Gubernur Jabar Minta Petani Jangan Jual Sawahnya

KARAWANG, KarawangNews.com - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menghimbau kepada seluruh penyeluh pertanian se-Jawa Barat supaya  terus mengingatkan masyarakat agar sawah mereka bisa dijaga meski pembangunan perkotaan terus berjalan, jika perlu kedepan bisa diciptakan pengembangan pertanian di daerah perkotaan. Ini ditegaskan gubernur di acara temu penyuluh pertanian, perikanan dan kehutanan tahun 2014, di Resto Alam Sari, Jln. Interchange Karawang Barat, Rabu (19/2/2014).

Di acara yang dihadiri sebanyak 1.500 penyuluh dari 9 kabupaten/kota se-Jawa Barat ini, gubernur menekankan agar penyuluh bisa mempertahankan sawah dan area pertanian dari pertumbuhan industri, karena dampak pertumbuhan industri ini menyebabkan lahan pertanian di Jawa Barat semakin sempit.

“Kita khawatir lahan pertanian semakin lama semakin hilang, ya masih mending nelayan menjual perahunya, tetapi kalau petani menjual sawahnya maka lahannya itu akan sulit dikembalikan lagi, makanya penyuluh diminta agar menekankan kepada para petani jangan menjual lahan sawah mereka, karena pertanian ini akan berfungsi sampai hari kiamat,” kata Ahmad Heryawan.

Jika dihitung-hitung perbandingan antara lahan pertanian dengan tambang industry, maka lahan pertanianlah yang lebih bermanfaat dan lebih kokoh keberadaannya, karena bisa dinikmati hingga ke anak-cucu di masa yang akan datang, beda dengan pertambangan yang lambat laun akan habis akibat dieksploitasi secara terus menerus. “Jadi penyuluh harus mengingatkan kepada petani, jangan sekali-sekali menjual lahan mereka," tegasnya.

Kata gubernur, Bekasi dan Karawang kini berubah menjadi lahan industri, bahkan ketika Bekasi menjadi sempit lahan industrinya saat ini, pada tahun 2017 nanti sebanyak 43 persen industri di Bekasi akan dialihkan ke Karawang. Tentu ini perlu penangan serius agar lahan pertanian di Karawang tetap terjaga, jangan sampai berkurang lagi.

“Saat ini, pertanian di Indonesia dititik beratkan di Pulau Jawa, bahkan pelabuhan pun berada di Pulau Jawa, syukur-syukur kalau industrialisasinya mengenai pertanian, tetapi jika tidak akan membahayakan lahan pertanian. Makanya investror harus ditekankan membangun industri yang berbasis pengolahan hasil pertanian,” jelasnya.

Dijelaskan Ahmad Heryawan, sisa sawah di Indonesia saat ini sekitar 8 juta hektar yang tersebar di daerah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Padahal pada tahun 1930 lalu Pemerintah Belanda punya dokumen perencanaan untuk membuka sawah di tempat subur yaitu Pulau Papua, tetapi perencanaan itu tidak bisa dilaksanakan pasca kemerdekaan bangsa ini, tetapi anehnya justru pemerintahan orde lama dan orde baru tidak mewujudkan hal tersebut, sehingga beras Indonesia masih mengandalkan beras-beras dari tiga provinsi tersebut.

“Jika ingin swasembada pangan, maka 8 juta hektar sawah harus ditambah, tempatnya tidak di Pulau Jawa saja, melainkan di daerah lain yang subur.  Jika bisa ditambah hingga 10 juta hektar, maka Indonesia tidak akan jadi pengimpor melainkan pengekspor beras," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Karawang Drs. H. Ade Swara menjelaskan, kurun 1 tahun ini sepanjang Jalan Interchange berubah dari area pertanian menjadi area perkantoran dan pemukiman yang hingga kini masih terus dibangun, meski begitu Karawang tetap berkomitmen sebagai lumbung padi nasional.

“Kita sedang persiapkan Perda (Peraturan daerah) tentang lahan pertanian berkelanjutan, sehingga sisa sebanyak 3 ribu hektar sawah di Karawang bisa dipertahankan seiring perkembangan industri yang terus tumbuh,” kata bupati. (spn)
Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Hak Cipta © KarawangNews
Template Created by Tan Erizawa | Published by ApoedCyber | Grup Facebook | Twitter @KarawangNews
- NO PLAGIAT - Dilarang mengutip naskah, mengambil foto dan banner tanpa ijin redaksi -