apa yang dilakukan guru. Misalnya, tindakan guru yang menghibur saat siswa stress kemungkinan akan ditiru oleh siswa lainnya. Ketika guru mengomeli semua siswa sambil berteriak-teriak, mereka kemungkinan akan menirunya dengan menerikai teman-temannya.

Berilah label dan identifikasi perilaku prososial dan anti sosial. Artinya, ketika siswa melakukan perilaku yang positif, jangan hanya mengatakan 'bagus' saja, tetapi tunjukan perilaku apa yang positif yang ditunjukan siswa tersebut. Bantulah siswa untuk menentukan sikap dan memahami perasaan orang lain. Lalu, kembangkan proyek kelas dan sekolah yang dapat meningkatkan alturisme.

Bantulah siswa untuk menyusun dan mengembangkan proyek yang dapat membantu oran lain. Proyek ini mungkin berupa kegiatan membersihkan halaman sekolah, menulis surat kepada anak yang sedang berada didaerah konflik, mengumpulkan mainan dan makanan untuk anak yang membutuhkan.

Dengan demikian, guru yang berperan sebagai fasilitator dapat memenuhi kebutuhan dan motivasi siswanya semaksimal mungkin sehingga peserta didik mampu mengikuti proses pendidikan sebaik mungkin. Dengan hal ini tentunya akan menumbuhkan moral yang baik dan sesuai denagn pandangan hidup masyarakat. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -