H. Jazs: Karawang Kota Tua yang Akan Menemukan Kembali Kejayaannya



H. Jazs di tengah massa GMBI.
H. Jazs bersalaman dengan Ketua Umum GMBI, Fauzan.
TEGALWARU, KarawangNews.com - Rencana pembangunan pelabuhan laut di daerah Ciparage maupun bandara di Kuta Tandingan di Kabupaten Karawang memiliki alasan dan sesuai dengan catatan sejarah Karawang kuno, karena dua abad sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, Karawang sudah menjadi pusat ibu kota dan pada abad ketiga Karawang berada di bawah kerajaan Taruma Negara.


Hal itu diungkapkan Ketua PKB Karawang, H. Jazs (Jimmy Ahmad Zamakhsyari) yang datang menyampaikan materi sejarah Karawang pada acara Ulang Tahun GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) ke-11,  Rabu (27/3/2013) siang di Bumi Perkemahan, Desa Mekar Buana, Kecamatan Tegalwaru. Kata dia, kerajaan Taruma Negara menguasai hingga ke Jawa Timur, Banten termasuk Sumatra.

 "Ketika kerajaan Ming datang ke Malaka yang pusatnya di Karawang, ada 25 kapal berlabuh di Ciparage, Kecamatan Tempuran, maka wajar saja jika sekarang pemerintah pusat mau mendirikan pelabuhan di Ciparage sana. Dan Karawang ini adalah kota tua yang akan menemukan kembali kejayaannya," ujarnya.

Diceritakannya, masuknya Islam ke Karawang yaitu pada abad ke tujuh, dibawa seorang muslim yang menumpang dari 25 kapal yang berlabuh di Ciparage, penumpang muslim itu yang kini dikenal bernama Syekh Quro Pulo Bata. Kemudian, lanjut H. Jazs, dia mendirikan masjid di Pulau Jawa, masjid itu bernama Masjid Tanjungpura atau sekarang disebut Masjid Agung Karawang.

Sementara itu, Taruma Negara yang berkuasa dari abad ketiga hingga ketujuh telah mewariskan Sungai Citarum yang dibangun untuk sarana transportasi, diantaranya untuk perniagaan, supaya kapal-kapal besar dari laut bisa masuk ke Karawang dengan menyusuri Citarum.

"Sungai Citarum ini dibangun bukan untuk pengairan pertanian sawah, karena pada abad itu tidak ada lahan pertanian sawah," ungkap H. Jazs.

Setelah Sungai Citarum dibangun, sebagai bentuk syukur maka Raja Taruma Negara, yaitu Mula Warman menyembelih 1.000 ekor kerbau dan membuat empat tempat ibadah, diantaranya yang sekarang disebut Candi Jiwa di Kecamatan Batujaya. Selain itu, daerah Kuta Tandingan  diramalkan pada masa yang akan datang yaitu kota yang tidak ada tandingannya dengan kota lain se-nusantara.

Tak hanya di jaman kerajaan, kata H. Jazs, Karawang pun dipilih sebagai tempat merumuskan kemerdekaan, saat itu dipilih Rengasdengklok. Ini beralasan, karena Soekarno mengetahui Karawang merupakan kota tua dalam sejarah.

"Alasan Soekarno menulis naskah Proklamasi di Rengasdengklok, karena Karawang ini kota tua yang diakui dunia dan para karuhun. NU (Nadhlatul Ulama) dan Soekarno membentuk negara ini adalah Darussalam bukan Darul Islam, kemudian Pancasila diciptakan untuk pemersatu bangsa, ini adalah buah pikir Soekarno. Sejarah ini semoga bisa menambah kecintaan kita kepada leluhur kita," ungkapnya. (spn)

Bagikan berita ini :
Comments
0 Comments

Poskan Komentar