Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, Solusi Krisis Energi Indonesia

Warga Menulis
Oleh: Mukhlis Herwin MualifWarga Gempol Karawang, alumni Jurusan Fisika Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Sabtu (27/9/2014).

NEGARA KITA, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah kita kenal kaya dengan sumber daya alam, tanahnya subur tersebar dari Sabang sampai Merauke. Masyarakat dunia sudah mengetahuinya sejak dahulu, Bangsa Portugis Belanda datang ke Indonesia hanya untuk menguasai sumber daya alam dalam bentuk hasil perkebunan.

Secara logika sederhana, tak mungkin bangsa asing menjajah negeri ini sampai kurang lebih tiga setengah abad lamanya bila tak ada kekayaan alam di tanah air. Dewasa ini banyak negara-negara maju telah terikat dengan Indonesia, seperti Amerika menggantungkan bisnis minyak dan gasnya, Jepang dan Korea menggantungkan konsumsi minyak dan gas, serta Cina menggantungkan konsumsi batubaranya.

Secara historis eksploitasi eksploitasi sumber daya alam dimulai dari kekayaan perkebunan dan hutan, yang kemudian kekayaan sumber daya alam baik mineral maupun fosil saat ini terus dikuras sampai titik darahnya mongering, tanpa adanya usaha penghematan dan rehabilitasi yang cukup berarti.

Indonesia memiliki tambang yang melimpah dan yang belum termanfaatkan secara maksimal yaitu tambang uranium, uranium ini merupakan bahan bakar nuklir. Peristiwa terjadinya pembumihangusan Hiroshima dan Nagasaki, mungkin membuat sebagian basar masyarakat Indonesia menjadi ketakutan akan teknologi nuklir yang dianggap masyarakat identik dengan “Bom Atom”.

Sehingga, berbagai upaya untuk membangun energi dengan pembangkit tenaga nuklir selalu kandas dan tertunda–tunda, padahal sistem kemananan dan teknologinya sekarang sudah modern dan canggih, berbeda dengan teknologi pada kasus Chernobyl.

Di sisi lain, ahli nuklir di Indonesia jumlahnya sudah banyak, tersebar di berbagai instansi seperti BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) yang merupakan cikal bakal pencetus berdirinya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), sedangkan di instansi pendidikan, salah satunya pada jurusan Fisika serta ada juga yang berkarya di luar negeri.

Pada dasarnya, sumber panas yang dipakai pada PLTN merupakan hasil dari reaksi pembelahan inti atom (fisi) secara berantai dan terkendali dan terkendali, terkungkung di dalam kelongsong yang kedap udara dan air, walaupun pada temperature operasi yang cukup tinggi.

Tenaga nuklir fisi dapat dibebaskan dari reaksi neutron dengan uranium-235 yang disebut sebagai bahan bakar nuklir. Satu kilogram U-235 akan menghasilkan energi sebesar 8,212x1013. Sehingga,  energi fisi dari 1 kg U-235 akan setara dengan pembakaran batubara sebanyak 2,941x106 kg.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dapat menambahkan atau mengantisipasi kekurangan pasokan energi listrik yang ada, mengingat semakin kompleksnya kebutuhan listrik dimasa modern ini.

Selain itu, sifat-sifat energi Nuklir merupakan Energi alam yang paling fundamental, konsentrasi energi sangat tinggi, 1 gram U-235 = 3.000.000 gram batu bara (fisika/teori), volume limbah kecil, mudah dikumpulkan, diproses dan disimpan (diisolasi dari lingkungan dan manusia), pembelahan melalui reaksi inti dengan neutron tidak menimbulkan polutan organik dan anorganik (sebaliknya batubara dibakar dengan oksigen, menimbulkan polutan organic dan nonorganic yang berbahaya bagi kesehatan).

Kemudian polusi radiasi mudah diatasi dengan perisai dan sistem keselamatan lainnya hingga paparan radiasi sekitar = 0,1% sra ( satuan radiasi alam), Sumber daya energi nuklir mampu memasok energi skala besar dan untuk jangka panjang.

Melihat sifat-sifat energi nuklir yang seperti disebutkan itu, maka jika Indonesia memiliki sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, Kenapa tidak?

Selain itu, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang. Pertama, dalam bidang Pertanian diantaranya dapat dimanfaatkan untuk penelitian perbaikan varietas tamanan sorgum melalui pemuliaan tanaman dengan teknik nuklir (teknik mutasi), kemudian sumber energi atom dan nuklir sebagai salah satu inovasi teknologi untuk membantu petani menemukan atau menghasilkan benih padi unggul dengan produktivitas tinggi, tahan hama, murah dan kebutuhan airnya relatif sedikit.

Sehingga, di musim kemarau masalah kekeringan dapat diatasi, serta 15 varietas padi unggul ternyata merupakan hasil litbang BATAN dengan teknologi mutasi radiasi yaitu Atomita-1, Atomita-2, Atomita-3, Atomita-4, Cilosari, Winongo, Woyla, Merauke, Kahayan, Situgintung (padi gogo), Diah Suci, Yuwono, Mayang, Mira-1, Bestari.

Kedua, dalam bidang peternakan, salah satu manfaatnya yaitu dalam pembuatan vaksin koksivet iradiasi. Penyakit koksidiosis adalah suatu penyakit berak darah pada ayam yang disebabkan oleh bakteri Eimeria tenella atau Eimeria spesies yang lain. Pembuatan vaksin koksidiosis ini bertujuan untuk melemahkan spesies eimeria dengan radiasi gamma.

Ketiga  dalam bidang Kedokteran, penggunaan isotop radioaktif dalam kedokteran telah dimulai pada tahun 1901 oleh Henri DANLOS yang menggunakan radium untuk pengobatan penyakit tubercolusis pada kulit, serta dalam Ilmu Kedokteran Nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka berasal dari disintegrasi inti radionuklida buatan, untuk mempelajari perubahan fisiologi, anatomi dan biokimia, sehingga dapat digunakan untuk tujuan diagnostik, terapi dan penelitian kedokteran.

Sekarang ini, sedang hangat-hangatnya terjadi isu akan terjadi kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) ataupun akan dicabutnya subsidi BBM serta terjadi kelangkaan BBM. Maka sudah saatnya Indonesia mengembangkan energi terbarukan sebagai energi  alternatif penjawab kelangkaan tersebut dan yang ramah lingkungan tentunya, salah satunya yaitu PLTN.

Untuk membangun PLTN, pemerintah sudah menyiapkan tempat lokasi yang aman dari gempa, salah satunya yaitu di Muria, Jepara Jawa Tengah dan Pulau Bangka. Sehingga, jika ke depan Indonesia memilik PLTN, diharapkan dapat memenuhi kekurangan kebutuhan energi di negeri ini.

Hal ini bisa membuat semakin majunya perekonomian bangsa Indonesia serta tercukupinya sumber pasokan listrik nasional baik skala rumah tangga, industri dan bahkan dapat memperbanyak fasilitas kereta listrik seperti Negara Jepang. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -