Seni Daerah Bajidoran Mulai Terkikis

KARAWANG, KarawangNews.com - Grup seni tari jaipong maupun bajidoran makin lama ma¬kin habis terkikis, digantikan oleh seni tari import seperti harlem shake, shuffle dance dan sebagainya. Banyak di antara grup bajidor di Karawang yang akhirnya gulung tikar. Satu di antara grup bajidor yang bertahan adalah grup bajidor Citra Jaipong, Karawang Barat.

Pemilik sanggar bajidor, Ujang Leos mengatakan, seni tari mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang, seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Perkembangan itu diiringi dengan proses penghayatan nilai artistik dan estetik di dalam berbagai bidang kesenian.

Kata dia, tari-tarian yang berkembang di Indonesia memiliki bentuk dan jenis yang sangat heterogen sesuai dengan jumlah etnis budaya yang ada. Seni tari bajidoran, merupakan sebuah bentuk pertunjukan rakyat yang terbentuk, hidup, tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat pedesaan.

“Hidup matinya bajidoran tidak terlepas dari ketergantungan pada masyarakat pendukungnya, terutama para bajidor yang dianggap sebagai salah satu penyangga utama kehidupannya serta kaum elite pedesaan yang kerap kali mengundang grup bajidoran,” kata dia.

Bajidor adalah sebutan bagi orang yang suka bajidoran, dalam arti mereka yang aktif dan ikut terjun di dalamnya. Diperkirakan pengertian bajidor muncul dari kependekan banjet atau tarian, tanji atau alat musik  dan bodor atau lawakan.

Seni tari bajidoran dalam perkembangannya lebih dikenal dengan sebutan kliningan-bajidoran. Selanjutnya, setelah masuk pengaruh jaipongan dari daerah Bandung muncul istilah baru yaitu kliningan-jaipongan atau jaipongan saja.

Dengan demikian istilah bajidoran kini jarang ditemukan lagi, karena telah berganti nama menjadi jaipongan, sebutan beberapa masyarakat setempat.

“Pertunjukan bajidoran yang hidup dan berkembang di masyarakat Karawang merupakan transformasi dari pertunjukan ketuk tilu. Ketuk tilu adalah sebuah bentuk tari pergaulan di Jawa Barat yang hidup di kalangan rakyat,” uangkapnya.

Pada awal terbentuknya tari bajidoran, kata Leos, sangat kental dengan muatan religi, mulai dari orang yang menyelenggarakan yang punya maksud tertentu, misalnya memenuhi ujar atau nadzar.

Biasanya ujaran itu karena ada suatu keberhasilan, misalnya dalam sekolah, pekerjaan dan lain-lain. Sebelum pergelaran tari bajidoran, penyelenggara berkewajiban melaksanakan persiapan-persiapan pertunjukan seperti mengadakan selamatan atau kenduri.

Kemudian menyiapkan sesaji, menyiapkan tempat pagelaran dengan segala peralatan seperti pisang, kelapa muda dan pohon tebu masing-masing dua pasang yang diletakkan di kanan dan kiri panggung. Selain itu tindakan simbolis memenuhi hampir seluruh gerak langkah serta pola-pola tarian.

“Setiap rangkaian gerak dalam tarian merupakan simbol dari suatu pekerjaan dan sikap seseorang dalam menghadapi berbagai masalah,” terangnya.

Tindakan simbolis dalam tari tersebut meminjam istilah teknisnya dalam seni tari dinamakan ekspresi. Perubahan bentuk ketuk tilu menjadi betuk baru yaitu bajidoran, melalui proses yang terus bergulir sejalan dengan perkembangan jaman.

Perubahan juga tidak lepas dari campur tangan pemerintah dengan maksud untuk membenahi kesenian agar terhindar dari tingkah laku negatif terutama kontak fisik yang dilakukan antara pria dan wanita.

“Perubahan bentuk pertunjukan bajidoran tidak lepas pula dari perubahan ma¬syarakat, yaitu dari pola hidup masyarakat agraris menuju masyarakat industri, sehingga segala sesuatu perlu diperhi¬tungkan agar mendapat keuntungan,” katanya.

Diketahui, Karawang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki bentuk kesenian yang beragam. Berdasarkan data Depdikbud, Kabupaten Karawang tahun 1997-1998 punya frekuensi pemanggungan kesenian sangat tinggi.

Sebagian besar masyarakatnya bila menyelenggarakan pesta perkawinan atau khitanan umumnya diramaikan dengan acara hiburan, seperti memutar film layar tancap atau mengundang grup kesenian dan kesenian bajidoran adalah salah satunya. (mh)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -