Tempat Bersejarah di Karawang Tunggu Diperdakan

KARAWANG, KarawangNews.com - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Karawang telah mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk mengeluarkan peraturan daerah (Perda) tentang tempat-tempat bersejarah yang ada di Karawang, diantaranya peninggalan Syech Quro maupun hingga peninggalan Belanda.

Hal itu disampaikan Kabid Kebudayaan Disbudpar, Ayi Muhtar, Senin (11/6/2012). Menurutnya, ada 10 tempat bersejarah yang diusulkan Disbudpar kepada Pemkab Karawang untuk segera diperdakan, diantaranya, Kompleks Candi Batujaya, Kebon Jambe di Kecamatan Tegalwaru, Bendungan Walahar, Museum Gedung Juang, Masjid Agung, dua Gedung Gudang Garam di Kecamatan Tirtajaya, Kampung Sembilan di Kecamatan Banyusari dan Kantor Kecamatan Rengasdengklok yang lama.

Kata Ayi, tujuan dibuatkannya perda ini supaya semua peninggalan sejarah bisa dirawat dengan baik oleh Pemkab Karawang, karena untuk biaya perawatannya tempat sejarah tersebut belum ada, sedangkan untuk bisa merawat perlu biaya yang cukup besar, mengingat selama ini Pemkab Karawang belum menganggarkan biaya khusus tempat-tempat sejarah.

"Rancangan perda sudah diusulkan dan sedang digodok oleh tim dari Unsika. Kita berkeinginan bangunan-bangunan sejarah ini ada anggarannya untuk perawatan, sehingga bangunannya tidak hilang begitu saja," ucap Ayi.

Mengenai kompleks Candi Batujaya, Ayi menambahkan, Disbudpar Karawang dan Disbudpar Provinsi Jawa Barat pun gencar melakukan pembenahan situs peninggalan Kerajaan Tarumanagara. Hal ini dilakukan agar kompleks Candi Batujaya bisa terdaftar di UNESCO, yaitu organisasi PBB yang menaungi tentang budaya dan peninggalan-peninggalan sejarah.

Ketika dilakukan diskusi situs kompleks percandian Batujaya di Kota Bandung beberapa hari lalu, kata Ayi, pemerhati sejarah terkemuka berharap Kompleks Percandian Batujaya sudah layak masuk dalam UNESCO, tetapi harus memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan oleh organisasi tersebut.

"Candi Batujaya ini kan berbentuk kompleks, jadi kesemuanya harus bisa terbongkar. Sekarang saja ada 38 unur di komplek tersebut yang sudah terdaftar. Mungkin kalau dilakukan penelitian lagi jumlahnya lebih dari itu," ungkap Ayi. (ggn)
Bagikan berita ini :

Poskan Komentar