381 Tahun Karawang

Warga Menulis
Oleh: Mustofa Bisry
Staf advokasi Serikat Petani Karawang (Sepetak)

Minggu (14/9/2014)

HAMPIR empat abad lalu, Karawang didirikan oleh para karuhun, bukan sebuah usia yg muda bagi sebuah kota, tentunya telah banyak hal yang dilalui dari sebuah usia yang cukup panjang ini.

Pergolakan perebuatan kekuasaan pun pernah terjadi dari sejak awal Karawang berdiri, tercatat memakan korban bupati karawang Mbah Dalem Singaperbangsa yg harus menemuai ajal dengan cara dipenggal kepalanya dalam catatan kelam sejarah berdirinya Karawang.

Begitu pun dengan catatan sejarah kemerdekaan negeri ini, Karawang memiliki posisi penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Bagaimana tidak, sebuah kota kecil di Karawang menjadi sejarah terpenting dalam perjalanan panjang bangsa ini mendeklarasikan kemerdekaannya, atas desakan para pemuda progresif revolusioner yang mayoritas berasal dari gerakan pemuda kiri.

Pada waktu itu, mereka menculik Soekarno ke Rengasdengklok dan memaksa Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan bangsa ini dan sejarah pun mencatat bahwa satu-satunya wilayah Indonesia yang mengibarkan bendera merah putih secara terbuka sebelum 17 Agustus 1945 adalah Karawang, tepatnya di Kecamatan Rengasdengklok. Untuk itu, Karawang berhak mendapat julukan kota pangkal perjuangan.

Namun, setelah hampir empat abad didirikan, mampukah Karawang mensejahterakan rakyat nya, mampukah Karawang memberikan pekerjaan bagi rakyatnya, mampukah Karawang memberikan tanah bagi petani nya, itulah pertanyaan yg selalu berputar di kepala setiap rakyat Karawang dan apakah jawabannya sudah berada di benak kepala para pemimpin di Karawang?

Bukan sebuah kebetulan, jika hari ulang tahun Karawang berdekatan dengan hari agraria atau hari tani tanggal 24 Sepetember nanti. Karawang yang hampir separuh wilayahnya adalah daerah pertanian subur dan dialiri oleh pengairan teknis mulai kehilangan jati dirinya sebagai daerah lumbung padi Jawa Barat.

Pemerintah lebih gemar membagikan tanah, celakanya ada pula tanah milik rakyat yang dengan cara-cara terstruktur dan sistematis diserahkan kepada para pemilik modal, ada pula dengan cara-cara kotor dengan melibatkan kekuatan aparat bersenjata dan juga preman-preman bayaran demi memuluskan perampasan-perampasan tanah yang secara sah seharusnya adalah milik rakyat.

Ini bukan saja persoalan ekonomi, tapi persoalan budaya dan religi dan itu nyata-nyata diabaikan oleh pemerintah atas nama undang undang yang sengaja dibuat untuk memuluskan jalan para pemilik modal demi merampok haki-hak atas tanah oleh rakyat.

Miris ketika dihadapkan pada persoalan persoalan yg ada di karawang di hari ulang tahunnya ini, kasus perampasan tanah oleh PT SAMP beberapa waktu lalu yang melibatkan ribuan aparat kepolisian, juga kasus menghilangnya pupuk bersubsidi di pasaran, lalu hancurnya infrastruktur pertanian, tertangkapnya bupati dan istri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), juga kasus kematian Ketua DPRD yang menyisakan banyak pertanyaan, serta runtutan kasus-kasus yang belum selesai sampai hari ini.

Di tengah memprihatinkannya kondisi seperti ini masihkah pantas di gelar pesta-pesta yg bersifat hura-hura? (*)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -