Karawang dari Sudut Pandang Perantau

Warga Menulis
Oleh: Mukhlis Herwin Mualif
Alumni Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, tinggal di Gempol dan bekerja di KIIC Karawang


Banyak orang mengenal Karawang dengan goyangannya, yang biasa disebut 'Goyang Karawang'. Seiring berjalan waktu, Karawang didatangi ekspansi perusahaan-perusahaan pindahan dari Jakarta maupun perusahaan asing dalam program kapitalisasinya. Sehingga banyak perantau yang datang ke Karawang, diantaranya dari Aceh, Padang, Cirebon, Bandung, Tegal, Lampung, Solo, Jogja, Jawa Timur termasuk Bali.

Menurut Dosen Ilmu Sosial dan Budaya Mata Kuliah Umum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dalam kuliahnya, suatu daerah bisa disebut atau dikatakan kota jika minimal terdapat rumah makan Padang dan tukang cukur Madura. Maka bisa disimpulkan,  Karawang merupakan kota, yaitu kota kecil, karena dalam tempo waktu satu jam kita bisa mengkhatamkan area kota Karawang dengan mengelilinginya menggunakan sepeda motor.

Jika kita mencoba kembali ke masa lampau, Karawang pada masa-masa Islam juga merupakan kawasan penting. Ini terbukti dengan adanya pelabuhan Caravan yang terkenal sejak masa Kerajaan Sunda, kemudian berlanjut hingga masa Islam. Salah satu bukti nyata warisan Islam yaitu dengan terdapatnya situs arkeologi dari masa Islam di Karawang yaitu makam Syech Quro.

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata merupakan pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, sehingga bisa dirasakan suasana kota santrinya seperti pada umumnya kota-kota di Pantura (pantai utara) pulau Jawa. Alunan-alunan syair islami bisa kita dengarkan saat menjelang Maghrib, selepas Maghrib dan juga saat menjelang Shubuh,  Sebagai penggugah kalbu untuk mensucikan diri kepada Sang Khalik.

Karawang masa kini

"Hancur, sekarang terjadi kesenjangan antara si kaya dan si miskin, serta lingkungan yang tidak bersih dan tidak tertata", Ujar Ibnu Maskur, seorang perantau dari Magetan yang kuliah di salah satu Kampus di Karawang.

Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan menjadi penyebab utama, dalam hal ini seperti sampah-sampah banyak berserakan. Jika kita menengok jalanan dan juga banyaknya selokan yang mampet yang bisa menyebabkan banjir jika musim hujan tiba, sehingga dapat disimpulkan tingkat kepedulian masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih masih kurang dan perlu ada tindakan yang tegas dan cepat untuk mengatasi masalah ini.

Ini nampak berbeda jika kita bandingkan dengan KIIC (Karawang International Industrial City) yang tampak bersih serta jalan-jalan juga halus, tidak berlubang seperti jalan umum yang ada di Karawang ataupun jika dibandingkan dengan megahnya bangunan Pemerintah Kabupaten Karawang.

Kemudian masalah ketertiban seperti tertib dalam budaya antri serta tertib dalam berlalu lintas merupakan prioritas utama juga. Banyak masyarakat yang kurang peduli dalam hal antrian, ini bisa kita jumpai saat berada di kasir atau di loket-loket pembayaran. 'Maen' serobot merupakan pandangan yang lumrah, yang kadang membuat geram orang yang terbiasa antri.

Dalam hal berlalu lintas, rambu-rambu pun kadang tiada berguna serta penampakan polisi pun terkadang tiada terasa saat terjadi kemacetan.

"Karawang itu rambu-rambu lalu lintas merupakan mitos," ucap Mahardhika, seorang pekerja yang berasal dari Trenggalek, Jawa Timur.

Patut diacungi jempol untuk Karawang masalah pembinaan atlet. Banyak cabang olah raga yang ada di Karawang dari olah raga rakyat seperti sepak bola dan bulu tangkis, kemudian berbagai macam bela diri, sampai olah raga bergengsi seperti panahan, anggar juga sepatu roda. Konon katanya, Karawang merupakan gudangnya atlit dari Propinsi Jawa Barat.

Sering kita jumpai orang yang berlatih sepatu roda jika kita nongkrong di Lapang Karangpawitan saat hari libur. Bisa dibilang dengan fasilitas yang seadanya dan tidak harus mewah seperti Lapang Karangpawitan, akan tetapi dapat menghasilkan atlit yang berkualitas.

Masa depan Karawang

Masih menurut Ibnu Maskur, kedepan KIIC merupakan ladang investor bagi para pengusaha serta ladang pengemplangan pajak, sehingga sudah pasti berdampak pada kemacetan yang semakin parah. Para pekerja akan semakin berdatangan dari berbagai daerah dan berbagai negara.

Berbeda dengan pernyataan Ulfah, sebagai mantan karyawan perusahaan asing di KIIC, menurutnya Karawang ke depan akan semakin maju, seiring beredarnya bandara dan pelabuhan akan dibangun di daerah ini. Pembangunan perumahan, hotel, serta mall semakin kian gencar ditingkatkan, tetapi sudah pasti dampaknya berupa kemacetan tidak dapat dihindarkan.

Sehingga jika kedepan tata kota karawang tidak ada pembenahan dan perbaikan dapat dipastikan kabupaten Karawang akan menjadi semakin semerawut, jika musim hujan akan sering terjadi genangan-genangan air dan banjir melalui luapan sungai besarnya.

Jika kita melihat di sekitar jalanan utama di Karawang, sepertinya pemerintah sudah mulai untuk membenahi jalur selokan-selokan dan semoga hal ini dapat mencegah terjadinya genangan-genangan air ataupun banjir saat musim penghujan nanti. Semoga, kedepan Karawang menjadi salah satu kota unggulan di Indonesia khususnya di Jawa Barat. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -