Usaha Gerabah di Karawang Makin Lesu

KARAWANG, KarawangNews.com - Perajin gerabah di Karawang nyaris punah, perajin ini kehilangan generasi penerus, karena usaha ini dianggap tidak menjanjikan, hingga pemukiman di Dusun Anjun, Desa Gempol, Kecamatan Karawang timur ini yang dahulunya terkenal sebagai kampung perajin gerabah kini hanya tersisa sekitar sepuluh perajin itu pun dilakoni para orang tua.

Seiring dengan berkembangnya daerah, dari julukan Karawang sebagai kawasan agraris kini julukan tersebut berangsur punah, karena alih fungsi lahan dari kawasan pertanian menjadi kawasan industri. Hal ini juga seiring dengan hampir punahnya perajin gerabah di daerah Karawang.

Usaha yang telah di wariskan dari nenek moyang yang awalnya dilakoni secara turun-temurun dari generasi ke generasi, kini terancam tidak bisa langgeng, pasalnya usaha kerajinan ini mulai kehilangan pelakon usaha. Terbukti, dengan semakin sedikitnya perajin gerabah, padahal sebelumnya usaha ini dilakoni warga satu kampung, karena dianggap sebagai usaha yang mudah dan berpenghasilan lumayan. Namun, kini perajin itu hanya tersisa sekitar sepuluh orang saj di satu desa tersebut.

Diakui seorang perajin ini, Warta (56) saat ditemui Minggu (27/4/2014) pagi, usaha ini merosot akibat masuknya peralatan yang modern, juga pembuatan gerabah yang dianggap memerlukan proses panjang pun menjadi kendala bagi perajin, akibat sulitnya bahan baku. Selain itu, generasi saat ini tak lagi seperti dahulu, lebih memilih bekerja di pabrik dibanding harus membuka usaha gerabah.

Padahal, jika dikelola dengan menejemen baik, maka usaha ini cukup menjanjikan, misalnya dengan keahlian yang bisa dipelajari membuat satu buah gerabah coet atau pot bunga, hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit sudah terbentuk. Kata dia, satu buah gerabah pot bisa dijual dengan harga Rp 7 ribu -10 ribu , sedangkan gentong bisa mencapai harga Rp 30 ribu -  40 ribu.

Namun tidak dipungkiri, banyak kendala yang harus dihadapi para perajin gerabah ini, mulai dari minimnya modal, prosesnya yang cukup menguras kesabaran serta minimnya perhatian pemerintah terhadap usaha kerajinan ini. Sehingga wajar saja jika perajin ini nyaris kehilangan generasi penerusnya. Umumnya pekerjaan ini dilakoni oleh orang-orang tua, semua proses dilakukan secara manual mulai dari pembuatan hingga proses pembakaran.

Proses pembuatan gerabah ini yang dilakukan perajinnya yaitu harus mengolah tanah serta pasir setelah itu bahan tersebut dibentuk, kemudian dijemur di bawah terik matahari, setelah cukup kering gerabah ini masuk dapur oven yang terbuat dari susunan tanah liat yang dibentuk menyerupai tong besar persegi empat, kemudian untuk pemanasanya hanya mengandalkan kayu bakar.

Semua proses akan terganggu jika angin besar dan hujan datang, pasalnya jika hujan turun gerabah tidak bisa dikeringkan. Selain itu, proses oven juga akan sangat terganggu dan jika dipaksakan, karena jika terlalu panas akan banyak yang hancur atau pecah, mengingat ada perbedaan suhu antara kondisi suhu gerabah yang di bawah dengan yang diatas, sehingga perajin harus pintar mengatur suhu panasnya.

“Kami berharap pemerintah bisa memberikan perhatianya kepada para perajin, seperti pelatihan serta pemberian alat hingga prosesnya tidak rumit seperti yang saat ini kami miliki,” ungkap Warta. (aw)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -