Jurnalis Wajib Bela Rakyat Tertindas

Warga Menulis
Oleh: Fahmi

Hai Jurnalis, jika kau sudah kehabisan kata-kata menggambarkan penderitaan mereka, maka lawanlah para penindas itu dengan tulisanmu. yampaikan pesan dalam tulisanmu itu kepada penguasa, politisi, birokrat, aparat penegak hukum, calon-calon presiden yang tengah sibuk berkampanye, terutama pesan teramat penting kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa sampai detik ini bangsa kita belum merdeka.

Ribuan rakyat jelata di 3 desa dipaksa pergi dari tanah mereka setelah Mahkamah Agung memenangkan perusahaan Agung Podomoro Land dan PT. SAMP di KIIC Karawang Barat dalam sengketa tersebut. Padahal mereka sudah berada disana puluhan tahun lamanya. Lengkap dengan surat-surat yang mereka miliki.

Putus asa, kebingungan serta kekhawatiran akan masa depan tak menentu pun melanda ribuan warga. Mereka bingung akan nasib hidup anak-anak mereka kelak, jika ekskusi lahan 350 hektar itu tetap dipaksakan.

Hukum memang hukum, tapi hukum juga musti melihat sisi keadilan dan kemanusiaan, bukan melihat dengan kacamata kuda, sehingga menapikan sisi-sisi yang lain.
Mereka kini berhadapan dengan moncong senjata ribuan Brimob, kendaraan taktis, yang sudah tiba sejak 3 hari lalu. Miris, padahal mereka hanya petani kecil dan jauh dari kesan membahayakan. Mereka juga bukan musuh negara yang musti dilenyapkan.

Warga tak punya pilihan selain melawan. Mereka bahkan sudah siap mati untuk mempertahankan setiap jengkal tanah yang direbut pengusaha culas dengan menggunakan sistem dan alat-alat negara.

Hai Jurnalis, yakinilah satu pena yang kau gores menggambarkan penderitaan rakyatmu lebih dahsyat dari ribuan senjata, ataupun kendaraan taktis polisi yang mereka  bawa hari ini. Jika kau sudah kehabisan tinta untuk menulis, maka guratlah kertasmu dengan darah, karena 'kata' adalah senjata. (*)
Bagikan berita ini :
Comments
5 Comments

+ komentar + 5 komentar

Anonim
24 Juni 2014 15.40

mantab mas fahmi, harus kah negara ini terus menjajah rakyatnya!! atau mereka mau melindungi rakyatnya lewat para penjajah!!!!

Anonim
24 Juni 2014 16.30

Kami berdoa semoga pemerintahan di kota kami lebih bijaksna mengerti kami sebagai rakyatnya..
Tak lebih kakek nenek kami orang tua kami adik adik kami mencari nafkah dari tanah sendiri.
Bukakan mata batin mereka kami sedang mempertaruhkan hidup dan mati untuk mempertahan kan tempat tinggal kami dari leluhur hanya untuk 30 ribu per meter dari 350 hektr kasihinilah kami

Anonim
24 Juni 2014 17.00

Pemerintah dan Rakyat harus jalan selaras, apabila rakyat tidak taat hukum apa harus dilindungi? membela rakyat kecil juga harus sesuai ketentuan. Apa karena miskin lalu disahkan merebut dan menduduki tanah milik orang lain. Harap semua dapat berpikir secara jernih. Melakukan pembenaran terhadap sebuah kesalahan hanyalah menjadikan pembiaran terhadap suatu ketidakadilan. Bagi sang penulis, apabila tanah yang seharusnya hak mu namun diduduki orang lain, apakah anda rela semata-mata untuk membela rakyat miskin.

24 Juni 2014 23.08

had too of many factories in karawang
was too the arid and the hot
who have the money .... think over your decision before doing

Anonim
1 Juli 2014 21.24

rakyat semakin tergusur, sementara pemerintah itu untuk siapa, ada yang salah dinegeri ini
kenapa rakyat berdaulat dirampas lagi, kemiskinan adalah karena kesalahan pemerintah saat ini.

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -