Kadisdikpora Karawang Paparkan Implementasi Kurikulum 2013

KARAWANG, KarawangNews.com - Upaya Disdikpora (Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) Kabupaten Karawang dalam menghadapi implementasi kurikulum tahun 2013 percepatan peningkatan mutu pendidikan Karawang sangat ditentukan empat faktor. Demikian dijelaskan Kepala Disdikpora Karawang, Drs. Agus Supriatman, pada kesempatan bicara di Forum OPD (Organisasi Perangkat Daerah) Kabupaten Karawang, Selasa (26/2/2013) siang di aula lantai III kantor bupati.

Empat faktor tersebut, pertama yaitu sistem pembelajarannya yang meliputi kurikulum, bahan pembelajaran, kewirausahaan, penyelarasan dan sistem evaluasi. Kemudian kedua, satuan pendidikannyanya yang meliputi pemenuhan daya tampung melalui USB (Unit Sekolah Baru), RKB (Ruang Kelas Baru),  rehabilitasi, peralatan dan buku serta dukungan manajemen dan  kultur sekolah.

Kemudian ketiga, pendidik dan tenaga kependidikannya, yaitu mulai penyediaan, distribusi, kompetensi, kualifikasi, sertifikasi, pelatihan, karir dan kesejahteraan sampai kepada pemberian penghargaan dan perlindungan guru. Lalu yang keempat, peserta didiknya yang dapat terlayani dengan adanya keterjangkauan, ketersediaan, kesetaraan, kualitas dan adanya kepastian serta jaminan peserta didik dapat memilih jenis, jalur dan jenjang pendidikan sesuai dengan potensi akademis, minat dan bakatnya.

Selanjutnya, kata Agus, khusus untuk sistem pembelajaran dan kurikulum pada tahun pelajaran 2012/2013, pihaknya diwajibkan mengimplementasikan kurikulum baru, yaitu kurikulum 2013. Diketahui, sejak kemerdekaaan sampai saat ini kurikulum telah mengalami perubahan hingga 11 kali perubahan dan kurikulum yang terakhir yang digunakan adalah kurikulum tahun 2006 yakni KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Pada tahun ini dilakukan perubahan kembali yaitu kurikulum tahun 2013.

“Kurikulum 2013 ini semula banyak pro dan kontra di tingkat pusat dan daerah, itu wajar, karena masyarakat belum memiliki pemahaman menyeluruh mengenai implementasi kurikulum tersebut. Selain itu, banyak pihak yang menilai kurikulum baru ini akan membebankan guru, padahal kurikulum 2013 ini justru akan mengurangi beban guru, karena guru tidak lagi dibebani untuk membuat silabus RPP dan LKS,” jelasnya.

Kata dia, beban guru akan berkurang dengan adanya buku induk (babon) yang dibuat oleh pemerintah dan pemerintah daerah, buku induk ini akan berisi tema-tema dan penjelasan. Jadi,  guru tinggal berimprovisasi sesuai dengan konteks local, sehingga guru dituntut dapat memanfaatkan konsep ‘contecstual teaching learning’.

Selanjutnya, setelah ada kejelasan pada perubahan kurikukum ini, maka pada perinsipnya para pengelola pendidikan di Karawang menyetujui adanya pengembangan kurikulum 2013 dan siap untuk mengimplementasikanya, terlebih wakil presiden dan Kemendikbud telah menyampaikannya saat rembuk nasional pada bulan Februari 2013 yang menyatakan, kurikulum 2013 ini tidak ada lagi tawar-menawar dan harus terealisasi pada bulan Juli 2013 yang implementasinya secara bertahap berjenjang dan bergilir.

Sementara itu, tema pengembangan kurikulum 2013 yaitu menghasilkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif melalui sikap, keterampilan dan pengetahuan yang terintegrasi, sedangkan alasan adanya pengembangan kurikulum 2013 ini yakni, pertama menekankan pengembangan kurikulum ini merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan.

Kemudian kedua , dalam menghadapi tantangan masa depan di era globalisasi perlu dipersiapkan upaya-upaya peningkatan mutu pendidikan. Ketiga, adanya perubahan proses pembelajaran dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu dan proses penilaian dari berbasis ‘output’ menjadi berbasis proses dan ‘output’.

Keempat perubahan KTSP, karena KTSP belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Sementara ini kompetensinya belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan dan pengetahuan. Selain itu, adanya pengembangan akademik - industri dan sosial budaya yang begitu pesat, maka dibutuhkan adanya perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Hal ini, lanjut Agus, sejalan dengan amanat Undang-undang No. 20 Tahun 2003 sebagaimana penjelasan pasal 35, kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan, ini sesuai dengan SPM (Standar Nasional Pendidikan). Dengan demikian, maka dibutuhkan kemampuan pedagogi dan psikologi untuk menunjang implementasi kurikulum 2013, harapannya SDM (Sumber Daya Manusia) dapat meningkatkan kompetensi, khususnya dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap.

“Berdasarkan hasil survey tahun 2007 di tingkat nasional, siswa Indonesia sebanyak 78 persen dapat mengerjakan soal-soal dalam katagori rendah yang hanya memerlukan hapalan saja,  sehingga perlu mengembangkan kurikulum yang menuntut penguatan ‘reasoning’. Selain itu, fenomena negatif yang mengemuka di beberapa daerah sering terjadi tauran pelajar, narkoba, korupsi, plagiatisme, kecurangan dalam ujian dan sering terjadi gejolak masyarakat. Umumnya, persepsi KTSP saat ini dilakukan terlalu menitik beratkan pada aspek kognitif dan beban siswa yang terlalu berat, serta kurang bermuatan karakter,” paparnya.

Dilatarbelakangi SDM usia produktif yang wajib didorong memiliki kompensi, maka perlu dipersiapkan tenaga pendidiknya, pemenuhan sarana prasarananya dan didukung manajemen yang efektif, yang paling utama adalah mempersiapkan kirikulumnya. Diharapkan, kurikulum ini dapat mendorong percepatan pendidikan demi terwujudnya generasi yang cerdas, produktif,  inovatif dan damai dalam intraksi sosialnya serta berwawasan ungul juga memiliki ‘akhlakul karimah’.

Selanjutnya, implementasi kurikulum 2013 tetap mengacu pada delapan standar nasional, yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi kelulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana prasaran, standar pembiayaan dan standar pengelolaan. Sedangkan perubahan KTSP menjadi kurikulum 2013 pada SNP (Standar Pendidikan Nasional) pada perinsipnya berubah pada semua elemen, baik pada standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan dan standar penilaian pada standar isi.

Khusus SD, kompetensinya dikembangkan pada tematik integratif dalam semua mata pelajaran pada kompetensi lulusan , ada perubahan pada peningkatan dan keseimbangan soft skill dan hard skiils yang meliputi aspek kompetensi yaitu sikap,  keterampilan dan pengetahuan pada standar proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi, maka pada kurikulum 2013 dilengkapi dengan mengamati,  menanya, mengolah, menalar,  menyajikan, menyimpulkan dan menciptakan  termasuk belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas tapi lingkungan sekolah dan masyarakat juga guru bukan satu satunya sumber belajar.

Adapun mata pelajaran dan alokasi waktu yang berubah adalah, kata Agus, untuk SD yang semula memiliki 10 mata pelajaran dikurang menjadi 6 mata pelajaran, ini bukan dihilangkan, tetapi ada yang digabungkan, juga jumlah jam bertambah 4 jam pelajaran per minggu, ini akibat perubahan pendekatan pembelajaran dan mata pelajaran agama ditambah 2 jam pelajaran
untuk SMP yang semula 12 mata pelajaran menjadi 10 mata pelajaran, jumlah jam pelajarannya pun bertambah menjadi 6 jam per minggu.

Di SMA, untuk mata pelajaran Agama dilengkapi dengan budipekerti dan PKN dilengkapi Pancasila, kemudian untuk mata pelajaran sejarah menjadi Sejarah Indonesia, sedangkan standar kompetensi yang harus dicapai adalah pada domain sikap yakni, siswa agar menerima,  menjalankan, menghargai,  menghayati dan mengamalkan peserta didik agar berhasil menciptakan pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, bertanggungjawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, alam sekitar serta dunia dan peradabannya.

Domain keterampilan melalui mengamati, menanya, mencoba,  menyaji dan menalar serta mencipta ini diharap peserta didik mampu menjadi pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang efektif serta kreatif dalam ranah abstrak dan konkrit pada domain pengetahuan yang dilakukan melalui mengetahui,  memahami,  menerapkan, menganalisa dan mengevaluasi, maka diharapkan peserta didik menjadi pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya, serta berwawasan kemanusiaan, kebangsaan,  kenegaraan dan peradaban.

Upaya-upaya Disdikpora Karawang dalam menghadapi perubahan kurikulum 2013 ini telah dipersiapkan program, yaitu program peningkatan mutu melalui peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan Karawang yang dalam pelaksanaannya melalui pengembangan KKG SD dan MGMP SMP, SMA dan SMK yang dikemas dengan sinergitas pengawas , kepala sekolah dan guru sesuai tugas fungsinya.

Dalam kegiatan ini dikonsentrasikan pada dua komponen, yaitu peningkatan mutu dengan dengan meningkatkan manajemen pendidikan, dengan strategi di tingkat Kabupaten akan dibentuk forum KKG SD dan MGMP SMP, SMA dan SMK, sedangkan di tingkat kecamatan dibentuk KKG SD, kemudian di komisariat dibentuk MGMP SMP dan untuk SMA-SMK dibentuk MGMP SMA dan MGMP SMK.

Sedangkan desiminasinya, setiap sekolah diwajibkan dapat melaksanakan ‘in house training’ atau MGMP berbasis sekolah dengan menfaatkan dana BOS pusat, BOS provinsi atau menggunakan BOPF Dikdasmem PNFI Kabupaten Karawang, dengan kegiatan yang dilakukan berupa ‘training’ atau ‘retraining’, sharing dan ‘workshop’,  serta sosialisai kurikulum 2013.

“Disdikpora Karawang tidak akan pernah berhenti mendorong meningkatkan kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi, serta pembayaran tunjangan sertifikasi dan uji kompetensi serta penilaian kinerja guru. Kemudian untuk mencapai standar sarana prasarana, Disdikpora Karawang terus melaksanakan rehabilitasi gedung sekolah, pembangunan RKB, penyediaan lab dan perpustakaan, serta pengadaan alat peraga dan pengadaan buku pegangan guru termasuk buku pegangan siswa,” ungkap Agus.

Disdikpora Karawang juga akan mengawal implementasi kurikulum ini di masing masing satuan pendidikan dengan memperhatikan keberhasilan kurikulum tersebut yang sangat tergantung pada kesesuaian kompetensi PTK dengan kurikulum dan buku pegangan guru juga buku pegangan siswa, karena buku tersebut sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang mengintegrasikan standar pembentuk kurikulum.
Kemudian perlu adanya penguatan peran pemerintah daerah dalam intervensi pembiayaan maupun pembinaan pengawasan pendidikan dan perlunya penguatan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah yang didukung dengan budaya sekolah yang baik. Dengan demikian, perubahan kurikukum baru ini diharapkan peserta didik dapat memiliki kemampuan berkomunikasi dan bepikir jernih serta kritis.

Selain itu, siswa pun diharap mampu mempertimbangkan segi moral dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab, bisa mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda juga mampu hidup dalam masyarakat yang mengglobal, serta memiliki kesiapan dan kecerdasan sesuai bakat dan minatnya serta memiiki rasa tanggungjawab terhadap lingkungan juga peserta didik yang memiliki kompetensi spiritual, intelektual, sosial, kinestetis dan kultural.

“Kesimpulannya, orientasi kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Dalam pelaksanaannya nanti akan memperhatikan enam pilar yaitu pilar belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni pilar belajar untuk memahami dan menghayati ilmu, pilar berkarya, pilar untuk belajar membentuk jati diri dan hidup bersama dan berguna, pilar belajar untuk terus belajar sepanjang hayat dan tidak pernah berhenti untuk belajar,” kata Agus. (spn)
Bagikan berita ini :

Poskan Komentar