Home » » Butuh Perhatian Khusus Kepada Sektor Mikro Ekonomi di Karawang

Butuh Perhatian Khusus Kepada Sektor Mikro Ekonomi di Karawang

KARAWANG, KarawangNews.com – Sektor mikro ekonomi teruji mampu bertahan meski negara dilanda krisis ekonomi tahun  1997-1998 dibanding sektor lainnya seperti industry manufaktur, properti termasuk perbankan. Ini disebabkan, sector mikro ekonomi hampur tidak terpengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah-dollar. Namun, terkadang sektor ini luput dari perhatian banyak pihak.

Demikian kata Praktisi dan Dosen Mata Kuliah Mikro Ekonomi FE Unsika, juga Anggota Komisi B DPRD Karawang, H. Dedi Sudrajat S.P, MM, Selasa (23/4/2013), tak terkecuali di Kabupaten Karawang, sektor mikro ekonomi yang dianggap mampu bertahan di tengah badai krisis ekonomi ini masih belum disentuh secara khusus oleh pemerintah daerah maupun swasta.  Ini bisa dilihat berdasarkan data Terpadu Program Perlindungan Sosial bulan Maret 2012 lalu, dari total jumlah penduduk Karawang yang mencapai angka 2 juta lebih, tercatat pengusaha di sektor mikro ekonomi untuk pekerjaan primer ada 9.975 orang atau 0,45 persen, angka ini masih sangat jauh dari angka ideal negara maju, yaitu 2 persen dari jumlah total penduduknya  adalah pelaku ekonomi mikro atau usahawan. 

Kebanyakan para pelaku ekonomi ini cenderung melakukan kegiatan ekonominya bagaikan air mengair mengikuti arusnya, tidak ada spesialisasi ataupun kekhususan perlakuan untuk merubah target pendapatannya.  Mereka yang bergerak di sektor ini lebih banyak, karena faktor keturunan dan keterpaksaan, bukan merupakan hasil ‘cetakan by desain’. Usaha yang dilakukan di sektor keturunan, diantaranya pedagang makanan, obat-obatan, penjual ikan hias, buah-buahan, percetakan termasuk bengkel. Usaha ini sebagian besar dari warisan, setelah orang tuanya sudah tidak ada atau sudah tidak sanggup lagi menjalankan usahanya, merekalah para keturunannya yang melanjutkan dengan manajemen pengelolaan yang biasanya tidak jauh berbeda dengan para pendahulunya.

Sedangkan mereka yang menjalankan kegiatan ekonomi ini berawal dari kondisi ‘keterpaksaan’, karena sulitnya mencari pekerjaan, melamar kerja di mana-mana tidak diterima, puluhan perusahaan didatangi, jawabannya sama “Tidak Ada Lowongan”.  Akhirnya, supaya tidak menganggur dan tidak menghasilkan apa-apa, lebih baik jualan, lebih baik berdagang, lebih baik buka usaha kecil-kecilan, meski keuntungannya terbilang lumayan.

Jadi, dua kondisi tersebut masih mendominasi latar belakang keberadaan sektor mikro ekonomi  di daerah termasuk di Kabupaten Karawang, ini menjadi ‘PR’ sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah, khususnya dinas-dinas yang bersinergi dengan sektor itu, seperti Dinas Koperasidan UKM, Disperindag, Pertanian, Peternakan, Perikanan dan ‘stake holder’ lainnya.  Dengan demikian, mindset-nya harus diruba, bagaimana supaya bisa mencetak sekaligus membina sebanyak-banyaknya para wira usahawan muda atau entrepreneur muda di Karawang. 

“Jadi memang benar-benar di ‘Create by Design’  bukan sekedar ‘ketemu di jalan’ atau membina yang sudah terlanjur jalan.  Dengan potensi sumber daya yang dimiliki oleh Kabupaten Karawang ini, saya yakin Karawang bisa mengejar harapan itu.  Saya sebagai Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Karawang yang membidangi sektor Ekonomi mikro ini, merasa terpanggil untuk membenahi ini bersama selurh ‘stake holder’ yang ada,” ucap Dedi.

Secara kebetulan, anggota dewan ini bergabung dengan komunitas Entrepreneur University Karawang, disana dia banyak berhimpun dengan para pengusaha muda yang terbilang cukup sukses menjalankan usahanya di Karawang, seperti Pecel Lele Lela, Bebek Ndut, Soto Bogor, Bale Bebek, Sop Janda, Warung Penyetan, Centuri 21, Tanaman Hias Kebon Abah, Atap Langit Desainer, Mie XP termasuk usaha yang sedang dia rintis hampir 5 tahun ini, yaitu Bimbingan Belajar dan Kursus Bahasa Inggris.

Bergesernya paradigma masyarakat terhadap fenomena ‘orang gajian’,  virus entrepreneur yang satu ini menyebar cukup bagus di kalangan masyarakat, kini pengikut mazhab ini sudah cukup banyak, mereka berpendapat, tidak mengapa tidak punya pendapatan tetap atau gajian yang penting tetap berpendapatan hasil dari usaha. 

Paradigma lainnya yang sudah mulai bergeser di kalangan masyarakat yaitu untuk menjadi pelaku ekonomi mikro atau pengusaha sukses, tidak harus menunggu usia tua,  usia muda pun bisa.  Ini pun sudah ada beberapa yang memberikan contoh di Kabupaten Karawang, sebut saja sebuah perusahaan surat kabar Harian Umum Fakta milik ‘Urang Karawang’, dia sudah menunjukan kepada masyarakat luas untuk menjadi seorang CEO (Cheef Executive Officer) perusahaan besar, tidak harus menunggu usia lanjut,  karena di usia mudanya pun ternyata bisa. Demikian juga Harian Kabar Karawang termasuk pengasuh media online KarawangNews.com dan mungkin masih banyak lagi usaha-usaha lainnya milik putra daerah. 

“Mereka adalah para pelaku sektor  mikro ekonomi riil yang berperan sebagai ‘Buffer of Crisis’ atau penyangga krisis. Putra Karawang asli ini menjadi asset tersendiri bagi Kabupaten Karawang, tinggal bagaimana mensinergikan potensi-potensi sumber daya yang ada, menjadi satu kesatuan kerja yang  harmonis.  Ada pemerintah daerah, ada sektor industri atau swasta, ada praktisi ekonomi dan ada masyarakat.  Ini yang harus kita carikan formulanya, untuk membangun masyarakat Karawang yang memiliki ketahanan ekonomi yang tangguh,” ungkapnya. (spn)
Share this article :

Poskan Komentar

 
Home | Warga Menulis | Redaksi
Copyright © 2014. KarawangNews - Mengambil naskah dan foto tanpa ijin redaksi dianggap plagiat!
Template Created by Tan Erizawa Published by ApoedCyber
Proudly powered by Blogger